RSS

Sejarah Perjuangan Islam Sunan Kalijaga

I. Pendahuluan

Islam dalam penyebarannya ke Indonesia khususnya ke Jawa, tidak begitu saja, tetapi ini melalui jalan-jalan yang sangat sulit sekali. Para wali khususnya Sunan Kalijaga menempuh jalan memasukkan ajaran Islam kepada rakyat di tanah Jawa antara lain:

a. Ajaran agama itu diperkenalkan kepada rakyat dengan cara memasukkan sedikit-demi sedikit, agar masyarakat tidak kaget atau tidak menolak.

b. Mengawinkan ajaran-ajaran agama Islam dengan kepercayaan Hindu Budha

Disamping kedua cara tersebut di atas, sebenarnya masih banyak lagi hal-hal atau pun cara-cara yang ditempuh oleh Sunan Kalijaga.

Untuk lebih jelas mengenai cara-cara atau pun hal-hal yang ditempuh oleh Sunan Kalijaga dalam penyebaran Islam, saya akan mencoba untuk mengupasnya lebih dalam.

 

II. Pembahasan

A. Sejarah Kehidupan Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga lahir pada tahun 1455.[1] Beliau diberi nama Raden Mas Said atau yang bergelar “Sunan Kalijaga” yang merupakan putra dari Ki Tumenggung Wilatikta yaitu Bupati Tuban. Dan ada pula yang mengatakan bahwa nama lengkap ayah Sunan Kalijaga adalah Raden Sahur Tumenggung Wilatikta. Selain mempunyai anak Sunan Kalijaga, beliau juga mempunyai putri yang bernama Dewi Roso Wulan.

Saat Sunan Kalijaga masih kecil, beliau sudah merasakan dan melihat lingkungan sekitar yang kontradiktif dengan kehidupan rakyat jelata yang serba kekurangan, menyebabkan ia bertanya kepada ayahnya mengenai hal tersebut, yang dijawab oleh ayahnya bahwa itu adalah untuk kepentingan kerajaan Majapahit yang membutuhkan dana banyak untuk menghadapi pemberontakan. Maka secara diam-diam ia bergaul dengan rakyat jelata, menjadi pencuri untuk mengambil sebagian barang-barang di gudang dan membagikan kepada rakyat yang membutuhkan. Namun akhirnya ia ketahuan dan dihukum cambuk 200 kali ditangannya dan disekap beberapa hari oleh ayahnya, yang kemudian ia pergi tanpa pamit. Mencuri atau merampok dengan topeng ia lakukan, demi rakyat jelata. Tapi ia tertangkap lagi, yang menyebabkan ia di usir oleh ayahnya dari Kadipaten. Akhirnya ia pun pergi, tinggal di hutan Jadiwangi dan menjadi perampok orang-orang kaya dan berjuluk Brandal Lokajaya. Selain gelar tersebut sebenarnya Sunan Kalijaga juga mempunyai nama-nama lain seperti R. Abdurrahman, Syeh Malaya, Pangeran Tuban serta Jogoboyo.[2]

Pada suatu hari di dalam hutan Jadiwangi itu Sunan Bonang sedang lewat, kemudian ia dihadang dan hendak dirampok. Sunan Bonang berkata pada Sunan Kalijaga, “kelak, kalau ada orang lewat disini, memakai pakaian serba hitam, serta berselendang bunga wora-wari merah, ini sebaiknya rampoklah”. Raden Said menuruti, Sunan Bonang dibebaskan. Kira-kira tiga hari kemudian orang yang ditunggu-tunggu lewat di tempat itu. Raden Said siap menghadang orang itu. Pakaiannya serba hitam, berselendang bunga wora-wari merah. Setelah dihentikan oleh Raden Said, Sunan Bonang berubah menjadi empat. Raden Said ketakutan melihat kejadian itu dan berjanji pada Sunan Bonang untuk mengakhiri perbuatan nistanya itu. Kemudian ia bertapa dua tahun, karena beliau taat pada Sunan Bonang. Setelah bertapa Raden Said pindah ke Cirebon. Disitu beliau bertapa lagi di pinggir kali, bernama Kalijaga. Dari sinilah sejarahnya kenapa beliau bergelar “Sunan Kalijaga”. Lama kelamaan kemudian beliau diambil ipar oleh Sunan Gunung Jati.[3]

Beliau menikah dengan dewi Sarokah dan mempunyai 5 (lima) anak, yaitu:

1. Kanjeng Ratu Pembayun yang menjadi istri Raden Trenggono (Demak)

2. Nyai Ageng Penenggak yang kemudian kawin dengan Kyai Ageng Pakar

3. Sunan Hadi (yang menjadi panembahan kali) menggantikan Sunan Kaijaga sebagai kepala Perdikan Kadilangu.

4. Raden Abdurrahman

5. Nyai Ageng Ngerang.

Dalam suatu cerita dikatakan bahwa Sunan Kalijaga pernah juga menikah dengan Dewi Sarah binti Maulana Ishak, Sunan Kalijaga mempunyai tiga orang putra, masing-masing ialah:

1. Raden Umar Said (Sunan Muria)

2. Dewi Ruqoyah

3. Dewi Sofiyah[4]

Nama Kalijaga menurut setengah riwayat, dikatakan berasal dari rangkaian bahasa Arab “Qadli Zaka”, Qadli artinya pelaksana, penghulu: sedangkan Zaka artinya membersihkan. Jadi Qadlizaka atau yang kemudian menurut lidah dan ejaan kita sekarang berubah menjadi Kalijaga itu artinya adalah pelaksana atau pemimpin yang menegakkan kebersihan (kesucian) dan kebenaran agama Islam.

Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian, ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1479), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga kerajaan panjang yang lahir pada 1541 serta awal kehadiran kerajaan Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati.[5]

Pada umumnya para Walisongo namanya menjadi terkenal dengan tempat dimana wali itu dimakamkan. Tidak demikian halnya dengan Sunan Kalijaga yang makamnya berada di Kadilangu, tetapi namanya tetap terkenal dengan sebutan “Sunan Kalijaga”.[6]

B. Peran Sunan Kalijaga dalam Penyebaran Islam

Pada saat giat-giatnya para Walisongo berjuang menyiarkan agama Islam, maka Sunan Kalijaga yang termasuk di dalamnya tidak ketinggalan untuk bangkit memperjuangkan syiar dan tegaknya agama Islam, khususnya di tanah Jawa. Beliau termasuk kalangan mereka para wali yang masih muda, tetapi mempunyai kemampuan yang luar biasa, baik kecerdasan dan ilmu-ilmu yang dimiliki, maupun kondisi umur dan tenaga yang masih muda bila dibandingkan dengan yang lainnya.

Ternyata Sunan Kalijaga di dalam gerak perjuangannya tidak lepas dari penugasan khusus dan bimbingan yang diberikan oleh para sesepuh Walisongo, misalnya bimbingan yang diberikan oleh Sunan Ampel dan Sunan Bonang disamping dari pihak kesultanan Patah di daerah-daerah yang rawan tata krama, rawan tata susila dan masih kuat dipengaruhi oleh kepercayaan-kepercayaan agama Hindu dan Budha serta masih melakukan kebiasaan-kebiasaan warisan nenek moyang mereka. Karena itu Sunan Kalijaga benar-benar membanting tulang tidak hanya melakukan dakwah di suatu daerah saja, melainkan hilir mudik, keluar masuk hutan dan pegunungan, siang malam terus melakukan tugas itu. Beliau terus keliling dari daerah satu ke daerah yang lainnya, sehingga terkenal sebagai “muballigh keliling”[7] atau Da’i keliling, ulama besar, seorang wali yang memiliki karisma tersendiri diantara wali-wali yang lain, paling terkenal di berbagai lapisan masyarakat apalagi kalangan bawah. Ia di sebagian tempat juga dikenal bernama “Syeh Malaya”.

Ia dapat dikatakan sebagai ahli budaya, misalnya : pengenalan agama secara luwes tanpa menghilangkan adat-istiadat / kesenian daerah (adat lama yang ia beri warna Islami), menciptakan baju taqwa (lalu disempurnakan oleh Sultan Agung dengan Dandanggulo dan Dandanggula Semarangan, menciptakan lagu lir-ilir yang sampai saat ini masih akrab di kalangan sebagian besar orang Jawa, pencipta seni ukir bermotif daun-daunan, memerintahkan sang murid bernama Sunan Bayat untuk membuat bedug di masjid guna mengerjakan shalat berjamaah, acara ritual berupa gerebeg Maulud yang asalnya dari tabligh atau pengajian akbar yang diselenggarakan di Masjid Demak untuk memperingati Maulud Nabi, menciptakan Gong sekaten bernama asli Gang Syahadatain (dua kalimah syahadat) yang jika dipukul akan berbunyi dan bermakna bahwa “mumpung masih hidup agar berkumpul masuk agama Islam”, pencipta wayang kulit di atas kulit kambing, sebagai dalang (dari kata dalla’ yang berarti menunjukkan jalan yang benar), wayang kulit dengan beberapa cerita yang ia senangi yaitu antara lain jimat kalimasada dan dewa ruci serta petruk jadi raja dan wahyu widayat, serta sebagai ahli kata-kata seperti misalnya pengaturan istana atau kabupaten dengan alun-alun serta pohon beringin dan masjid.[8]

Diantara para wali sembilan, beliau terkenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar, seorang pemimpin, mubaligh, pujangga dan filosofi, daerah operasinya tidak terbatas, oleh karena itu beliau adalah terhitung seorang mubaligh keliling (“reizendle mubaligh”). Jikalau beliau bertabligh, senantiasa diikuti oleh para kaum ningrat dan sarjana.

Kaum bangsawan dan cendekiawan amat simpatik kepada beliau. Karena caranya beliau menyiarkan agama Islam yang disesuaikan dengan aliran zaman Sunan Kalijaga adalah seorang wali yang kritis, banyak toleransi dan pergaulannya dan berpandangan jauh serta berperasaan dalam semasa hidupnya, Sunan Kalijaga terhitung seorang wali yang ternama serta disegani, beliau terkenal sebagai seorang pujangga yang berinisiatif mengarang cerita-cerita wayang yang disesuaikan dengan ajaran Islam dengan lain perkataan.

Dalam cerita wayang itu dimaksudkan sebanyak mungkin unsur-unsur ke-Islam-an, hal ini dilakukan karena pertimbangan bahwa masyarakat di Jawa pada waktu itu masih tebal kepercayaannya terhadap Hinduisme dan Buddhisme, atau tegasnya Syiwa Budha, atau dengan kata lain, masyarakat masih memegang teguh tradisi-tradisi atau adat istiadat lama.

Diantaranya masih suka kepada pertunjukan wayang, gemar kepada gamelan dan beberapa cabang kesenian lainnya, sebab-sebab inilah yang mendorong Sunan Kalijaga sebagai salah seorang mubaligh memeras otak, mengatur siasat, yaitu menempuh jalan mengawinkan adat istiadat lama dengan ajaran-ajaran Islam asimilasi kebudayaan, jalan dan cara mana adalah berdasarkan atas kebijaksanaan para wali sembilan dalam mengembangkan agama Islam disini.

Sedang menurut adat kebiasaan pada setiap tahun, sesudah konferensi besar para wali, di serambi masjid Demak diadakan perayaan Maulid Nabi yang diramaikan dengan rebana (bahasa Jawa : terbangan) menurut seni arab. Hal ini oleh Sunan Kalijaga hendak disempurnakan dengan pengertian disesuaikan dengan alam pikiran masyarakat Jawa. Maka gamelan yang telah dipesan itupun ditempatkan di atas pagengan yaitu sebuah tarub yang tempatnya di depan halaman Masjid Demak, dengan dihiasi beraneka macam bunga-bungaan yang indah, gapura masjid pun dihiasi pula, sehingga banyaklah rakyat yang tertarik untuk berkunjung di sana.

Kemudian dimuka gapura masjid, tampillah ke depan podium bergantian para wali memberikan wejangan-wejangan serta nasehat-nasehatnya, uraian-uraiannya diberikan dengan gaya bahasa yang menarik sehingga orang yang mendengarkan hatinya tertarik untuk masuk ke dalam masjid untuk mendekati gamelan yang sedang di tabuh, artinya dibunyikan itu dan mereka diperbolehkan masuk ke dalam masjid. Akan tetapi terlebih dahulu harus mengambil air wudlu di kolam masjid melalui pintu gapura. Upacara yang demikian ini mengandung simbolik, yang diartikan bahwa bagi barang siapa yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat kemudian masuk ke dalam masjid melalui gapura (dari bahasa Arab Ghapura), maka berarti bahwa segala dosanya sudah diampuni oleh Tuhan.

Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik” berbasis salaf bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah. Ia sangat toleran pada budaya lokal, ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika di serang pendiriannya. Maka harus didekati secara bertahap; mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama akan hilang.[9]

C. Jasa-jasa Sunan Kalijaga

1. Bidang strategi perjuangan

Seperti diketahui, Walisongo di dalam menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa ini tidak begitu saja melangkah, melainkan mereka menggunakan cara-cara dan jalan (taktik dan strategi) yang diperhitungkan benar-benar, memakai pertimbangan-pertimbangan yang masak, tidak ngawur sehingga agama Islam disampaikan kepada rakyat dapat diterima dengan mudah dan penuh kesadaran, bukan karena terpaksa.

Sunan Kalijaga di dalam menyebarkan ajaran Islam benar-benar memahami dan mengetahui keadaan rakyat yang masih tebal dipengaruhi kepercayaan agama Hindu Budha dan gemar menampilkan budaya-budaya Jawa yang berbau kepercayaannya itu, maka bertindaklah beliau sesuai dengan keadaan yang demikian itu, sehingga taktik dan strategi perjuangan beliau disesuaikan pula dengan keadaan, ruang dan waktu.

Berhubung pada waktu itu sedikit para pemeluk agama Syiwa Budha yang fanatik terhadap ajaran agamanya, maka akan berbahaya sekali apabila dalam mengembangkan agama Islam selanjutnya tidak dilakukan dengan cara yang bijaksana dan melalui jalan pendekatan yang mudah ditempuh. Para wali termasuk Sunan Kalijaga mengetahui bahwa rakyat dari kerajaan Majapahit masih lekat sekali dengan kesenian dan kebudayaan mereka, misalnya gemar terhadap gamelan dan keramaian-keramaian yang bersifat keagamaan Syiwa Budha.

2. Bidang kesenian

Sunan Kalijaga ternyata mampu menciptakan kesenian dengan berbagai bentuknya. Maksud utama kesenian itu diciptakan adalah sebagai alat dalam bertabligh mengelilingi berbagai daerah, ternyata malah mempunyai nilai yang berharga bagi bangsa Indonesia.

Sungguh besar jasa Sunan Kalijaga terhadap kesenian, tidak hanya dalam lapangan seni suara saja, akan tetapi juga meliputi seni drama (wayang kulit), seni gamelan, seni lukis, seni pakaian, seni ukir, seni pahat dan juga dalam lapangan kesusastraan, banyak corak batik oleh Sunan Kalijaga (periode Demak) diberi motif “burung” di dalam beraneka macam, sebagai gambar ilustrasi, perwujudan burung itu memanglah sangat indahnya, akan tetapi lebih indah lagi dia sebagai riwayat pendidikan dan pengajaran budi pekerti, di dalam bahasa kawi, burung itu disebut “kukila” dan kata bahasa kawi ini jika dalam bahasa arab adalah dari rangkaian kata “quu” dan “qilla” atau “quuqilla” yang artinya “peliharalah ucapan (mulut) mu”.[10]

Di lain pihak Sunan Kalijaga juga menciptakan karangan cerita-cerita pewayangan yang kemudian dikumpulkan dalam kitab-kitab cerita wayang yang sampai sekarang masih ada. Cerita-cerita itu masih berbentuk cerita menurut kepercayaan Jawa dengan corak kehidupannya yang ada, tetapi sudah dimasuki unsur-unsur ajaran Islam sebanyak mungkin.

Cara itu dilakukan oleh Sunan Kalijaga karena adanya pertimbangan, bahwa rakyat pada saat itu masih tebal kepercayaan Hindu dan Budhanya.

3. Bidang lain-lain

Selain jasa-jasa beliau di atas tadi, masih ada jasanya yang lain seperti pendirian Masjid Agung Demak, Sunan Kalijaga tidak ketinggalan ikut serta membangun masjid bersejarah itu. Malah ada hasil karya beliau yang sangat terkenal sampai sekarang, yaitu “Soko Total” artinya tiang pokok dalam masjid Agung Demak yang terbuat dari potongan-potongan kayu jati, lalu disatukan dalam bentuk tiang buat berdiameter kurang lebih 70 cm. ini yang membuat adalah Sunan Kalijaga.[11]

D. Peninggalan-peninggalan Sunan Kalijaga

1. Masjid Sunan Kalijaga

Di Cirebon tepatnya di desa Kalijaga telah terdapat sebuah masjid kuno, letaknya bersebelahan dengan petilasan pertapaan Sunan Kalijaga. Masjid ini oleh masyarakat Cirebon khususnya dikenal dengan nama Masjid Sunan Kalijaga.

Masjid ini tampak kelihatan angker dari luar, mungkin karena letaknya yang berada di tengah-tengah hutan yang penuh dengan ratusan binatang “kera”. Di sekeliling masjid tersebut hanya ada penduduk yang jumlahnya sedikit, jurang lebih terdiri dari sembilan rumah. Masjid ini tampak kurang berfungsi, baik untuk berjamaah shalat lima waktu maupun sebagai tempat atau pusat kegiatan penyiaran agama Islam.

2. Masjid Kadilangu

Sewaktu Sunan Kalijaga masih hidup, masjid Kadilangu itu masih berupa surau kecil. Setelah Sunan Kalijaga wafat dan digantikan oleh putranya yang bernama Sunan Hadi (putra ketiga) surau tersebut disempurnakan bangunannya sehingga berupa masjid seperti yang kita lihat sekarang ini.

Disebutkan di sebuah prasasti yang terdapat di pintu masjid sebelah dalam yang berbunyi “menika tiki mongso ngadekipun asjid ngadilangu hing dino ahad wage tanggal 16 sasi dzulhijjah tahun tarikh jawi 1456”, (ini waktunya berdiri masjid Kadilangu pada hari ahad wage tanggal 16 bulan dzulhijjah tahun tarikh Jawa 1456). Tulisan aslinya bertulisan huruf Arab. Menurut tutur rakyat Kadilangu masjid itu beberapa kali mengalami perbaikan di sana sini, sehingga banyak bagian bangunannya yang sudah tidak asli, terutama bagian luarnya.

3. Keris Kyai Clubuk

4. Keris Kyai Syir’an

5. Kotang Ontokusumo

Menurut beberapa cerita rakyat menyatakan bahwa dahulu waktu para Walisongo sudah selesai menunaikan shalat subuh di masjid Agung Demak, tiba-tiba terlihatlah ada sebuah bungkusan yang terletak di depan mikhrab. Maka oleh Sunan Bonang diminta supaya Sunan Kalijaga mengambil dan memeriksanya. Ternyata bungkusan tersebut berisi “baju” (kutang), dan secarik kertas yang menerangkan baju itu adalah anugerah dari Nabi Muhammad Saw, dan menerangkan supaya kulit kambing yang terdapat juga dalam bungkusan itu dibuat baju juga. Menurut cerita kedua baju itu sampai sekarang masih terawat baik, yang pertama “baju ontokusumo” yang disimpan di musium kraton Solo dan “baju kyai Gondil” ada dalam makam Sunan Kalijaga di Kadilangu.[12]

 

III. DAFTAR PUSTAKA

Drs. Purwadi, dkk., Babad Tanah Jawi, Yogyakarta: Gelombang Pasang Surut, 2005.

Drs. H. Imron Abu Amar, Sunan Kalijaga Kadilangu Demak, Kudus: Menara Kudus, 1992.

http://www.syariah.com/walisongo/sunan_kalijaga.htm/

 


[1] Tentang tahun kelahiran Sunan Kalijaga (+ 1455 M) diambil dari cerita juru kunci makam Sunan kalijaga yang sekarang (keturunan Sunan Kalijaga yang ke XIV).

[2] http://www.syariah.com/walisongo.html

[3] Dr. Purwadi, dkk., Babad Tanah Jawi, Yogyakarta: Gelombang Pasang Surut, 2005, hlm. 39-41.

[4] Drs. H. Imron Abu Amar, Sunan Kalijaga Kadilangu Demak, Kudus: Menara Kudus, 1992, hlm. 10.

[5] http://www.syariah.com/walisongo/sunan_kalijaga.htm

[6] Menurut R. Prayitno, juru kunci makam Sunan Kalijaga sekarang, Sunan Kalijaga wafat kira-kira + tahun 1586. Berarti kalau dihitung-hitung umur Sunan Kalijaga + 131 tahun lamanya.

[7] Drs. H. Imran Abu Amar, op.cit., hlm. 13.

[8] http://www.syariah.com/walisongo/sunan_kalijaga.htm

[9] Ibid.

[10] Ibid.

[11] Drs. H. Imran Abu Amar, op.cit., hlm. 17-20.

[12] Ibid., hlm. 21-26.

 

17 responses to “Sejarah Perjuangan Islam Sunan Kalijaga

  1. jacky chan

    Desember 30, 2012 at 8:45 pm

    ISLAM ADALAH AGAMA YANG TINGGI DAN MURNI DARI ALLAH. IA TIDAK MENGIKUTI AJARAN AGAMA LAIN YANG SENYATANYA ITU ADALAH SESAT SEMATA. SETIAP PERKARA YANG BARU DALAM ISLAM ITU BID’AH. DAN SEGALA BENTUK BID’AH ADALAH SESAT DAN TIDAK BISA DITAWAR-TAWAR KARENA TIDAK ADA BID’AH HASANAH KARENA SEMUA BID’AH ADALAH SESAT. MENCAMPURADUKKAN AJARAN ISLAM DENGAN AJARAN KEPERCAYAAN LAIN ADALAH SESAT. SEPERTI KAU BELI GADO-GADO LANTAS KAU CAMPUR TAI AYAM, APA MASIH KAU MAU MAKAN? BUKANKAH EMAS MURNI ITU JAUH LEBIH BERHARGA DARI PADA EMAS YANG SUDAH DICAMPUR UNSUR LAIN. SADARLAH WAHAI SAUDARAKU SEMUA KAUM MUSLIM JANGANLAH KALIAN TERPEDAYA OLEH SYETAN DAN PARA PENGIKUTNYA. CUKUPLAH QUR’AN DAN SUNNAH NABI YANG SHAHIH SAJA SEBAGAI PEGANGAN KITA, DAN JANGAN MENGIKUTI SELAIN ITU, KARENA SELAINNYA ADALAH SESAT.

     
    • Botjahtanpanama

      Agustus 13, 2013 at 11:22 pm

      Jangan mengatakan sesat bila kau sendiri masih belum bisa melihat wajah Tuhanmu, lantas siapa yg kau sembah siang dan malam itu jika kau tak bisa melihatNYA?

       
    • kalijaga

      Mei 30, 2014 at 3:47 am

      Tentu peran anda jauh lebih besar daripada para wali dalam menyebarkan Islam. Anda penolong orang Indonesia (khususnya Pulau Jawa) dalam masalah tauhid. Seluruh masyarakat berterima kasih kepada Anda.

       
    • santi

      Oktober 3, 2014 at 8:55 pm

      Alhamdulillah, berarti cita2 Sunan Kalijaga sudah tercapai. Karena iman islam sudah menancap kuat di hati Anda. Hal2 yg berbau bid’ah ini memang kerap dipertanyakan dan ditolak oleh wali2 yg lain. Apalagi sunan bonang dan sunan ampel yg ingin memurnikan agama islam tanpa ada unsur campuran hindu dan budha. Namun, sunan kalijaga menjawab, nanti unsur bid’ah ini akan hilang dg sendirinya kalau iman Islam sudah tertanam dalam di hati pemeluknya. Debat semacam ini tertulis dalam dokumen yg saat ini ada di perpustakaan di Belanda, mengenai perdebatan antara sunan bonang dan sunan kalijaga

       
    • Nung Suroso

      Oktober 28, 2015 at 12:08 pm

      Islam sudah sempurna tapi KAMU (kita) sudah sempurna belum?
      Barangkali kita baru punya ISLAM tetapi belum menjadi ISLAM.
      Barangkali kita baru punya MUHAMMAD SAW tetapi belum menjadi MUHAMMAD SAW.
      ………………………………………………………………………………………………………………………………………

      Dari sini kita ketahui bahwa para ulama itu adalah orang-orang pilihan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

      ثُمَّ أَوْرَثْناَ الْكِتاَبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْناَ مِنْ عِباَدِناَ

      “Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba kami.” (Fathir: 32)

      Hanya orang2 pilihan Alloh yg bisa menjabarkan Al Quran secara pas sesuai derajad pengetahuan manusianya.

      Jabaran Al Quran yg ada sekarang ini adalah hanyalah salah satu TAFSIR, itu bukan satu-satunya taksir yg mutlak benar. Masih ada tafsir tafsir lain yang juga dibenarkan oleh orang2 tertentu dan mereka hidup hingga matinya dan sesudah matinya tetap berkah & selamat dunia wal akhirat.

      Kebenaran itu bertingkat sesuai pengalaman & pengetahuan masing2 orang.

      Walaupun bagaimana kebenaran / agama yang dimiliki oleh Kangjeng Nabi SAW beda dengan yang kita miliki..Anda tidak percaya, anda boleh mencobanya, mengujinya diri anda sendiri sebagaimana yg tlah dilakukan oleh Kangjeng Nabi SAW.

      Semua tahu kebanyakan orang dilahirkan melalui rahim seorang Ibu..
      Tetapi apakah Kangjeng Nabi SAW juga dilahirkan seperti kita-kita?

       
  2. zayyy

    Januari 24, 2013 at 3:01 pm

    sunan asli jawa …. alfatikhah.

     
  3. Hendrik Gunawan

    April 21, 2014 at 11:16 am

    Zaman nabi mana ada disuruh bertapa/ semedi para sahabat, karena islam itu udah sempurna ….jadi apa mungkin sunan bonang menyuruh Sunan KaliJaga itu bertapa, kagak mandi , kagak sholat…….aneh kan ……..itu lah bangsa kita ini mudah dibohongi, diadudomba, bahkan di miskinkan oleh penjajajah hingga beratus2 tahun dijajah bangsa luar.

     
    • Fajar rohman

      Oktober 22, 2015 at 2:47 am

      nDrik,….Pelajari Surat Al kafi,…dan tentu Sunan Bonang Tidak sebodoh hEndrik, atau Tidak mungkin yang Menamakan diri hEndrik gUnawan lebih faham tentang Agama Islam dari pada Sunan Bonang,….itu difikir dalam sudah dapat menjawab kena apa dilakukan bertapa,…tapi bila hEndrik punya piliran / oTak,…..

       
  4. nasrul wahab

    Mei 5, 2014 at 5:41 am

    Jacy @ jangn mudah kau bilang sesat,apa kau yakin akn bragama islam bila kau dilahirkan tdk ditengah2 orang islam,,,dan apa kau yakin amal ibadahmu itu diterima disisi اَللّهُ ,apa bila para pendahulu para tokoh penyiar agama seperti anda dlm brfikir saya kira leluhur anda dan sampe anda mungkin blm menganut ajaran islam,beliau Para wali lebih dekat kpada اَللّهُ serta Rosullah juga tau lebih dari segalanya soal syariat islam dibanding anda yg baru sedikit tau sudah menyesat nyesatkan orng lain,islam itu indah tidk mempersulit

     
  5. winarta adisubrata

    Mei 5, 2014 at 5:16 pm

    ajama islam, bagi kita yamg percaya dan menjalainya (sesungguhnya/seharusnya) adalah ‘harga mati’ yang tak bisa di-tawar2 lagi.

    ‘cuman’ di indonesia di abad 21 masehi ajaran islam (“maaf kata’) dikentuti oleh para profesor2, dokor2, kyai2, jenderal2, menteri2, bupati2,walikota2 yang semuanya pada mengatakan beragama islam, namun tingkah-lakunya (sadar atau nggak sadar ) milih menempuh jalan hiup yang bagi mereka yang ketangkap tangan harus mereka bayar dengan denda, ndekem di bui serta caci maki serta hinaan dari sesama umat (yang mudah2an mereka bener dalam menjalankan syariat islam.)

    (ranggawarsita dalam salah satu karyanya sudah ‘ngramal’: … ‘kaji2 ambanting dulban, kethu putih mamprung’…)

    balasan ini sekedar catatan atas fakta yang disaksikan oleh seorang beragama islam yang tidak merasa diri malaekat atau iblis, sekedar semampunya (dengan ridhoNya) sewmoga selalu dijauhkan dari jutaan godaan dalam segala bentuknya

     
  6. lidi

    Mei 18, 2014 at 4:03 pm

    Alhamdulillah, semoga tulisan terse but dpt bermanfaat dan berkah.

     
  7. DIKA SLALU SYNG

    Juni 19, 2014 at 1:18 am

    subhanllah aku sangat terkesan dngan kisah sunan kalijaga yg begitu besar perjuangannya dalam penyebaran agama islam di tanah jawa

    marilah kita tingkatkan ibadah kita dngan sebaik-baiknya
    kita harus sadar bahwa umur kita hari demi hari semakin berkurang dan itu berarti kita deket yg namanya kematian.
    betapa ruginya kita klu kta sampek tinggalkan sholat .SUBHANALLAH

    SEMOGA ALLAH MEMBERIKAN UMUR YG PANGJANG RIZQI DAN ILMU YG BERMANFAAT BWT KITA SEMUA . AMIN YAROBLLMINNN

     
  8. Muhammad sholih

    September 5, 2014 at 6:04 pm

    Islam menyayangi manusia . Lana a’maluna wa lakum a’malukum.antara kita bersikaplah baik.Innallaaha laa yuhibbul mu’taduuna. OK ?

     
  9. miatu habbah

    Februari 17, 2015 at 3:20 am

    setuju….silahkan berkomentar… tapi jagan melupakan etika / akhlaq. apapun agama anda. karena ucapan menunjukkan aklaq/ kepribadian yang bertaqwa kepada tuhan yang Maha Esa ( الله )

     
  10. .pendra

    Oktober 2, 2015 at 6:47 am

    salah

     
  11. Nung Suroso

    Oktober 28, 2015 at 12:39 pm

    Ini pesan yang disampaikan Kangjeng Sunan Kalijaga kepada calon muridnya :
    ” yen to siro kudu melu salino busono putih
    ojo siro nggowo brono
    jer brono iku memolo
    metengi swargo benjing”

    Klo diteliti dipikir-pikir iki sama dengan pesannya Kangjeng Nabi SAW
    tetapi Kangjeng Sunan menyampaikan dengan bahasanya sendiri
    ora nyebut Hadis dan tetek bengek…

    Kangjeng Nabi SAW maupun Kangjeng Sunan Kalijaga tidak hanya pesan tapi
    juga mencontohkan hidup yg lurus dan sangat sederhana

    Demikian monggo dipikir wong punya pikiran kok gak dienggo
    mikire kudu dibolak balik nganti ketemu
    yen to wis ketemu lan manteb yo enggal-enggalo dilakoni

    Salam

     
  12. Rajabakul

    Februari 19, 2016 at 12:58 am

    Keris kyai calubuk yang benar

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: