RSS

Deisme Vs Organized Religion

02 Agu

Setiap agama sepenuhnya diyakini sebagai wahyu dari Tuhan, namun dalam perkembangannya ajaran yang bersifat ilahi tadi mesti berdialog dan berkompromi dengan nilai-nilai serta simbol yang bersifat sekuler. Intuisi iman yang mengarah pada Tuhan pada gilirannya memantul-balik pada persoalan kemanusiaan sehingga melahirkan intuisi keagamaan yang memiliki dimensi sosiologis-horisontal.

Perkembangan lebih jauh lagi, ketika manusia menangkap agama secara kuat pada dimensi intuisinya, bukanya pada roh dan intuisinya, maka agama tanpa disadari akan menjelma sekedar sebagai tradisi dan intitusi sosial yang diteruskan secara turun menurun. Akibat lebih jauh lagi, bisa jadi sebuah agama dalam perjalanannya lalu berubah menjadi ideologi ataupun dihayati sebagai khazanah  budaya nenek moyang, yang kehilangan daya panggil untuk mendekatkan diri pada Tuhan.

Ketika agama tampil sebagai ideologi dan institusi sosial, maka agama akan berhadapan dengan ideologi sekuler yang juga menawarkan jasa serta janji bagi penyelesaian problem kemanusiaan. Dalam sejarah barat, kompetisi antara agama dan ideologi sekuler ini berlangsung cukup lama dan seru, dan dalam banyak hal kelihatannya ideologi sekuler lebih unggul sehingga posisi agama tergeser kepinggir.

kebutuhan pokok manusia yang dianggap permanen dari zaman ke zaman, semisal kesehatan, perumahan, kehidupan berbangsa, ekonomi, iptek, perdamain dan sebagainya, kesemuanya itu tidak lagi menjadi urusan institusi agama melainkan lebih banyak diselesaikan oleh ilmu pengetahuan dan ideologi serta birokrasi sekuler yang berkembang secara otonom dan tidak lagi memerlukan bantuan lembaga agama. Bahkan yang terjadi kemudian malah sebaliknya, yaitu agama justru membawa pada perpecahan dan bahkan pertumpahan darah.

Demikianlah, ketika klaim dan petuah agama mengalami krisis wibawa, terlebih lagi jika krisis itu disertai konflik interes antar tokoh agama dan politisis, maka agama dalam dimensi institusionalnya secara sosiologis mengalami proses marginialisasi peran, untuk tidak mengatakan kehilangan fungsi sosialnya,

Jika pada abad tengah pusat-pusat perubahan sosial berada ditangan lembaga agama dan para tokohnya, maka dalam masyarakat modern perubahan sosial lebih banyak digerakkan oleh lembaga sekuler seperti halnya kampus, pabrik, parlemen dan perbankan.

Demikian efektinya birokrasi sekuler ini dalam melayani kebutuhan masyarakat modern sehingga masyarakat modern tak lagi merasa tergantung lagi kepada lembaga agama dalam menyelesaikan kehidupan sehari-hari. Proses sekularisasi ini semakin menguat ketikaka ilmu pengetahuan dan filsafat dirasakan lebih mudah dicerna oleh nalar dalam menjawab persoalan hidup ketimbang jawaban yang diberikan oleh agama yang cederung dogmatis dan kadangkala irasional.

Dengan kata lain dewasa ini terdapat madzab pemikiran filsafat yang secara fungsional telah menggeser agama formal yang pada pendukungnya merasa cukup untuk mengenal Tuhan dan merancang hidup yang dianggap lebi tanpa harus mengacu pada agama formal.

Pendekatan subtansional dan upaya spekulatif intelektual tentang hakikat keberagamaan yang berada di luar jalur teologi sesungguhnya telah muncul secara mengesankan sejak masa Yunani kuno. Perkembangan pendekatan semacam itu semakin terlihat jelas dan tegas pada masa pasca renaisans, yaitu ketika wibawa gereja dan lembaga formal agama menurun, wacana filosofis tentang agama dan Tuhan mengalami kemajuan yang amat pesat sehingga benar-benar mampu menggeser dominasi wacana teologis yang berpusat di gereja.

Pendekatan subtansional tersebut bisa kita sebut yang paling menonjol sejak dahulu hingga kini adalah pendekatan deisme. Mereka yang beraliran deisme ini berpandangan bahwa agama-agama formal (organized religions) semisal Yahudi, Nasrani, dan Islam adalah sebagai tidak memiliki masa depan. Yang bertahan bagi mereka adalah pesan-pesannya yang universal namun ritus-ritus formal dan label-label yang membungkusnya akan semakin ditinggalkan orang.

Thomas Jefferson dan Albert eisntein adalah dua tokoh terkemuka yang termasuk sebagai pendukung aliran deisme alami itu. Jefferson, misalnya secara tegas beriman kepada Tuhan (Deisme), kepada kebenaran universal (universalisme) tetapi tidak merasa perlu mengikatkan diri kepada salah satu dari agama-agama formal yang ada. Bahkan ia meramalkan pahamnya akan menjadi agama seluruh umat manusia, dan dalam jangka waktu dua ratus tahun akan menggeser agama-agama formal yang ada.

Tampaknya bagi mereka yang beraliran semacam ini agama-agama formal tersebut dipandang telah mempersempit universalitas ajaran Tuhan, untuk menyelamatkan keluhuran dan universilitas ajaran Tuhan, menurut logika ini, maka bentuk formal agama yang telah berfungsi sebagai tembok-tembok pemisah itu harus didekonstruksi dan yang dilestarikan dimensi etnisnya saja sehingga ajaran-ajaran Tuhan itu berlaku bagi siapa saja, dimana saja dan kapan saja.

Sedangkan agama-agama formal semacam Yahudi, Kristen dan Islam juga yang lainnya menjadikan ajaran-ajaran Tuhan terpecah-pecah dan terpilah-pilah yang pada gilirannya mengajak kita pada suatu kesan ataupun kesimpulan bahwa Tuhan telah mendiskreditkan sebagian kelompok manusia dan mengangkat (derajat) sebagian yang lain. Atas dasar analisa seperti itulah tampaknya dua orang futurology, Jhon Naisbitt dan Patricia Aburdene (suami-istri) meramalkan akan munculnya kecenderungan baru, Spirituality Yes, Organized Religion, No.

Meskipun sikap keberagamaan di atas memiliki banyak pendukung dan memiliki hak hidup sebagaimana agama dan filsafat hidup lainnya, namun tentu saja keberagamaan semacam ini tidak luput dari berbagai kritik, terutama dari kalangan agamawan yang ortodoks. Nurcholis Madjid misalnya pemikir Islam yang oleh teman-temannya dinilai sebagai tokoh pembaharuan yang cukup liberal. Melontarkan kritik yang tajam terhadap tipologi keberagaman di atas.

Katanya optimisme dan ramalan penganut Deisme alam itu, setelah berjalan beratus-ratus tahun lamanya, ternyata tidak semuanya benar, untuk tidak mengatakan meleset sama sekali. Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Kenyataanya agama-agama formal yang diramalkan sebagai tidak memiliki masa depan itu ternyata semakin menunjukkan kekuatannya.

Agama Yahudi semakin kuat dipeluk oleh orang-orang Israel. Agama Kristen juga tetap banyak dipeluk oleh orang-orang dibarat. Islam pun semakin menunjukkkan revivalitasnya walau pun baru sebatas ukuran kuantitas karena semakin tambahnya bangsa-bangsa lain yang tadinya non muslim beralih menjadi memeluk agama Islam. Oleh karenanya, tidaklah sepenuhnya benar analisa yang menyatakan bahwa organized religion (agama-agama terorganisasi) sebagai agama-agama yang ditinggalkan orang. Kenyataan menunjukkan bahwa kebangkitan agama-agama formal itu semakin kuat dan membesar sampai pada batas tertentu antara kebangkitan agama dan semangat etnis telah berpadu secara simbiotik.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 2, 2012 in Opini

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: