RSS

KEPEMIMPINAN YANG IDEAL DALAM KEMANDIRIAN NASIONAL (Ideal Leadership in National self-reliance)

05 Agu

 

presiden_indonesiaberbangsa dan bernegara terlalu kompleks jika harus dipikirkan dan diserahkan pada seorang saja. Jika hal itu terjadi, bukan saja akan banyak permasalahan yang tidak terselesaikan, bahkan yang muncul adalah penyalahgunaan kekuasaan. Hal itu sudah menjadi hukum besi bahwa kekuasaan cenderung disalahgunakan dan kekuasaan yang mutlak sudah pasti disalahgunakan (powers tend to corrup, absolut power corrup absolutly).

Keberhasilan penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara ditentukan oleh berjalannya sistem yang telah ditentukan oleh konstitusi, terutama oleh lembaga-lembaga negara yang telah ditentukan wewenang dan tugasnya masing-masing. Upaya mempertahankan kedaulatan dan membangun kemandirian bangsa tidak dapat hanya diserahkan kepada Presiden, tetapi ditentukan oleh jabatan-jabatan lain dalam sistem ketatanegaraan seperti anggota DPR, hakim, menteri, gubernur, bupati, walikota, dan lain-lain. Dengan demikian kepemimpinan nasional adalah kepemimpinan kolektif.

Oleh karena itu yang dimaksud dengan pemimpin dalam hal ini adalah orang-orang yang menduduki jabatan-jabatan sebagai penyelenggara negara. Pemimpin-pemimpin inilah yang harus dipilih dan dikawal oleh rakyat sebagai pemilik kedaulatan. Karena pemimpin-pemimpin tersebut tugas utamanya adalah melaksanakan UUD 1945, maka yang diperlukan adalah pemimpin yang memahami keseluruhan UUD 1945. Dengan demikian para pemimpin tersebut memahami apa yang menjadi tujuan dan cita-cita bangsa ini, apa yang harus dilakukan untuk mencapai cita-cita dan tujuan tersebut sesuai dengan lingkup wewenangnya, serta sampai di mana batas kekuasaan yang dimilikinya. Pemahamah tersebut harus didukung oleh keberanian untuk menegakkan UUD 1945 sebagai hukum tertinggi dalam negara berdaulat.

Kepemimpinan Ideal

Selain kriteria tersebut, tentu setiap kelompok masyarakat memiliki ukuran dalam memilih pemimpinnya. Bagi umat Islam misalnya, seorang pemimpin selalu diharapkan memenuhi sifat-sifat ideal seperti kepemimpinan Nabi Muhammad yang meliputi (1) shidiq, yaitu orang yang benar; (2) amanah, orang yang jujur dan dapat dipercaya; (3) tabligh, yaitu orang yang menyampaikan pesan-pesan Illahiyah; serta (4) fathonah, yaitu orang yang cerdas. Kecerdasan dalam hal ini meliputi tidak hanya kecerdasan intektual, tetapi juga kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual. Sifat-sifat tersebut dapat diteladani dari sifat-sifat Rasulullah.

Nabi Muhammad saw adalah pemimpin yang selalu berkata benar (shidiq), bahkan memegang prinsip “Apabila tidak bisa berkata benar dan jujur maka lebih baik diam”. Oleh karena itu pemimpin yang kita pilih hendaknya mengetahui dengan benar persoalan yang dihadapi, termasuk mengetahui dengan benar apa yang menjadi tugas dan kewajibannya berdasarkan UUD 1945. Demikian pula dengan kebijakan dan keputusan-keputusan yang diambil, harus didasarkan pertimbangan dan data-data yang diyakini kebenarannya.

Rasulullah adalah pemimpin yang senantiasa menjunjung tinggi amanah yang diberikan. Oleh karena itu beliau disebut “Al-amin” atau orang yang terpercaya. Sikap amanah tersebut diakui baik oleh kaum muslimin maupun kelompok yang berbeda agama sehingga beliau dipercaya sebagai kepala pemerintahan di negara madinah yang penduduknya tidak hanya kaum muslimin. Dalam konteks saat ini seorang pemimpin harus senantiasa menyadari bahwa kekuasaan yang dimiliki adalah amanat dari rakyat yang harus digunakan untuk mencapai tujuan dibentuknya kekuasaan itu sendiri (Djailani, 2004: 15).

Karena kekuasaan yang dipegang oleh seorang pemimpin adalah amanat, maka sudah sewajarnya jika pemimpin bersikap transparan. Sikap ini juga diperlukan sekaligus sebagai upaya mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan. Sifat transparan ini merupakan salah satu unsur dari sifat tabligh, yang selain itu juga dapat dimaknai dengan menyampaikan setiap kebenaran dan diluruskannya segala hal yang dianggap keliru dengan cara yang bijaksana (al-hikmah) dan tutur kata yang santun (al-mauidzhah al-hasanah) serta diiringi alasan dan logika yang kokoh (al-mujadalah).

Untuk dapat menjalankan amanah sebagai pemimpin, tentu seseorang harus memiliki kemampuan melebihi yang dipimpin. Oleh karena itu pemimpin harus memiliki kecerdasan baik dari sisi intelektual sehingga memiliki pemahaman mendalam dan wawasan luas dalam mengambil kebijakan, kecerdasan emosial sehingga bisa bergaul dan menyelami kondisi rakyat, serta kecerdasan spiritual sehingga menempatkan kekuasaan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Hal itu dapat kita teladani dari Nabi Muhammad saw yang yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata (fathanah).

Pemimpin Ideal dan Kemandirian Nasional

Dari beberapa pemaparan di atas, menjadi sosok pemimpin yang ideal menjadi dampaan bagi rakyat yang bisa mengayomi, mendengar aspirasi serta melaksanakan tugas yang telah diamanahkan dengan baik.   Sosok pemimpin yang ideal juga bisa menciptakan kemandirian nasional, sekarang ini yang diperlukan adalah pemimpin yang benar-benar pemerintah (bisa memerintah), bukan pemimpin yang penghimbau. Mengutip DR. Dwi Suryanto (2009) “kunci wasiat” memimpin efektif konsep teorinya, harus memiliki sense of purpose, atau the leader coaches and mentors.

Paling tidak ada empat kriteria seorang pemimpin (Republika, 15/05/2008). Kriteria pertama calon itu harus figur yang mampu mengucapkan selamat tinggal pada mentalitas anak jajahan (inlander). ”Artinya pemimpin itu adalah sosok yang betul-betul mandiri. Dia harus yakin bahwa bangsa ini bisa maju tanpa bergantung dari bangsa lain.

Kedua, sosok itu juga hendaknya memahami falsafah, ideologi, dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Selain itu dia juga harus punya komitmen menjalankannya. ”Kriteria ketiga, calon pemimpin itu harus bisa membuat program ekonomi kerakyatan dan yang mempunyai keberanian untuk menegakan kepala menghadapi formulasi asing.

Kriteria keempat, adalah pemimpin yang berani melakukan renegosiasi terhadap semua kontrak karya yang tidak masuk akal dan merugikan bangsa. Jadi kalau tidak berani, jangan jadi pemimpin. Nanti hanya menjadi beban negara dan beban bangsa.

Daftar bacaan:

John Adair, Kepemimpinan yang Memotivasi, (Jakarta, Gramedia, 2008).

DR. Dwi Suryanto, Kepemimpinan Transformasional: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul, (Jakarta, 2009).

Harian Republika, Kamis, 15 Oktober 2008.

Tim Karisma, Pemimpin Karismatik, (Jakarta, 2009).

Djaelani, Menelusuri Jejak Rasulullah, (Yogyakarta, 2004).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 5, 2016 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: