RSS

Bisnis Esek-Esek (Penikmat Syahwat)

15 Sep

Bisnis esek-esek (prostitusi) menjadi bisnis yang menggiurkan bagi orang yang ingin mendapatkan uang cepat, seiring dengan perkembangan zaman merebaknya bisnis prostitusi ini semakin berevolusi lebih sistemik dan modern, apalagi ditunjang dengan semakin mudahnya orang yang memiliki kelebihan syahwat untuk bisa mendapatkannya

Melalui akses jaringan telekomunikasi, internet bahkan handphone dan media massa orang pun dimanjakan untuk memilih sendiri sesuai dengan keinginannya, mau pilih yang model dari kelas bawah, menengah dan kelas premium pun bisa didapatkan

Seperti contoh kasus prostitusi bergaya “cyber crime” yang baru-baru ini terungkap di Surabaya, dengan memanfaatkan media jejaring sosial sejenis facebook, twitter dan bahkan blackberry menjadi cara yang paling aman untuk bertransaksi bagi para penikmat syahwat.

Bagi mereka yang menginginkan tidak perlu susah-susah untuk datang ke lokalisasi atau harus berkeluyuran di daerah prostitusi, dengan bermodalkan blackberry messenger dan mengetahui pin bisa memesan secara langsung sekaligus diantar, ibarat “delivery food”

Perkembangan teknologi dan informasi ternyata tidak dimanfaatkan secara positif bagi sebagian kalangan, inilah salah satu penyelewengan dari media komunikasi,

Salah satu faktor yang menyebabkan maraknya prostitusi dan trafficking adalah lemehnya pengawasan dan penegakan hukum yang berlaku di Indonesia, kelemahan inilah sering dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk kembali melakukan tindakan kejahatan sehingga tidak menimbulkan efek jera.

Masalah bisnis adalah masalah keuntungan, profit dan gaya hidup sebagian masyarakat  yang hedonis, aktivitas kerja yang tinggi dan tingkat kejenuhan membuat sebagian orang yang memiliki kelebihan syahwat lebih senang untuk berhubungan seks bebas dan menjadikannya sebagai penghilang stress sesaat,

Penyelewengan kelebihan syahwat seharusnya bisa dicegah dengan selalu mengedepankan akibat dan kerusakan yang ditimbulkannya. Tinjauan secara etika dan norma-norma agama serta sosial jelas tidak melegalkan akan perbuatan tersebut karena malah menjatuhkan seseorang tadi kepada jurang kerusakan.

Bagi para penikmat seks bebas dan gaya hidup modern mungkin dalam jangka waktu pendek tidak menyadari bahwa gejolak kelebihan syahwat yang tidak terkendali itu bisa menjerumuskan dia dalam kenistaan yang nyata.

Bahkan secara teologis hukuman bagi para penikmat seks bebas diganjar dengan hukuman rajam, ini salah satu bentuk hukuman yang diberikan agar orang yang melakukannya bisa memberikan efek jera.

Namun dalam tinjauan kemanusian hukum rajam dinilai tidak manusiawi dan melanggar HAM, karena ada aspek hak asasi yang harus dilindungi, Inilah yang menjadi ambigu, sebenarnya secara hakiki setiap hukuman itu seharusnya memberikan efek jera agar si pelaku tidak mengulanginya lagi,

Sementara ini hukum yang diberlakukan kurang memberikan efek jera, inilah yang menyebabkan bagi para pelaku prostitusi bertindak bebas dengan kemauannya sendiri.

Hal ini seharusnya menjadi pemikiran kita secara serius akan penegakan hukum di Indonesia, prostitusi dan pelacuran sampai kapan pun akan selalu ada, yang harus dicari jalan keluarnya adalah menimalisir agar tidak merebak praktek ini sehingga menjadi illegal dan trafficking secara nyata.

Melihat kasus-kasus tersebut, tingkat pengawasan terutama bagi orang tua untuk lebih waspada dan memperhatikan terhadap anak-anak perempuan mereka yang masih muda belia, agar tidak terjerumus pada bisnis esek-esek (prostitusi) karena telah menggadaikan kehormatan dan harga diri dengan jalan yang murah. Dimana kehormatan dihargai dengan beberapa lembar rupiah.

Edukasi secara terus menerus bisa dilakukan dengan menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dan pengawasan yang ketat secara kondusif, usaha penyadaran akan bahayanya seks bebas serta penyakit yang membahayakan bisa dijadikan senjata ampuh agar tidak melakukan hubungan ini secara mudah. Kita tahu bahwa Bisnis esek-esek bukanlah bisnis yang halal, karena termasuk menjadikan manusia itu kepada jurang kerusakan dan kenistaan.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada September 15, 2012 in Opini

 

Tag: , , ,

2 responses to “Bisnis Esek-Esek (Penikmat Syahwat)

  1. Egi

    Oktober 7, 2012 at 10:23 pm

    Hi Nama saya Egi
    Analisis yang bagus. Itu terjadi karena pendidikan yang kurang dan ekonomi yang memaksa juga.🙂

     
    • hamam burhanuddin

      Oktober 8, 2012 at 12:50 pm

      terima kasih mas Egi telah mampir, alasan klasik yang sering kita dengar disebabkan oleh persoalan ekonomi, tapi hal itu tidak harus menjadi alasan terus-menerus, memutus mata rantai bisnis esek-esek ini lebih penting dengan menciptakan rasa kesadaran akan bahaya dari trafficking dan kekerasan. semoga kita bisa menimalisir akan datangnya bahaya tersebut. salam🙂

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: