RSS

Melatih Anak Berpuasa Tanpa Paksaan dan Kekerasan

15 Agu

Bulan ramadhan merupakan bulan penuh rahmat, berkah, dan ampunan. Sebagai kaum muslimin yang sudah baligh jelas diwajibkan untuk berpuasa saya yang telah berpuluh kali menjalani ibadah puasa, telah mengetahui apa tujuan, makna, dan manfaat berpuasa. Tapi bagaimana dengan anak-anak yang belum baligh?

Saya akan menceritakan pengalaman pribadi saya tentang mengajari anak untuk berpuasa. Ketika saya mengisi ceramah disalah satu sekolah dasar swasta tugas saya untuk menjelaskan kepada siswa-siswi yang masih duduk di bangku sekolah SD waktu melakukan pesantren kliat di sekolah, mereka mulai umur 4-6 tahun. Saya memberikan pengertian yang sangat sederhana dalam memberikan arti, makna, dan manfaat berpuasa. Jika tidak dijelaskan sejak dini, bulan Ramadan akan jatuh seperti “perayaan tahunan”.

Saya harus bisa melatih siswa-siswi saya untuk berpuasa. Tapi melatih siswa berpuasa tidak bisa dilakukan dengan cara paksa. Diperlukan proses yang bertahap. Tahap latihan puasa ini dapat diterapkan pada anak dengan waktu yang tak harus penuh.

Saya pun memberikan contoh sederhana Misalnya, dalam bahasa Jawa ada istilah pasa bedug artinya berbuka setelah bedug zuhur berbunyi. Ada puasa “sungan” (nek lesu mangan) kalau lapar boleh makan, itu semua untuk dapat melatih anak berpuasa

Melatih anak berpuasa pada bulan Ramadan memerlukan perhatian ekstra. Namun perlu dicatat bahwa tujuan utama melatih anak-anak tumbuh kecintaan terhadap ibadah puasa.

Karena itu, dalam latihan, saya selalu memberikan kegembiraan kepada mereka menjalankan puasa harus lebih diutamakan daripada keberhasilan secara kuantitas. tidak sekali-kali memaksakan kehendak atau menuntut anak bisa berpuasa secara penuh.

Untuk anak usia 4-6 tahun, mungkin bisa melatih mereka untuk tidak makan dan minum setiap dua atau tiga jam sesuai kemampuan mereka. Jika mereka sudah tidak bisa lagi menahan lapar, izinkan mereka berbuka dan tambahkan waktu berpuasa hari selanjutnya sampai terbiasa hingga waktu azan zuhur tiba.

Bila sudah terbiasa dan merasa tak merasa terbebani, tambahkan hingga waktu azan asar tiba. Lalu lanjutkan hingga puasa penuh sampai matahari terbenam.

Membangungkan Sahur

Untuk bangun makan sahur bukanlah hal yang mudah bagi anak-anak. Karena itu, perlu sabar untuk membangunkannya. Tanpa emosi dan kemarahan. Kalau perlu selalu membuat suasana rumah menyenangkan, misalnya dengan alunan ayat suci Alquran, nasyid, maupun lagu anak-anak, termasuk menikmati acara televisi.

Untuk menu makanan, siapkan menu yang praktis dan variatif namun sudah cukup kalori. Susu, telur, dan roti, misalnya. Itu adalah pilihan menu yang sering disukai anak-anak. Dan mereka tak butuh waktu yang lama untuk memakannya. Menu itu mampu memenuhi kebutuhan kesehatan dan kekuatan tubuh untuk menjalani ibadah puasa.

Jika anak belum berpengalaman puasa, kemudian jika anak minta berbuka kapan saja, selalu mengizinkan. Namun setelah itu, berikan anak pengertian dan motivasi agar kemampuan berpuasanya semakin ditingkatkan.

Setelah berbuka pukul sepuluh, katakan kepada mereka bahwa mereka bisa melanjutkan puasanya. Begitu seterusnya hingga tiba waktu magrib. Hal terpenting adalah mengikutsertakan anak pada saat berbuka, walaupun mereka telah berbuka sebelumnya. Saat berbuka bisa menjadi “peristiwa rohani” yang membahagiakan anak.

Singkirkan jauh-jauh makanan dan minuman dari pandangan anak-anak. Kosongkan meja serta lemari makan. Kegembiraan saat berbuka atau makan sahur bersama akan memberikan suasana yang lain pada diri anak karena pada waktu berbuka puasa, seluruh keluarga biasanya berkumpul dan bergembira bersama.

Memberikan hadiah atas perjuangan anak untuk berpuasa bisa menambah motivasi bagi mereka. Hadiah tidah harus mahal atau berbentuk benda. Kalau mampu, tidak apa-apa. Kalau ternyata tidak memaksakan diri. Pujilah dia! Ingat, pujian bisa menjadi hadiah istimewa bagi anak.

Mengisi hari selama berpuasa

Untuk mengisi hari-hari anak berpuasa, saya memberikan permainan menyenangkan sehingga perhatian ke rasa lapar teralihkan. Misalnya, membuat kerajinan tangan dari biji-bijian, daun, manik-manik, dan lainnya.

Atau juga memberikan sesuatu yang bisa digunting, dirobek, dilem, sehingga menghasilkan hal menarik. Pilihan lainnya yaitu mengajak anak berkebun atau mengajak mereka memberikan sedekah kepada keluarga atau orang yang kurang beruntung dan biarkan mereka yang memberinya.

Melatih anak untuk memahami dan mengerti tentang puasa dibutuhkan kesabaran dan perlu penjelasan secara arif dan bijaksana agar puasa bisa diterima oleh fikiran anak-anak.

pendekatan yang dilakukan oleh orang tua pada anak usia dini dalam pendidikan puasa haruslah bersifat dialogis tanpa unsur paksaan dan ancaman serta diperlukan latihan secara terus-menerus agar pelaksaan puasa bisa dilakukan oleh anak dengan baik dan benar.

Dari latihan terus menerus yang diajarkan oleh orang tua bisa memberikan dampak positif bagi perkembangan pengetahuan mereka tentang arti dan makna puasa.

Sehingga tujuan akhir dari pendidikan puasa pada anak usia dini adalah menciptakan suasana puasa yang enjoynable rasa senang dan kebahagiaan yang mereka dapatkan juga pendidikan kedisiplinan dalam melatih untuk melaksanakan kewajiban tanpa adanya unsur paksaan atau terbebani ketika mereka sudah beranjak dewasa nanti.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 15, 2012 in Uncategorized

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: