RSS

KECENDRUNGAN BERAGAMA YANG SKRIPTUALIS

26 Jul

Oleh Hamam Burhanuddin

Satu kecenderungan bagi para pemeluk agama-agama adalah adanya tafsiran dan akutalisasi dari ajaran-ajaran kitab sucinya secara scriptural. Selain corak dan gaya semangat keberagamaan semacam ini bisa terkesan lebih mementingkan, bahkan hanya memberikan ajaran agama yang dianutnya saja tanpa melirik sedikit pun kepada ajaran agama lain yang berbeda, karena dianggapnya sebagai sesat dan salah karenanya tidak mendapatkan tempat di dunia ini juga karenanya menjadi sangat ideologis. Kenyataan semacam ini mudah dimaklumi, mengingat gerakan ini seolah bertujuan menyingkirkan ajaran agama-agama lain karena tidak layak hidup dan tidak layak diaktualisasikan di bumi ini.

Gerakan semacam ini akan terlihat pada setiap pemeluk agama pada tingkat kognisi tertentu. Karena bagi mereka yang beraliran seperti ini memiliki semangat semacam ini merupakan poin penting untuk meningkatkan kadar keimanan terhadap agamanya. Oleh karenanya, gerakan ini cenderung untuk mengarah kepada suatu kondisi ekslusif terhadap ajaran agama lain yang berbeda dan para pemeluk agama semacam ini biasanya tampil lebih militan.

Kondisi semacam ini jika terus berlangsung dengan sikap-sikap keras klaim menang dan benar sendiri, akan berbahaya bagi kehidupan bersama secara plural. Gerakan ini biasanya sama sekali sikap keterbukaan dan karenanya cenderung menghilangkan dan meyakini adanya pluralisme dalam keyakinan beragama. Bahaya lebih serius akan timbul, karena sikap eksklusif dan klaim menang dan benar sendiri pada akhirnya diterapkan secara internal dalam satu ajaran agama. Mereka biasanya menginginkan satu kondisi yang monolitik, agar terciptanya situasi persatuan yang akan memperkuat barisan.

Kecenderungan gerakan semacam ini, meskipun terlihat agak norak dan seakan tidak memiliki masa depan dan hanya bagi mereka yang kapasitas intelektualnya sedikit terbatas saja, tapi kenyataannya dari masa ke masa pengikutnya banyak dan mmebuat sedikit kerepotan gerakan kaum yang cenderung terbuka dan berwawasan kedepan dengan ideologi pembaruan. Karenanya gerakan semacam ini agaknya tidak bisa dipandang sebagai sambil lalu dan dicibirkan sebagai yang diikuti oleh mereka yang “kurang” kadar intelektualnya. Gerakan ini ternyata juga banyak digandrungi oleh mereka yang biasanya secara intelektual “muallaf” dalam bidang keagamaan.

Perkembangan kognisi suatu masyarakat yang demikian itu tidak bisa dipandang kecil sebab hampir setiap orang (akan) mengalami tingkat kognisi ini. Karenanya bukan berarti perkembangan semacam ini harus dimusuhi dan bahkan diberangus karena penampilannya seakan jadi ancaman mengerikan bagi kelompok yang lain yang berbeda, melainkan ia harus dipandang sebagai sesuatu yang (akan) berada berdasarkan kenyataan hidup secara alami. Maka dalam konteks ini, yang perlu diperhatikan secara serius bukanlah ide-ide yang cenderung mungkin berbeda dan terkesan kering serta formalistik melainkan sikap yang mudah mengklaim sebagai hanya idenya saja yang benar dan yang lain yang berbeda adalah sebagai salah karenanya sesat dan harus dijauhi dan dimusuhi.

Sikap sempit dan cara berpikir radikal sebagai salah mutlak dan atau benar mutlak, atau cara berpikir yang sering menyalahkan secara keseluruhan dan membenarkan secara keseluruhan, itulah yang tampaknya yang harus dibrangus dan ditanam dalam-dalam agar tidak menjadi panutan bagi khususnya generasi kini dan mendatang dan bagi kelompok penganut agama apapun.

Bagi sebagian orang, mungkin fenomena keberagamaan semacam ini yang kini ditanah air memang sudah mulai semarak dianggap sebagai fenomena kebangkitan agama. Anggapan ini tampaknya tidak tepat untuk tidak mengatakan salah secara total. Kalau kita hendak melacak apa dan bagaimana fenomena kebangkitan agama itu, tentunya harus dicari petunjukkan  dibalik gejala kemampuan agama dalam menjawab tantangan zaman.

Karenanya mendiskusikan tentang kebangkitan agama berarti sama halnya dengan mendiskusikan tentang kemampuan para pemeluk agama dalam merumuskan ajaran-ajaran keimanannya agar relevan dengan tantangan dan perkembangan zaman. Dalam konteks ini agaknya tidak relevan lagi masing-masing pemeluk agama menyuarakan bahwa ajaran agamanya sebagai yang paling hebat, paling aktual, paling tinggi dan paling-paling lainnya.

Apalah artinya hebat dan tingginya suatu ajaran jika para pemeluknya ternyata tidak mampu mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari dan tidak mampu mencerminkan kehebatan dan ketinggian ajarannya tersebut.

Jadi fenomena kemunculan corak keberagamaan bergaya skriptural-ideologis ini tampaknya memang bukan khas suatu kebangkitan agama, sebab ia justtru seakan mengancam kelompok keyakinan lain. Padahal bagaimana agama diciptakan oleh Tuhan untuk kebahagiaan umat manusia. Agama diciptakan sebagai “jalan”, sebagai “sarana” dan sebagai “media” untuk menghantarkan umat manusia ke haribaan Keagungan Tuhan agar bisa mencapai hidup yang aman sejahtera, gemah ripah loh-jinawi. Jika corak keberagamaan yang muncul secara kuat itu bergaya skriptural-ideologis, maka justru corak keberagamaan semacam itu akan menjadi sebab terjadinya permusuhan, bahkan malah perang antar sesama umat manusia yang berlainan keyakinan.

Jadinya terjadi suatu keironisan, yang awalnya agama untuk menjadikan umat manusia damai dan sejahtera, tetapi malah agama menjadikan umat manusia bermusuhan dan berperang. Kalau peristiwa semacam ini yang terjadi, maka tidak salah kalau banyak orang mengatakan bahwa agama memiliki cacat bawaan sebagai pemicu permusuhan dan perang antar sesama manusia, bagi mereka yang beragama secara demikian, padahal tujuan beragama adalah mencari dan memperoleh ridho Tuhan dengan harapan akan bisa berjumpa dengan Tuhan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 26, 2012 in Kajian Islam, Opini

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: