RSS

Esoterisme Beragama

11 Jul

Esotersime yang secara intrinsik memang sudah dengan sendirinya bersifat universal dan karenanya sangat terbuka meniscayakan pluralitas eksistensi agama. Pluralitas eksistensi agama, yang kita sebut kemudian sebagai eksoterisme agama karenanya tidaklah serta merta dianggap sebagai suatu kesesatan yang terkutuk, melainkan sebagiannya merupakan keharusan penjelmaan historis dari esensi agama yang bersifat esoterik.

Kebenaran abadi yang universal akan selalu ditemukan pada setiap agama, walaupun bungkusnya yang berbeda-beda. Karena perbedaan bungkus inilah maka kesulitan, kesalahpahaman dan perselisihan antar pemeluk agama seringkali muncul ke permukaan.

Pada tahap ini, agama muncul dengan ragam wajah dan ragam bahasa sementara kita cenderung melihat perbedaannya ketimbang persamaannya. Namun, kecenderungan melihat perbedaan itu pun tidak perlu disalahkan karena setiap orang beriman senantiasa ingin mencari, menggenggam dan membela kebenaran yang diyakininya berdasarkan pengetahuan dan tradisi yang dimilikinya. Dan sikap demikian tentu saja sikap yang terpuji, selama tidak menimbulkan situasi sosial yang destruktif.

Demikianlah, kecenderungan ekslusivisme itu memang sesuatu yang secara intrinsik dimiliki pada tahap keberagamaan eksoterisme, dan secara psikologis seseorang akan lebih mudah memberikan afirmasi terhadap kebenaran agama yang dianutnya antara lain dengan cara menegasikan atau menyalahkan keberagamaan orang lain. Artinya, terdapat pribadi yang hanya dengan jalan menyalahkan iman orang lain maka ia baru merasa lega dan semakin yakin akan kebenaran iman yang dipeluknya.

Secara empiris adalah suatu kemustahilan jika kita mengidealisasikan munculnya kebenaran tunggal yang tampil dengan format dan bungkus tunggal, lalu ditangkap oleh manusia dengan pemahaman serta keyakinan yang seragam dan tunggal pula. Oleh karenanya, pertanyaan yang perlu kita jawab antara lain adalah adakah pluralitas agama dan keberagamaan itu merupakan kenyataan alami yang memperkaya dunia manusia, ataukah sesuatu yang harus dikutuk dan dibasmi? Lebih dari itu, standard dan kriteria apakah yang dipakai untuk mengukur terjadinya sebuah deviasi dalam beragama sehingga sebuah pemahaman dan praktek keberagaan secara valid bisa dinyatakan sesat?

Dalam hal ini tentu saja tidak mudah untuk mendapatkan jawaban yang bersifat umum atau universal, karena setiap agama dan kelompok umat beragama memiliki keyakinan yang berbeda-beda. Namun begitu setidaknya kita akan sependapat bahwa selama perbedaan agama merupakan pilihan pribadi dan tidak mendatangan gangguan sosial, maka kita seyogyanya bersikap toleran.

Hanya saja jika pandangan dan perilaku keagamaan seseorang atau kelompok sudah menjurus pada tindakan provokasi anti-sosial, maka akses-akses itu tidak bisa ditolerir. Istilah “bersikap toleran” di sini hendaknya jangan diartikan sebagai bersikap masa bodoh dan tidak perlu mendakwahkan ajaran kebenaran yang diyakini.

Setiap orang yang beriman senantiasa terpanggil untuk menyampaikan kebenaran yang diketahui dan diyakininya, tetapi harus berpegang teguh pada etika dan tata-krama sosial serta tetap menghargai hak-hak individu untuk menentukan pilihan hidupnya masing-masing secara sukarela, sebab pada hakikatnya hanya ditangan Tuhanlah pengadilan atau penilaian sejati akan dilaksanakan.

Melihat kenyataan sejarah, tantangan yang selalu dihadapi agama-agama sejak dulu hingga kini dan mendatang antara lain bagaimana merumuskan langkah konstruktif yang bersifat operasional untuk mendamaikan berbagai eksoterisme (keagamaan) yang ada dan cederung mendatangkan pertikaian antar manusia dengan mengatasnamakan kebenaran Tuhan.  Usaha ini tidak hanya diarahkan pada hubungan antar pemeluk agama-agama secara eksternal, melainkan terlebih dahulu diarahkan pada hubungan intra-umat beragama.

Seseorang akan sulit bersikap toleran terhadap agama lain jika terhadap sesama pemeluk satu agama saja sulit untuk menghargai perbedaan paham yang muncul. Konflik intern sesama umat seagama ini mudah dijumpai dalam berbagai pemeluk agama besar dunia seperti halnya juga dijumpai pada hubungan antara pemeluk agama yang berbeda. Biasanya konflik tersebut semakin tidak jelas manakala kepentingan agama sudah berbaur dengan kepentingan etnis, politis dan ekonomis.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 11, 2012 in Opini

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: