RSS

Menebar Toleransi Di Bulan Suci

08 Agu

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah dan pengampunan, dibulan ini seluruh umat muslim di dunia melaksanakan kewajiban berpuasa, puasa merupakan perwujudan dari rasa keimanan seseorang kepada Tuhan Yang Maha Esa,

Puasa memiliki makna dan arti yang sangat luas, bagi sebagian orang yang berilmu puasa tidak hanya sekedar menahan makan dan minum serta hal-hal yang bisa menyebabkan membatalkan puasa, tetapi lebih mendalami akan hakikat puasa, secara sederhana puasa bisa diartikan menahan, menahan diri dari sesuatu yang bisa membatalkannya, secara lahir dan batin.

Kewajiban ibadah puasa sebenarnya bukan hal baru bagi sejarah umat manusia, sebab – selain dalam agama Islam – ia pernah disyari`atkan juga pada penganut agama-agama samawi lainnya (Yahudi dan Nasrani), walaupun dari segi tata cara pelaksanaan dan ketentuan waktunya berbeda antara satu ajaran dengan ajaran lainnya, hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam al Qur’an surat al Baqarah ayat: 183.

Dalam Islam sendiri, Ibadah puasa mulai diwajibkan pada tahun ke 2 Hijriyah atau 624 Masehi, bersamaan dengan disyari`atkannya sholat ied, zakat fitrah dan kurban idul adha. Hal ini berarti, bahwa puasa adalah sebuah kewajiban yang bersifat universal, berlaku semenjak umat terdahulu, umat muslim saat ini dan masa yang akan datang.

Proses pensyari’atan ibadah puasa dalam Islam, tercatat memiliki tiga fase penting. Pertama : ketika Rasulullah Saw datang ke kota Madinah, puasa diwajibkan dengan cara tiga hari dalam satu bulan. Mekanisme seperti ini dirubah dengan diberlakukannya puasa wajib di bulan Muharram, bentuk ini dianggap sebagai tahap yang kedua. Fase ketiga atau terakhir, yang hingga saat ini dan bahkan sampai seterusnya akan diterapkan, adalah puasa wajib di bulan Ramadhan dengan hitungan satu bulan penuh.

Pada tahap terakhir ini pun kewajiban puasa Ramadhan masih mengalami beberapa perubahan yang tidak prinsipil. Kalau kita menela’ah buku tarikh tasyri’ (sejarah penetapan hukum syari’ah), dijelaskan bahwa pada awal diwajibkan puasa Ramadhan, jenis puasa ini masih memiliki “kelonggaran” bagi seorang muslim, yaitu bebas memilih – walaupun dalam kondisi sehat – antara berpuasa atau bersedekah memberi makan kepada fakir miskin sebagai ganti dari berpuasa, kemudian dengan turunnya ayat “barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” (Qs. al Baqarah: 185) kebebasan memilih ini ditiadakan.

Di sisi lain, kesempitan dalam tata cara berpuasa pada awal-awal diwajibkannya, seperti larangan untuk makan, minum, dan bersetubuh dengan istri pada malam hari, ketika telah mengerjakan sholat Isya` atau tertidur walau belum melaksanakan sholat Isya`, ditiadakan dan ditoleransi dengan turunnya ayat “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu” (Qs. al Baqarah : 187).

Eksistensi ibadah puasa:

Dalam bukunya Ihya Ulum ad Dien, Imam al Ghazali (w: 505 H) menjelaskan bahwa ibadah puasa adalah seperempat dari iman, statemennya ini dilandaskan pada hadits Nabi Saw yang menjelaskan bahwa “Puasa itu setengahnya sifat sabar” (HR. Ahmad dan Turmudzi) dan hadist yang lain “Sifat sabar itu setengahnya iman” (HR. Abu Nuaim), dari kombinasi dua hadits inilah al Ghazali menarik kesimpulan bahwa ibadah puasa adalah seperempat dari iman. (Imam Ghazali, ihya’ ulumuddin)

Puasa memiliki sisi keutamaan jika dibanding dengan ibadah lainnya apabila kita memandang dari dua sudut berikut: Pertama, bahwa puasa adalah proses menahan dan meninggalkan dalam diri seseorang, yang mana tidak ada aktivitas nyata yang bisa dilihat, kecuali hanya oleh Allah Swt. Sedangkan semua perbuatan ta`at (ibadah) bisa dilihat oleh orang lain, sehingga kerap menimbulkan sifat riya (pamer) bagi pelakunya. Kedua, Bahwa puasa adalah upaya bani Adam dalam meminimalisir pengaruh ajakan Iblis. Sebab, syahwat yang notebene alat utama Iblis dalam menjerumuskan anak cucu Adam ke dalam lembah kenistaan, menjadi kuat pengaruhnya dengan suplay makanan dan minuman, sedangkan ibadah puasa adalah upaya menahan kedua-duanya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw pernah menjelaskan bahwa keleluasan Iblis dalam menggoda manusia hanya bisa dipersempit dengan rasa lapar (HR. Bukhori dan Muslim).

Sedangkan dalam kacamata Tasawuf – menurut imam al Ghazali – ibadah puasa terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu : Pertama, Shaum al Umum, hanya menahan perut dan alat kelamin dari syahwat. Kedua, Shaum al Khusus, yaitu puasanya orang-orang saleh, menahan anggota tubuh dari perbuatan maksiat, dengan menjaga enam perkara : 1) menjaga mata dari melihat sesuatu yang buruk menurut norma agama. 2) menjaga lisan dari berdusta, memfitnah, dan perkataan keji. 3) menjaga telinga dari mendengar segala sesuatu yang haram untuk didengar. 4) menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan-perbuatan negatif. 5) menjaga untuk tidak berlebihan saat berbuka puasa. 6) menjaga hati untuk terus terikat dengan khauf (rasa takut) dan raja’ (pengharapan), agar sadar bahwa ibadah puasanya bisa saja diterima oleh Allah Swt, sehingga termasuk orang-orang yang beruntung atau ditolak sehingga termasuk orang-orang yang merugi.

Tingkatan terakhir, Shaum khusus al Khusus, mencakup puasanya hati dari sesuatu yang hina dan rendah, dari urusan-urusan duniawi kecuali yang diharapkan untuk bekal ukhrowi. Tingkatan ini hanya bisa direalisasikan oleh Anbiya (para nabi), Shidiqien (para hamba yang jujur), dan Muqorrobien (para kekasih). (baca Syaerozi: sejarah dan hikmah puasa)

Menebar toleransi

Puasa juga bisa dimaknai junnatun (perisai) perisai bagi orang-orang yang ingin melakukan perbuatan dosa dan maksiat kepada orang diri sendiri dan orang lain, menghindarkan diri dari perbuatan aniaya, dholimi bahkan perilaku yang menjerumuskannya pada kerusakan yang nyata.

Hal ini bisa dipahami bagaimana puasa bisa memberikan dampak yang positif bagi pelaku yang menjalaninya kalau orang tersebut bisa memahami akan hakikat puasa.

Puasa juga bisa dijadikan untuk hidup rukun dan menebarkan toleransi, perilaku berpuasa akan mencegah seseorang untuk melakukan tindakan kekerasan, kerusuhan dan penebar kedholiman bagi orang lain atau penganut agama lain.

Contoh saja banyak kasus kerusuhan dan kekerasan yang terjadi di indonesia itu disebabkan oleh perilaku yang sewenang-wenang ingin main hakim sendiri sehingga mereka menggunakan segala amarahnya untuk membuat onar.

Dalam Islam orang yang berpuasa melakukan tindakan tersebut jelas dia belum bisa memahami akan makna puasa dan yang terjadi adalah puasa tersebut menjadi sis-sia

Puasa menjadi momentum terpenting bagi umat Islam untuk bisa menahan diri menahan amarah untuk tidak melakukan tindakan anarkhis dan kekerasan. Semoga pelaksanaan ibadah puasa ini menjadi salah satu bentuk untuk mengubah diri, mengubah karakter, serta memperbaiki perilaku-perilaku yang menyimpang yang jauh dari rahmat lil alamin. Selamat berpuasa bagi yang menjalankan puasa, mari tebarkan toleransi untuk menjadi pribadi yang muttaqin. Semoga.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 8, 2012 in Opini

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: