RSS

TEO-TEKNOLOGI

16 Jul

Sejarah Barat (kristen) sangat banyak memberikan pelajaran berharga bagi bangsa yang beragama semisal negeri kita ini. Kita bisa saksikan sejak menjelang abad ke-15 Masehi, orang Barat, meminjam ungkapan Arnold Toynbee, berterimakasih tidak kepada kepada Tuhan tetapi kepada dirinya sendiri karena ia telah berhasil mengatasi kungkungan Kristen abad pertengahan. Ini artinya, bahwa sejak abad itu orang Barat sudah tidak lagi percaya kepada agama. Sejak itu orang Barat beralih kepercayaan, dari agama Kristen gereja ke ilmu pengetahuan, yang telah membuktikan kecanggihannya melalui teknologi. Maka sejak itulah ilmu pengetahuan diyakini bagaikan “agama baru” yang mampu menjawab berbagai kebutuhan manusia.

Aspek metafisika yang sakral karenanya hilang dan segala sesuatu dipandang hanya secara materi belaka. Disinilah inti modernisme yang ditolak kaum tradisional, yaitu suatu pandangan yang hanya melulu mempercayai materi. Segala sesuatu dipandang sebatas benda yang bisa dilihat secara indrawi saja.

Berbeda dengan masyarakat tradisional, bahwa segala sesuatu itu memiliki hakikat. Hakikat itulah yang sebenarnya realitas.

Satu hal pula yang perlu diungkap disini adalah bahwa sains dan teknologi menyebabkan Barat, apakah itu modern maupun yang menyebut pasca-modern, tetap memiliki keinginan ekspan-sionistik. Sifat ekspansionistik sains dan teknologi ini terlihat tidak hanya dalam hal penyebarannya ke seluruh dunia, tapi juga ia bisa merampas cara-cara berpikir yang lain, semisal wahyu.

Satu contoh menarik misalnya tentang seseorang yang sakit. Bagi masyarakat modern, sakit bisa disembuhkan dengan obat tertentu yang sesuai dengan sakitnya. Bagi masyarakat tradisional, seorang yang sakit bisa disembuhkan oleh seorang tabib atau dukun. Betul memang bahwa obat yang dibawa orang modern itu bisa menyembuhkan dengan segera dan tepat. Tapi obat itu hanya mampu menyembuhkan penyakit saja. Berbeda dengan tabib atau dukun, mungkin bisa kurang tepat menyembuhkan jenis-jenis penyakit, tapi ia bisa memberikan penjelasan tentang makna dan tujuan hidup. Makna dan tujuan hidup itulah yang kini hilang pada kebanyakan orang modern.

agama dalam publik

Namun di era globalisasi yang ditandai dengan tingkat kecanggihan teknologi ini, agama mulai terlihat kembali dibicarakan oleh banyak orang, karena memiliki kesempatan yang jauh lebih besar untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Dan umat manusia tentunya merasa bersyukur mengingat pembicaraan agama berarti sebagai pertanda bahwa umat manusia mulai lagi membicarakan dan mencari tentang makna dan tujuan hidup. Dan kita tahu bahwa secara historis-sosiologis agama-agama besar yang berkembang dewasa ini pada mulanya lahir pada satu masyarakat parochial atau regional, bukan masyarakat terbuka (open society) sebagaimana yang kita temukan sekarang ini. Karenanya kondisi agama pada awal kelahirannya sama sekali berbeda dengan kondisi agama, terutama pada masa kini.

Akibat perkembangan demografi serta revolusi teknologi transformasi dan informatika, maka agama bagaikan dalam dunia bisnis kini memasuki pasaran informasi internasional. Informasi keagamaan yang dikemas dalam bentuk buku, video kaset, seminar, meditasi, ideologi keagamaan dan semacamnya mudah dijumpai dimana-mana.

Salah satu fakta di depan kita adalah bahwa semua program televisi, radio dan media massa di tanah air ini secara kompetitif ikut menawarkan informasi kegamaan apalagi akan memasuki bulan puasa (ramadhan) belum lagi pusat-pusat studi kegamaan yang berpusat di perguruan tinggi yang jumlahnya kian tahun kian meningkat, baik di dalam maupun di luar negeri. Apa makna dan akibat dari fenomena ini semua?

Salah satu fenomena yang baru adalah bahwa tawaran moral dan informasi kegamaan tidak lagi secara ekslusif hanya dimiliki dan diapresiasi oleh satu kelompok seiman dalam pengertiannya yang konvensional. Dari hasil penelitian sederhana, ternyata ceramah agama di televisi serta buku-buku agama yang beredar peminatnya terdiri dari berbagai kelompok agama.

Bagi masyarakat tradisional agama parochial itu sangat besar fungsinya untuk memelihara kohesi, integritas dan sumber makna hidup bagi mereka di saat nilai-nilai baru yang asing secara ekspansif merembes ke dunia kognitif mereka. Namun, begitu bagi lapisan atau kelompok masyarakat tertentu yang berada dalam jalur dan strata peradaban mondial sangat mungkin yang tengah berlangsung adalah sebaliknya, yaitu terjadinya proses eklektisasi nilai-nilai agama yang universal dan humanistik yang diambil dari agama-agama parochial. Proses ini pada gilirannya akan mengantarkan bagi lahirnya agama atau setidaknya sikap keberagamaan baru dengna semangat serta teologi yang baru pula.

Bisa saja seseorang mempertahankan nama sebuah agama tradisional dengan bangunan teologinya yang telah mapan. Tetapi kita sulit mengelak suatu kenyataan bahwa pemikiran dan pemahaman orang tentang agama itu selalu berkembang dalam sejarah. Bahkan tidaklah terlalu salah untuk mengatakan bahwa agama yang kita pahami dan anut sekarang ini adalah agama sebagai produk sejarah.

Menurut para ahli psikologi, kapasitas penalaran manusia yang teraktualisasikan belum mencapai 13 persen. Bahkan manyoritas manusia masih di bawah 5 persen. Artinya cara pandang manusia terhadap alam, terhadap dirinya, terhadap warisan sejarah serta paham agama yang dianutnya akan selalu mengalami evolusi dan bahkan lompatan paradigma.

Hal itu telah dibuktikan dalam sejarah. Betapa banyak dalil ilmu pengetahuan alam telah dipatahkan dan diganti dengan rumus yang baru yang lebih valid. Juga beberapa banyak agama-agama kuno yang telah hilang dan tidak lagi muncul, sementara beberbagai kepercayaan agama yang masih bertahan dihadapkan pada gempuran proses demitologisasi dan sekularisasi.

Mitos-mitos lama tumbang dan kemudian memunculkan kembali mitos-mitos baru. Bagaikan kaki langit, mitos merangsang imajinasi bagi aktivitas logos untuk mengejarnya. Dan begitu didekati, maka kai langit tetap berada jauh dari tatapan mata.

Oleh karenya salah satu kerja nalar adalah merobohkan tembok “frontier” yang menghadangnya, tettapi perburuan nalar manusia tidak pernah, mencapai garis limit. Ketika umur dan prestasi keilmuan jutaan garis limit. Ketika umur dan prestasi keilmuan jutaan generasi manusia dijumlah, manusia semakin sadar bahwa “wilayah” kosmik yang ditemuinya jauh lebih besar ketimbang “peta” yang disusunya.

Para filsuf dan ilmuan senang munyusun peta kosmik dan peta kehidupan, tetapi mereka pun menyadari bahwa ternyata realitas teritori kehidupan yang dijumpai jauh lebih kompleks ketimbang peta yang disusun.

Sehubungan dengan pemikiran di atas, maka kita tidak perlu marah jika terdapat ilmuwan yang secara sinis mengatakan bahwa orang beragama sering memposisikan Tuhan sebagai “God of the gap”. Ketika nalar tidak sampai untuk memahami misteri dan kompleksitas realitas semesta maka disitulah Tuhan dihadirkan untuk menentramkan kebingunan kita. Tetapi ketika sebagian teka-teki tersebut terpecahkan, maka posisi Tuhan lalu digeser lagi. Seperti ungkapan Ibn al-Arabi Tuhan akan hadir dan menyapa manusia sesuai dengan persepsi manusia tentang-Nya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 16, 2012 in Opini

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: