RSS

KEMISKINAN BISA MENYEBABKAN TEROR

13 Sep

Memberantas kemiskinan telah menjadi suatu yang imperatif (keharusan) bagi kehidupan manusia, tidak saja didasasrkan pada pertimbangan ekonomi tetapi juga pertimbangan politik, sosial, etik bahkan agama. Dari sudut pandang agama usaha kearah perbaikan ekonomi menjadi suatu keharusan yang harus diupayakan seoptimal mungkin.

Dalam ajaran agama Islam misalnya, memberantas kemiskinan ditempatkan berdampingan dengan ibadah shalat, secara kontekstual terlihat pada pemahaman orang yang telah menunaikan ibadah shalat namun menelantarkan orang miskin, maka shalatnya dianggap sia-sia dan dia diancam sebagai orang yang mendustakan agamanya.

Dari hasil studi analisa UNESCO UNDP dengan tajuk “Basic Education For Empowerment Of The Poor” mengungkapkan bahwa kawasan Asia Pasifik, memberantas kemiskinan ditempuh dengan cara memberantas buta huruf secara fungsional.

Literasi ini dipandang sebagai piranti utama untuk mewujudkan pemberdayaan kaum miskin, yang hingga kini di Negara-negara berkembang jumlah kaum-masyarakat miskin mencapai jumlah lebih dari satu billion, dimana tiga perempatnya berada pada wilayah Asia-Pasifik.

Delegasi forum Rio+20 di Brazil bahwa Pemerintah RI berhasil menurunkan angka kemiskinan dari 24% di tahun 1998 menjadi hanya 12.5% pada tahun ini. Tapi hal ini tidak menjamin bahwa rakyat Indonesia tidak miskin.

Diskursus pemberantasan kemiskinan hingga kini belum dapat terselesaikan dan dapat ditangani dengan baik. Secara konseptual kemiskinan telah dipahami dengan pengertian yang terus berubah dan berkembang cakupannya kemiskinan tidak mungkin hanya ditanggapi sebagai keadaan-kondisi ketiadaan harta.

Kemiskinan seringkali dilukiskan sebagai suatu sistem jaringan (proverty web) dalam jaringan itu terangkai kondisi-kondisi atau kualitas yang serba tidak menguntungkan bagi kehidupan manusia yang bermartabat. Aspek-aspek yang terangkai dalam jaringan kemiskinan seperti : tidak memiliki peluang untuk mendapatkan modal dan kredit, tidak memiliki kesempatan memperoleh penghasilan tidak memiliki tanah tidak memiliki infra struktur dan peluang untuk mendapatkan pelayanan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya.

Tekanan penduduk degradasi lingkungan sebagai akibat eksploitasi yang berlebihan. Rendahnya penghasilan tingkat konsumsi, indikator sosial rendah kedudukan sosialnya dan mengalami marginalisasi, kondisi perumahan yang buruk ,serta tidak memiliki sanitasi dan tidak bisa mengambil bagian dari proses keputusan.

Rendahnya daya kemampuan untuk menjadi tenaga kerja, rendahnya produktifitas-kerja, rendahnya daya tanggap dan kurangnya memanfaatkan pelayanan-pelayanan (kebutuhan) dasar yang tersedia dan tenaga kerja anak-anak.

Rendahnya rasa harga diri fatalism yang diselimuti tahayyul, sukap pragmatis (masa bodoh) kurang percaya diri dan hidup yang tidak teratur.

Mengidap kemelaratan mengalami keterampasan (sociocultural, politik, ekonomi dsb), diskriminasi pengucilan, kurang mampu mencukupi kebutuhan-kebutuhan dirinya, tidak memiliki jaminan untuk mendapatkan tambahan penghasilan.

Tidak sehat, kurang nutrisi mengidap berbagai penyakit harapan hidup rendah, kematian bayi tinggi dan jumlah anggota keluarganya.

Buta aksara (fungsional) tingkat pendidikan rendah, kurang memiliki akses terhadap informasi dan kesehatan keluarga berencana dan ekonomi pasar.

Dari gambaran diatas jaringan kemiskinan terlihat sedemikian rumit dan kompleks berkaitan dengan hal tersebut diatas adakah jalan keluar yang ditawarkan agama untuk menanggulangi kemiskinan?

Solusi Islam

Islam memiliki keberpihakan ajaran untuk memerangi kemiskinan dan secara implicit ajaran-ajaran Islam mendaulat para pemeluknya untuk mengaktualisasikan nilai ajaran-ajaran Islam pada praktek amaliyahnya. Berbagai faktor interaktif mempengaruhi pemeluk dalam menyikapi dan menindak-lanjuti ajaran-ajaran agama, termasuk didalamnya masalah kemiskinan.

Dalam pembahasan yang disampaikan oleh ulama terkenal dari Mesir terkemuka DR. Yusuf Qaradlawy dalam kitabnya Muskilat al-Faqr wa Kaifa Aalajaha al-Islam, yang terbit pada tahun 1975, pendirian Islam tentang kemiskinan adalah

1), Islam menentang anggapan bahwa kemiskinan adalah sarana penyucian jiwa yang karenanya mesti dipelihara. 2), Islam menolak anggapan/pandangan bahwa kemiskinan adalah keadaan yang mesti diterima apa adanya dengan sebab taqdir illahi yang sehingga tidak dapat dihindari.

3), Islam belum memandang cukup hanya menganjurkan hartawan untuk menyantuni kaum papa/miskin, 4), Islam tidak sependapat dengan kaum kapitalis yang menganggap kemiskinan adalah suatu dosa, sedang kaum papa/miskin adalah pemikul tunggal.

5), Islam tidak memilih jalan kekerasan untuk membela nasib kaum miskin sebagaimana dianjurkan kaum komunis dan sosialis.

DR. Yusuf Qaradlawy juga mengemukakan enam langkah yang ditetapkan Islam untuk mengatasi persoalan kemiskinan. Salah satu diantaranya adalah zakat, bersedekah dan berqurban, sebagai suatu jalan alternatif yang intens dibicarakan dalam berbagai diskursus. Qaradlawy amat berminat dan bersungguh-sungguh untuk menggugah semangat kaum muslimin untuk senantiaasa mengefektifkan dalam mentasyrufkan sebagian harta yang dimiliki untuk mengatasi problem kemiskinan yang sudah menjadi bola salju yang tidak bisa dibendung lagi.

Kemiskinan menjadi hal sangat serius untuk segera ditanggulanggi, adanya konsep zakat, sedekah dan qurban semuanya memiliki arti yang sama yakni memberi.

Kadang kemiskinan yang menjangkiti seseorang bisa mempengaruhi terhadap kualitas iman seseorang, karena ketiadaan harta benda dia rela melakukan apa saja agar bisa mempertahankan hidup.

Semakin menyempitnya lapangan pekerjaan, tingkat pengangguran yang tinggi akan menyebabkan timbulnya kerusuhan dan pertikaian dalam kehidupan masyarakat. Kenapa tidak? Hal ini bisa saja terjadi. Masyarakat yang tidak memiliki modal yang cukup untuk mendapatkan pekerjaan bisa berbuat nekad untuk bisa menghasilkan materi demi kepentingan pribadi.

Bahkan jalan kekerasan menjadi provokator dan memanajemen aksi kekerasan, keadaan inilah yang bisa membahayakan bagi ketentraman dan kedamaian masyarakat.

Maka seharusnya bagi yang memiliki harta yang berlebih bisa terancam jiwanya, dan hidupnya tidak tenang, karena tidak mau memperdulikan nasib orang miskin. Sehingga jangan salahkan orang miskin kalau mereka berani untuk melakukan kejahatan, karena sudah bosan untuk menjadi miskin.

Persoalan ini harus ditanggapi secara serius oleh berbagai kalangan, serangkaian aksi teror dan kekerasan yang terjadi ini juga tidak bisa dilepaskan dari faktor ekonomi dan politik yang memanas di negeri kita.

Seandainya saja Negara mau mengelola sumber daya alam yang dimiliki dan memperdayakan masyarakatnya pasti masyarakat akan sejahtera. Ini menjadi perenungan kita bersama bahwa kemiskinan itu bisa menyebabkan aksi teror dan kekerasan dalam kehidupan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 13, 2012 in Opini

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: