RSS

Sufisme Pasca-Modern

“Kita kaum pembaharu muslim masih terlalu banyak menoleh kebelakang. Kita masih telalu sibuk melayani serangan-serangan dari orang-orang muslim tradisional. Kalau ini sampai berjalan lama dan menjadi kebiasaan, saya kuatir kaum pembaharu akan terlibat dalam apologi bentuk baru, yaitu apologi terhadap ide-ide pembaharuan (yang sudah ada) melawan kaum tradisional.(Catatan Ahmad Wahib 10 April 1972)”

Fenomena baru yang sangat menarik di era post-modern adalah bermunculannya tarekat kesufian wadah pendidikan mistik keislaman. Bahkan bermunculan di tempat yang tidak diduga sebelumnya, seperti di Manhattan dan new York, pusat kajian sufisme lengkap dengan sufi “bookstore” di Indonesia sendiri dalam beberapa tahun terakhir ini gejala munculnya penghayatan sufisme ke panggung kehidupan keagamaan juga tersirat sangat jelas. Media masa sering melaporkan bahwa literature sufisme laris dipasaran. Kursus-kursus tasawuf bagi kalangan sosial menengah keatas yang diselenggarakan oleh lemabga semacam LSAF lembaga studi agama dan filsafat LSAF Lembaga Bimbingan dan Konsultasi Tasawuf LEMBKOTA dan Paramadina menarik minat cukup tinggi, terutama kaum kota yang terdidik secara modern. Bahkan salah satu TV swasta menyelenggarakan “Talk Show” sufisme yang menyedot banyak pemirsa. Kehidupan sufistik ini juga merambah kedunia penyiaran.

Sayyed Husain Naser dalam suatu surveinya menyimpulkan bahwa dalam beberapa dekade terakhir ini terjadi peningkatan singnifikan dalam minat terhadap sufisme, terutama dikalangan terdidik. Sufisme mengalami kebangkitan didunia muslim Syiria, Iran, Turki, Pakistan, sampai Asia Tenggara termasuk Indonesia. Menurutnya kebangkitan itu berkaitan dengan meningkatnya tantangan tarekat-tarekat semacam Syadziliyah atau Ni’matullah yang sangat aktif. Lebih dari itu juga, terdapat usaha serius untuk menggali kembali pemikiran tokoh-tokoh sufi, khususnya Ibnu Arabi.

Apabila kemunculan sufisme yang pertama pada periode pertengahan di anggap sebagai penyebab kemunduran peradaban islam dan ketertinggalan umat islam, yang memunculkan paradigm bahwa sufisme menjerumuskan orang kedalam positivitas hidup. Sentralistik terhadap pimpinan, eksklusif dan pelarian para pedagang kehidupan yang takut akan resiko hidup. Apakah kebangkitan kembali pada era postmodernisme ini juga akan mengakibatkan hal yang sama? Sementara kemajuan islam yang dirintis sejak periode modern (1800 seterusnya) telah menunjukkan perkembangan cukup berarti, jangan sampai hal ini merupakan indikasi terjadinya kemunduran dan ketertinggalan umat islam yang kedua kalinya. Akan tetapi, jika ternyata kebangkitan kembali pada era postmodernisme ini harus dianggap taken for granted dikarenakan gejala ekapism dalam dunia modern, diperlukan pandangan yang lebih proporsional dan apresiatif terhadap sufisme.

Langkah awal yang perlu dilakukan adalah melihat arti kata sufistik itu sendiri. Dilihat dari akar katanya ada beberapa versi tetapi yang banyak diterima kalangan yaitu berasal dari kata suf (kain wol) dalam sejarah tasawuf kalau seorang ingin memakai jalan tasawuf, ia harus meninggalkan pakaian mewah dan menggantikannya dengan kain wol besar yang melambangkan kesederhanaan dan kemiskinan serta menjauhkan diri dari dunia. Jadi sufisme adalah suatu faham atau aliran keagamaan dalam islam yang berorientasi pada hubungan dan kedekatan tak terhingga dengan tuhan.

Selanjutnya kita bisa mencoba secara objektif, menilik bagaimanakah efek-efek yang ditimbulkan baik secara psikis, sosiologis maupun sisi ekonomisnya. Pada efek psikologis ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Soebakin Soebardi, Usman Efendi, dan Edy Hary bahwa ajaran sufisme memberikan efek positif terhadap penyembuhan kegoncangan jiwa dan penyakit fisik. Pada aspek sosiologis penelitian suratno Pulingan, Nana Somarno dan Soebakin Soebardi, mengindikasikan adanya interaksi sosial dan ikatan primordial kejama’ahan, sedangkan efek sosilogis bagi masyarakat dluar keanggotaanya berlangsung secara simbolik dalam kehidupan sehari-hari ditempat tinggalnya masing-masing. Nana Fatah Natsir dan Agus Burhanudin meneliti perilaku ekonomi para penganut sufisme. Ditemukan fakta-fakta ilmiah yang berkenaan dengan perilaku ekonomi yang diperankannya keyakinan biologis yang berakar pada ajaran tarekat yang pada gilirannya berimplikasi terhadap etos kerja para jamaahnya.

Penelitian tentang modernitas terhadap perilaku kegamaan terlihat misalnya dari penelitian Dobat belah tentang pengaruh Restorasi Meiji terhadap perilaku masyarakat Jepang. Tarekat yang selama ini sebagai bagian dari kehidupan masyarakat pedesaan yang cenderung mistik, misterius, kontempolatif dan menarik diri dari kehidupan dunia, telah mengalami perubahan ketika dianut oleh masyarakat modern dari perkotaan. Salah satu perwujudannya terlihat dari adanya proses adaptasi dengan lingkungan  fisikal dan sosial perkotaan. Pengalaman yang dikaitkan dengan melahirkan berbagai kreasi budaya yang lengkap dengan berbagai nilai kepercayaan yang dikandungnya.

Agama Vs Sufisme

Manusia dan agama merupakan dua sisi yang saling berpengaruh. Sebagai unsur yang dibutuhkan manusia, agama memberikan layanan psikologi kepada mnausia untuk menyajikan sesuatu yang dibutuhkannya. Sementara itu manusia disisi lain memberikan pengaruh yang sangat signifikan dalam proses perubahan. Nilai dari suatu agama akibat dari pengalaman keagamaan banyak dipengaruhi oleh semua system yang ada, dan sama-sama hidup dalam masyarakat tempat agama itu muncul dan berkembang.

Al-Qushairi seperti dikutip Azyumardi Azra menyatakan bahwa sufisme yang sebenarnya bukanlah sufi yang mengalienasikan diri dari masyarakat. Melainkan sufi yang menyeru pada kebaikan mencegah kemunkaran, membantu orang sakit dan orang miskin dan membebaskan kaum yang tertindas. Sufi yang sebenarnya adalah sufi yang melaksanakan ta’awun tolong menolong dengan muslim yang lain untuk kemajuan masyarakat.

Biarlah diri kita memandang segala hal itu seperti Kristal keberadaannya, warnanya, lekuk, lengkung dan sisinya. Bening tanpa ada topeng. Bagaimana ketika tokoh terkemuka, dari madzab Hambali semacam Ibnu Taimiyyah atau Ibnu al Qoyyum Jauziyyah. Menentang seluruh bentuk sufisme yang kemudian justru memunculkannya. Dan menjadi pioner gerakan sufisme yang mereka namakan neo sufisme berbicara. Betapa ia adalah sebuah esoterisme keagamaan batini yang menghendaki kehidupan aktif. Betapa ia memiliki andil untuk tampil kedepan, ketimbang isme-isme lainnya seperti fundamentalisme, deisme, dan lain sebagainya. Setidaknya ada uda hal yang disuguhkan oleh sufisme di sini.

Pertama, globalisasi informasi yang menghilangkan sekat-sekat primordialisme etnis, bangsa dan budaya terus menyerbu tanpa ada seorang pun yang mampu membendungnya. Sebagai akibatnya, orang merasa kebingungan dan segara akan mencari zona aman [sufisme].

Kedua, penyerbuan budaya, disatu sisi akan mengaburkan dunia lama akan tetapi di sisi lain memunculkan kesadaran tinggi akan pentingnya pluralisme budaya dan agama dalam wadah toleransi. Dan sufisme dalam banyak konsepsi spiritualitasnya membahas dan member jawaban terhadap segala pertanyaan dan keteduhan yang banyak dirindukan manusia modern.

Berangkat dari hal itu, dapatlah kiranya kita menarik relevansi sufisme dengan modernitas bahwa perkembangan masyarakat modern tidak memadai lagi untuk sekedar dipenuhi dengan ibadah-ibadah pokok saja. Masyarakat modern memerlukan pengalaman keagamaan yang lebih intens dalam pencarian makna. Dan kecenderungan ini hanya dapat dipenuhi oleh esoteric sufisme. Yang kini banyak dikemas dalam tarekat-tarekat sufisme.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: