RSS

Theo-Philosophical Movement (Gerakan Falsafah Kalam)

10 Okt

Hamam Burhanuddin

Kita orang Islam belum mampu menerjemahkan kebenaran ajaran Islam dalam suatu program pencapaian. Antara ultimate values (nilai-nilai pokok – Red.) dalam  ajaran Islam dengan kondisi sekarang memerlukan penerjemahan-penerjemahan. Dan ini tidak disadari…. Karena seperti itulah kita menjadi orang yang selalu ketinggalan dalam usaha pencapaian dan cenderung ekslusif. (Ahmad Wahib: 17 Januari 1969)

***

Pada awal abad ke-19 kita menyaksikan bahwa agama hampir saja tergempur oleh kemajuan ilmu pengetahuan sehingga seolah agama harus ditinggalkan dan tidak lagi relevan dianut, maka dalam mengakhiri abad ke-20 dan memasuki abad ke-21 ini tampaknya agama mendapatkan tempat kembali untuk ditoleh oleh segenap ilmuwan. Berbagai respons positif yang cukup besar bisa dilihat dari kalangan para ilmuwan yang berlatar ilmu eksak yang justru secara strict mereka memberikan ruang cukup besar bagi agama sehingga mereka yang  berlatar ilmu eksak tersebut, bisa mengembangkan nilai-nilai keagamaan dari tradisi disiplin ilmunya.

Yang menjadi pertanyaan sekarang ini adalah, apakah mereka yang berlatar belakang ilmu eksak tersebut karena rasa kejenuhannya terhadap disiplin ilmunya lalu beralih kepada agama yang bagi mereka merupakan ilmu yang baru sama sekali sehingga sebagaimana layaknya sesuatu yang baru itu selalu membangkitkan semangat baru. Jika ini yang menjadi alasan maka sebenarnya besarnya perhatian mereka terhadap agama itu tidakhal bersifat subtansial, tidak otentik, tapi justru lebih bersifat eksentrik.

Karena ingin beralih kepada sesuatu yang baginya dianggap baru dan berbeda dari yang biasa dipelajarinya. Jika kecenderungan semacam ini yang terjadi, maka trend tersebut sebenarnya tidak bisa dikatakan sebagai kebangkitan agama.

Kecenderungan keberagamaan dalam pembahasan ini tentunya tidak akan membahas fenomena orang-orang eksak yang memiliki kecendrungan besar kepada agama itu karena hal seperti di atas, melainkan akan diarahkan kepada hal-hal yang memang betul-betul bahwa agama ternyata memang memiliki ruang dalam ilmu pengetahuan.

Kenyataan semacam itulah tampaknya yang membuat mengapa agama (islam terutama) secara tegas dan berulang-ulang mendorong setiap pemeluknya agar terus mempelajari ilmu pengetahuan, dengan cara memperhatikan alam semesta, tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang, bahkan di dalam diri kamu sekalian.

Ilmu pengetahuan alam yang dipandangnya sebagai pasti tampaknya kini sejak Einstein mengemukakan teori relativitasnya menjadi sebaliknya yaitu justru menjadi penuh ketidakpastian. Ruang dan waktu yang diyakini oleh Newton sebagai absolut ternyata bagi Einstein adalah justru relative. Ruang dan waktu menjadi relative ketika unsur cahaya menjadi variable dari gerak. Oleh karenanya, panjang ruang dan panjang waktu adalah sesuatu yang relative, karena ternyata keduanya tergantung kepada keadaan pengukurnya.

Teori relativitas Einstein kemudian memperoleh dukungan secara revolusioner dari teori fisika kuantum, yang membicarakan tentang dunia mikro sub-atomik, yang merombak total pandangan tentang materi. Dengan teori ini pandangan lama tentang bahwa atom-atom dunia mikoskopik adalah materi terkecil dari materi, terpaksa harus ditinggalkan dan tergusur serta terpuruk menjadi tidak relevan.

Alam yang menurut teori lama newton diyakini sebagai hukum-hukum sebab-akibat yang berjalan secara deterministic dan pasti, ternyata menurut fisika kuantum tidaklah demikian, melainkan alam tersebut diatur oleh hukum-hukum kemungkinan. Artinya, pada tingkat materi yang terkecil alam mengelak tidak bisa diketahui oleh mata manusia. Disinilah kemudian para ilmuwan meyakini adanya ruang mistik dalam ilmu fisika yang selama ini diyakini sebagai ilmu pasti.

Oleh karena itu, salah mengatakan bahwa, ketika seseorang memasuki laboratorium ia melupakan agamanya, dan ketika memasuki ajaran agamanya ia melupakan pengetahuan sainsnya. Begitu kira-kira yang ditulis olhe seorang ahli fisika kuantum, John Polkinghorne, dalam bukunya one world, the interaction of science and theology. Bagi polkinghorne, we live in one world and science and theology explore different aspects of it. Jadi sebenarnya tidak ada pemisahan antara agama dan sains. Keduanya berada dalam satu dunia.

Berbarengan dengan menggejalanya fenomena diatas, para pemimpin agama pun merangkul dan membuat kajian keagamaan secara komprehensif dengan ilmu pengetahuan. Agama dihadirkan bahkan dijelaskan melalui perkembangan ilmu pengetahuan.

Sistem keimanan dijelaskan dan dihadirkan sebagai satu organik dengan ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan dibutuhkan oleh agama sebagai sarana aktualisasi doktrin-doktrinya, sedangkan agama dibutuhkan oleh ilmu pengetahuan sebagai petunjuk agar ia tidak menyesatkan dan menakutkan umat manusia yang membuatnya, melainkan agar menjadikan umat manusia bisa memperoleh hidup secara lebih baik, tenang, damai dan menyejukkan. Sehingga perkembangan ilmu pengetahuan tidak lepas dan liar tanpa orientasi, melainkan penuh dengan misi nila-nilai kemanusiaan yang membebaskan.

Gerakan keagamaan yang bercorak semacam ini tentunya menarik untuk lebih lanjut didiskusikan. Gerakan ini terlihat secara lebih mengesankan di tanah air pada dua agama besar : Islam dan Kristen (baik katolik maupun protestan). Para tokoh kedua agama tersebut secara positif berkompetisi dalam bidang pengembangan intelektual. Aktualisasi gerakan ini biasanya muncul melalui berbagai disiplin ilmu, entah itu filsafat, ilmu-ilmu sosial, ilmu-lmu politik, atau berupa lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang mengorientasikan program dan misinya kepada kegiatan-kegiatan untuk pembebasan masyarakat.

Yang muncul kemudian dari gerakan tersebut adalah  adanya kondisi yang cukup kondusif untuk berjalannya suasana dialogis antar pemeluk agama-agama. Kondisi ini sangat memungkinkan untuk tersedianya kerjasama antar pemeluk agama-agama yang berbeda-beda secara sosial.

Namun, meskipun demikian, keyakinan masing-masing pemeluk agama-agama pada tingkat gerakan ini adalah cukup teggas, hanya saja ditampilkan secara lebih menarik melalui berbagai disiplin ilmu yang dikuasainya.

Gerakan keberagamaan semacam ini meskipun masih terkesan bersifat ideologis tapi tersamar melaui berbagai kegiatan dan aktualisasi intelektualnya. Sehingga yang terasa kemudian perlombaan dibidang kebaikan dan intelektualnya.

Saya kira kondisi ini sangat berharga bagi sebuah dasar awal adanya kebangkitan intelektual dimana saja. Sebab dengan demikian, para tokoh agama berarti merasa berkewajiban untuk terus mengaktualisasikan keyakinan-keyakinan ajaran keagamaannya secara lebih intelektualistik dan berwawasan kosmopolit dan menunjukkan segi-segi ajaran masing-masing sebagai memiliki wawasan yang universal. Maka dengan itu semua, tidak lagi ada persoalan dan apalagi ancaman dari sekelompok pemeluk agama terhadap pemeluk agama lain yang berbeda. Masing-masing pemeluk agama-agama justru merasakan terpanggil untuk terus menampilkan sesuatu yang terbaik dari yang diyakini oleh masing-masing ajaran keimanannya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 10, 2012 in Kajian Islam

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: