RSS

Islam itu Inklusif dan Humanis

Oleh : Hamam Burhanuddin

Oleh mayoritas pemeluknya, Islam diyakini sebagai agama yang paling benar, paling sempurna, terlengkap dan memiliki banyak peluang masuk surga. Sehingga mind set masyarakat Islam yang berkembang selama ini terkesan ekslusif, tertutup, anti globalisasi dan menganggap orang lain salah.

Terlepas dari persoalan keimanan yang sering bersifat doktriner yang sering mengabaikan unsur akal budi, dan membuat umat Islam kehilangan daya kritis serta mempersempit gerak untuk mengekspresikan ajaran agamanya.

Dalam memaknai Islam, harusnya tidak bisa dilihat secara sepihak, paling tidak aspek historisitas tidak boleh terlupakan, bagaimana Islam muncul dan berkembang dan sampai akhirnya menjadi sebuah beradaban yang sangat besar.

Islam muncul tidak diruang hampa

Hadrinya agama-agama tidak bisa terlepas dari realitas masyarakat setempat. Termasuk Islam pun tidak diturunkan dalam ruang hampa yang steril dari campur tangan manusia. Sehingga Islam sangatlah masuk akal ketika terasimilasi budaya lokal (Arab) seperti halnya yang diungkapkan oleh antropolog Cliford Greetz bahwa agama bukanlah sesuatu yang otonom.

Misalnya Islam turun di Jazirah Arab dengan kompleksitas peradaban manusia. Berbagai macam suku, agama,  ras kepentingan politik yang saling mempengaruhi dan dipengaruhi. Maka ajaran agama sangatlah terikat dengan kondisi dan situasi sosial setempat bersifat kontemporalpartikular.

Ketika Islam dipahami seacara tektual maka Islam hnya dipandang sebatas simbol-simbol ala arab seperti: jubah, jenggot panjang, cadar, sorban dan lain sebagainya. Kemudian pada akhirnya pemaknaan Islam secara sempit tersebut menimbulkan truth claim (klaim-klaim kebenaran) yang menganggap orang lain diluar kelompoknya “kurang Islam” bahkan tidak Islam,

dalam mengkaji Islam tentunya tidak bisa melupakan manusia pilihan yang dilahirkan di Mekkah yang konon mempunyai banyak kelebihan yang sering disebut mukjizat. Dia adalah Muhammad bin Abdullah dalam bukunya Akbar S. Ahmed Rekonstruksi Sejarah Islam” diceritakan bahwa Muhammad adalah seorang manusia biasa seperti layaknya manusia lainnya.

Sebagaimana seorang manusia, ia masih bersinggungan dengan apa yang namanya susah, senang, sedih, sakit, kegagalan dan keberhasilan. Sejak kecil Muhammad sudah menunjukkan kelebihan yang tidak dimiliki pemuda lain. (Akbar S. Ahmed: 2003).

Pribadi Muhammad terbentuk sejak kecil seperti nabi-nabi sebelumnya, Muhammad kecil mengembalakan kambing milik pamannya. Dari situlah pribadi “Gembala” terbentuk.

Sikap kepemimpinan, kasih sayang, kepekaan terhadap lingkungan tercipta secara alami, terlepas dari takdir Tuhan yang telah merencanakan manusia menjadi seorang utusan, Muhammad terlahir ditengah budaya masyarakat arab pada waktu itu sedang mengalami kegersangan spiritual, dan kebobrokan moral (baca: jahiliyah)

Sebuah tatanan masyarakat yang carut marut, lekat dengan kebiasaan buruk: suka berperang, minuman keras, judi, seks bebas, tega membunuh bayi perempuan-perempuan dengan alasan aib keluarga.

Dari situlah kepekaan sosial Muhammad timbul. Kemudian dalam puncaknya untuk mendapatkan jawaban, dengan melakukan khalwat, seperti yang dilakukan oleh tokoh-tokoh kenabian sebelumnya: Isa, Musa, Ibrahim yang meninggalkan hiruk pikuk dunia manuju pengasingan diri di goa-goa, gunung-gunung untuk melakukan pembaharuan spiritual.

Maka sebuah tempat yang berjarak beberapa mil dari mekkah berupa pegunangan terjal. Disana ada sebuah gua (hiro) disitulah Muhammad melakukan perenungan, meditasi untuk mendapatkan jawaban atas masalah-masalah yang mengganggu fikirannya.

Dari paparan singkat tersebut sebenarnya akan disampaikan bahwa agama terlahir dari sebuah realitas sosial. inilah yang dimaksud memahami agama dari sudut pandang historisitas.

Pemahaman dan pemaknaan Islam seperti ini akan lebih hidup dari pada pemahaman yang hanya bersifat verbalis simbolis atau normatif. Jadi interpretasi dari sebuah teks suci, ketika dimaknai secara tekstual maka akan menghasilkan pemahaman yang pada akhirnya mau tidak mau memunculkan ekspresi keberagamaan yang kaku.

Hal ini sesuai yang disebut oleh Amin Abdullah terkait dengan normatifitas dan historitas pendekatan agama. Satu missal ada ayat al Qur’an yang memberikan ketentuan hukum bahwa hukuman bagi pencuri harus potong tangannya.

Jika ayat tersebut dipahami secara normatif dan hanya bersifat tekstual tanpa melihat asba ul nuzulnya maka interpretasi tersebut sangatlah kaku, dan menyeramkan. Maka dari itu perlu pemaknaan dan interpretasi al Qur’an yang lebih humanis dan elegan untuk menyelesaikan persoalan sosial kemasyarakatan.

Dua misi Muhammad

Muhammad membawa dua misi besar yaitu persoalan teologi dan humanisasi. Meminjam bahasanya Ahmad Najib Burhani dalam “Islam Dinamis” menyatakan bahwa risalah Muhammad sangatlah padat dengan muatan visi ke-ilahi-an dan kemanusiaan.

Ia ingin membangkitkan kesadaran normatif umat dan memberikan nuasa pembebasan manusia dari penjajahan. Segala bentuk tindakan eksploitasi, diskriminasi dan ketidakadilan dari kecurangan diprotes habis-habisan olehnya (Ahmad Najib Burhani: 2001) penjajahan disini meliputi berbagai hal, artinya bukan hanya sekedar eksploitasi fisik, akan tetapi penindasan pola piker pun termasuk didalamnya.

Kalaupun akhir-akhir ini Islam dimata publik sedang mendapat cacian dan cemoohan oleh kelompok non muslim, hendaknya menjadikan suatu bahan evaluasi bagi umat Islam untuk lebih mengkaji Islam secara mendalam, apa sebenarnya yang terjadi dengan Islam? (ada apa dengan Islam), Islam sering disandingkan dengan kata teroris, eksploitasi terhadap perempuan dengan melegalkkan poligami?

Islam dikatakan umat yang paling terbelakang, miskin, bodoh, inferior dan berbagai istilah yang berkonotasi negatif. Diakui atau tidak umat Islam sedang mendapat ujian dari Tuhan, untuk tidak mengatakan bahwa umat Islam sebenarnya dalam posisi yang kalah.

Sebagai umat yang masih percaya Islam tetap berpegang teguh pada fitrah normatifitasnya, maka dalam rangka mengembalikan citra Islam sesuai firman Tuhan: Kami tidak semata-mata mengutus engkau melainkan supaya menjadi rahmat bagi semesta alam (Qs Al-anbiya 107).

Islam sebagai agama rahmat lilalamin wajib terus disosialisasikan oleh umatnya. Seperti diserukan oleh tokoh Islam kontemporer Cak Nur bahwa Islam mengandung “Kaffatan li al Nas” yaitu Islam untuk seluruh manusia. Bukan hanya umat Islam saja, melainkan Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghu Cu, serta agama apapun namanya tanpa harus dibeda-bedakan.

Dengan begitu, citra Islam yang babak belur bisa dipahami dan diterima sebagai agama yang humanis, terbuka, inklusif, toleran, transformatif, liberatif dan beradab. (Nur Cholis Madjid: 1998).

Yang terpenting selanjutnya bagaimana umat Islam mengadakan pembaruan, baik paradigma berpikir maupun praktek ritual keagamaannya dalam merefleksikan ajaran nilai-nilai suci sesuai dengan misi Islam itu sendiri.

Dan juga bagaimana menyadari sepenuhnya kehendak Tuhan menciptakan manusia dimuka bumi. Sehingga selanjutnya manusia sadar akan eksistensinya sebagai wakil Tuhan dengan mewarisi sifat-sifat Tuhan, yaitu sebagai pencipta penyayang dan sebagainya dengan berbekal potensi yang telah dianugerahkan.

Seperti yang disitir oleh Abdul Munir Mulkan, dalam sebuah buku “Nalar Spiritual Pendidikan: Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam” bahwa pemeluk Islam lebih sibuk ngurusi Tuhan dan mengklaim lebih mengerti Tuhan dan kebenaran ajaran-Nya.

Sehingga mereka merasa lebih berhak menempati surga dan menempatkan kelompok lain sebagai penghuni neraka. Hal inilah yang menyebabkan umat Islam berlomba-lomba memperoleh predikat hamba yang paling shaleh dihadapan Tuhan.

Lebih jauh Mulkan menjelaskan bahwa dari sinilah pentingnya mengembangkan pemahaman tentang masalah-masalah pokok dalam ajaran Islam yang memberi ruang beda penafsiran, keragaman dan pluralitas. Setiap muslim yang berbeda aliran dan madzab menjadi mungkin memperoleh nasib surgawi yang sama dengan melalui banyak jalan dan media.

Hampir senada dengan Munir Mulkan, dalam kensep humanisme religius faith in action Kenneth Phfer dalam sebuah esainya menyatakan bahwa humanisme mengajarkan tentang kecerdasan hidup, artinya bahwa manusia tidak sepatutnya menunggu Tuhan agar melayani manusia.

Dalam kerangka humanistik, manusia justru menemukan makna yang mendasar dari religiusitas dan moralitas, sebab manusia sendirilah yang harus bergerak untuk menghentikan perang, kejahatan-kejahatan dan brutalitas di abad mendatang.

Manusiapun juga mempunyai derajat kebebasan yang tinggi dalam memilih apa yang akan dilakukannya. Manusia sendiri yang harus menghentikan penindasan dan kekerasan peradaban. Sehingga pada akhirnya Islam berwajah damai, inklusif dapat terwujud.

Wajah Islam Inklusif dan Humanis

Terkait dengan Islam inklusif Abdurrahman masud tidak mau kalah menyatakan dalam bukunya “menuju pluralitas Islam humanis” bahwa inklusifisme merupakan kesadaran akan keberadaan Tuhan selama hidup dalam waktu yang sama sekaligus kesadaran akan adanya kelompok dan agama lain yang harus diterima secara alami untuk hidup berdampingan secara damai (peacefull consistence) dan menyadari pluralisme (Abdurrahman Mas’ud: 2003)

Manusia diletakkan sebagai pelaku kreatif yang bebas menafsirkan sumber otentik ajaran Islam dalam al Qur’an dan sunnah sehingg yang paling dominan adalah penggunaan rasionaltitas. Maka hal ini senada dengan seorang filosuf hukum Islam dari mesri yaitu Hasan Hanafi yang sangat menekankan perlunya rasionalisme dan revitalisme khasanah Islam.

Rasionalisme adalah keniscayaan untuk kemajuan kesejahteraan muslim saat ini. Sehingga Hanafi memunculkan sebuah tesis tentang Hermeneutika (Hermeneutika adalah ilmu tentang proses wahyu dari huruf sampai kenyataan dari logos sampai praksis dan juga tranformasi wahyu dari pikiran Tuhan kepada kehidupan manusia).

Selama ini tampaknya islam ditafsiri hanya bersifat ideologis. Sehingga imbasnya kurang mendorong munculnya pemikiran kritis dan pada akhirnay menggiring kearah kemandegan atau kejumudan Islam baik peradaban maupun sains teknologi.

Oleh sebab itulah Hanafi menegaskan bahwa hasil interpretasi harus aplikasif dan sebagai jawaban dari tafsir yang tekstualis dan realitas pemikiran Islam yang dianggap teosentris serta jauh dari problem kemanusiaan.

Kemudian selanjutnya Hanafi berusaha menarik gagasan sentral al Qur’an ke bawah. Pada wilayah kemanusiaan, antropormistik-humanistik. Lebih jauh Hanafi memberikan contoh terkait dengan tafsir hermeunitiknya bahwa sifat-sifat Tuhan yang jumlahnya 20 kata Hanafi akan lebih bermakna ketika tidak dipandang sebagai sifat Tuhan semata yang tidak patut tersentuh dan diotak-atik oleh manusia artinya bahwa ajaran tauhid itu akan lebih hidup ketika dipahami dan dihayat dan selanjutnya diamalkan oleh manusia.

Missal, wujud (sifat wajib allah) diaplikasikan oleh manusia sebagai bentuk eksistensi, jadi sah saja ketika kematian tidak diartikan dengan hilangnya nyawa dari raga namun kematian bisa diartikan sebagai ketidakmampuan manusia menunjukkan keberadaanya (Ahmad Khudori Soleh: 2003).

Kemudian sebuah harapan, ajaran nilai-nilai agama dapat lebih berbicara untuk menjawab tantangan kehidupan. Sehingga dogma-dogma agama tentang surga neraka diharapkan mampu berbuat banyak ketika budaya pop yang disuguhkan oleh pesatnya arus informasi semakin mempengaruhi kehidupan generasai muda Islam. Kekejaman perang serta penjajahan yang melanggar HAM ternyata tetap lestari dimuka bumi dapat diminimalisir.

Peran muslim dalam peradaban baru di abad-abad mendatang lebih mungkin dirancang dan digagas jika berbagai problem dirinya bisa dijernihkan dan dipecahkan, bukan karena peradaban modern sekuler dan kapitalistik atau sosialistik benar dan hebat sehingga dunia berada dalam dekapannya bukan pula karena peradaban itu menindas Islam sehingga gagal tumbuh sebagai alternatif peradaban dunia.

*] Penulis adalah Peneliti dan Staff Pengajar Perguruan Tinggi Swasta di Ngawi Tinggal di Bojonegoro

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: