RSS

Memahami Jalan keselamatan Tiap Agama Demi Toleransi

22 Jul

Meskipun secara rasional kita menerima kenyataan adanya pluralitas agama dan berbagai tawaran jalan keselamatan eskatologis, namun setiap orang beragama selalu dituntut untuk menerima, mengakui dan meyakini bahwa hanya jalan keselamatan miliknya yang paling benar. Tanpa adanya keyakinan yang mantap dan sikap mengabsolutkan kebenaran imannya itu maka seseorang akan ragu dalam menjalani perintah agamanya dan bisa jadi dirinya sebagai orang yang setengah-setengah dalam beragama.

Pendeknya, keimanan yang sehat dan menentramkan adalah keimanan yang menutup diri dari perspektif perbandingan. Tanpa adanya keyakinan kuat bahwa jalan yang ditempuhnya adalah jalan yang lurus yang menghubungkan dirinya dan Tuhan, maka seseorang sulit untuk memperoleh kekhusu’an dan pencerahan spiritual.

Pengalaman iman pada akhirnya adalah pengalaman subyektif, yang kadangkala merupakan pengalaman dari sebuah pendakian terjal, berat dan penuh resiko untuk sampai pada taman pencerahan yang bertahun-tahun baru bisa diraihnya. Pada titik ini maka berbagai wacana teoritis yang disajikan oleh teologi dan disiplin-disiplin ilmu-ilmu keagamaan sudah terhenti dan tak sanggup lagi menyertainya.

Puncak pencerahan ini sangat bisa jadi merupakan salah satu misteri pengalaman Muhammad sewaktu Mi’raj di mana malaikat Jibril pun sayapnya terbakar sehingga tidak sanggup lagi menyertai sang Rasul mentap keindahan wajah sang Kekasih.

Hal serupa mungkin juga dialami oleh Shidarta Gautama atau Laotze atau tokoh spiritual lain semacam Yesus sehingga dari diri mereka terpancar cahaya kebenaran ilahi yang menerangi dan member ketentraman pada manusia sepanjang masa. Hanya saja, cahaya kebenaran ilahi yang diterima oleh radar rohani mereka yang sangat bening dan halus itu tidak mungkin diartikulasikan secara memadai oleh rangkaian huruf, deretan kata, dan hujah ilmiah.

Lebih dari itu, agar pesan illahi yang agung itu memiliki fungsi sosial secara efektif, maka harus diterjemahkan ke dalam etika sosial dan pranata-pranata ritual. Dan inilah yang lalu popular disebut sebagai lembaga agama.

Pemahaman akan pluralitas keselamatan agama

Agama dalam level kedua ini sudah merupakan fenomen historis, relativ, tetapi bersumber dari yang  absolut. Para rasul Tuhan, yang artinya utusan atau perantara, adalah mereka yang memiliki kualitas intelektual dan ruhani yang unggul, yang melakukan peran hermeneutika transcendental. Artinya ke atas mereka menangkap pesan Tuhan dan ke bawah pesan itu diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa dan kode etik yang bisa dipahami oleh umat dan masyarakatnya.

Yang menjadi pertanyaan sekarang ini adalah, apakah jalan untuk meraih kebenaran hanya dimonopoli oleh para rasul Tuhan yang memperoleh wahyu dan mu’jizat sehingga orang lain tidak memiliki akses ke sana?

Para filsuf dan ahli sufi berpendapat bahwa setiap orang bisa mencapai maqam kenabian asalkan sanggup dan berhasil mensucikan dirinya dan mempertajam mata hatinya. Hanya saja karena peradaban manusia berkembang secara evaluatif dan kualitas manusia bertingkat-tingkat, maka setiap tempat dan zaman pasti muncul figur-figur sang penerang, yang pada zaman dahulu posisi tersebut diduduki oleh para Rasul Tuhan. Tetapi dengan diyakininya bahwa Tuhan tidak lagi mendekritkan bagi tampilnya seorang Rasul dengan kualifikasi dan tipologi nabi-nabi yang terdahulu, yang ditutup oleh Muhammad SAW, maka sesungguhnya lowongan dan tuntutan peran kenabian semakin besar dan terbuka bagi mereka yang telah mencapai maqam (kedudukan) tertentu.

Jika untuk memperoleh pengetahuan absolut yang membimbing ke arah jalan kebenaran dalam rangka mendekati sang kebenaran (al-haqq) hanya dan harus melalui jalan wahyu kenabian yaitu memperoleh wahyu atau setidaknya bisa membaca dan mendalami kitab suci—maka berapa banyak orang yang tidak menemukan jalan itu, perjalanan akan lebih terjal dan menyempit jika jalan wahyu itupun harus ditelusuri melalui bahasa asli kitab suci.

Sementara itu, persoalan akan tetap muncul yaitu orang mencari Tuhan tanpa wahyu, adakah jaminan keselamatannya? Debat semacam ini sesungguhnya sudah klasik. Hanya saja dahulu tema ini dimunculkan sebagai olah pikir atau akrobat intelektual dalam wacana kegamaan, terutama, dalam bidang ilmu kalam (‘ilm al-kalam) dan filsafat, sedangkan kini menjadi persoalan praksis.

Terlebih dengan perekembangan ilmu pengetahuan yang sudah melampui batas-batas empiris, seperti halnya fisika kuantum dan psikologi transcendental, maka akan terlihat bahwa disana terdapat banyak kemungkinan untuk menemukan jalan baru yang mengantarkan ilmuwan untuk mengenal dan meyakini Tuhan diluar tradisi Biblikal dan kependetaan.

Satu dari sekian banyak buku yang saya baca adalah bukunya Frank J. Tipler yang berjudul The Physics of immortality, Modern Cosmolgy God and the Resurrection of the Dead (1994). Sebagaimana kebanyakan ilmuwan sekuler Barat yang tidak percaya akan adanya Tuhan dan hari akhirat, Tipler mengatakan bahwa pada mulanya ia pun seoerang ateis, tetapi dengan kesungguhan dan konsistensinya mendalami fisika kuantum yang menjadi kegemarannya akhirnay ia sampai pada keyakinan bahwa pusat dan penggerak serta pengatur segala wujud ini adalah Tuhan. Lebih jauh lagi Tipler sangat yakin dengan teorinya bahwa roh itu tidak mungkin hancur dan kehidupan duni ini merupakan serentetan dari perjalanan rohani di mana segala perbuatan baik dan buruk itu akhirnya akan tetap kembali pada pelakunya dengan segala akibat baik-buruknya. Dengan rumus-rumus ilmiahnya Tipler memperkuat ajaran kitab suci bahwa hari kebangkitan itu pasti terjadi dan orang tidak bisa lari dari mahmakah pengadilan yang dilakukan oleh amal perbuatannya sendiri.

Dengan mengikuti uraian Tipler di atas, sedikitnya dua hal yang ingin saya katakana berkenaan dengan persoalan tersebut, pertama. Dengan kasih-sayang dan kemutlakan Tuhan, maka pintu kedekatan untuk mencitai, menyapa dan bertanya kepada –Nya tidak terbatas hanya pada jalan-jalan yang ditawarkan oleh teologi agama-agama besar, khususnya Yahudi, Nasrani dan Islam. System teologi sebatas sebagai bangunan informasi dan epistemologi keagamaan, ia tak jauh berbeda dari bangunan informasi dalam bidang keilmuan lain. Itulah sebabnya seorang professor dalam bidang Teologi ataupun Hukum agama tidak selalu orang yang hidupnya religious.

Kedua, ajaran-ajaran agama yang dibakukan sangat diperlukan oleh manusia untuk membantu mewujudkan ketertiban sosial dan member rambu-rambu untuk melakukan latihan mental-spiritual melalui ritus-ritus keagamaan. Namun etika sosial dan praktek ritus keagamaan bukanlah tujuan dan keduanya akan mongering kehilangan daya sinerginya ketika radar spiritualitas seseorang berhenti bekerja. Sebab perhentian itu berarti akan menghilangkan sebuah komitmen pencarian dan kontak terus-menerus pada sumber kebenaran dan sumber pencerahan, yaitu Tuhan. Debat tentang dalil dan ilmu kegamaan ternyata sangat berbeda dari dialog tentang pengalaman kebertuhanan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 22, 2012 in Opini

 

Tag: , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: