RSS

Memahami Subtansi Dan Bentuk Agama-Agama

05 Jul

Oleh: Hamam Burhanuddin

“inwardly, or in terms of substance, the claims that a religion makes are absolute, but outwardly, or in terms of form, and so on the level of human contingency, they are necessarily relative”. [Schoun]

Pembicaraan mengenai subtansi dan bentuk agama sudah dikenal sejak zaman Yunani kuno, terutama pada Plato dan dikembangkan kemudian oleh Aristoteles. Meskipun subtansi keberadaannya bersifat primer sementara bentuk adalah sekunder, namun tanpa bentuk atau suatu atribut sebuah subtansi tidak bisa dikenal. Demikian juga halanya dengan keberadaan agama. Subtansi dan misi agama akan menjadi aktual ketika agama tampil dalam bentuk yang nyata, bisa dikenali manusia dan lebih jauh lagi adalah dengan bentuk itu subtansi agama menjadi fungsional dan operasional.

Apapun nama agama itu selalu menghubungkan dengan subtansinya, yaitu inti ajaran agama yang keberadaannya dibalik bentuk formalnya. Subtansi ini bersifat transenden tetapi sekaligus juga imanen. Ia transenden karena subtansi agama sulit didefinisikan dan tidak terjangkau kecuali melalui perdikatnya. Namun begitu agama juga imanen karena sesungguhnya hubungan antara predikat dan subtansi tidak mungkin terpisahkan. Kalau saja subtansi agama bisa dibuat hirarki, maka subtansi agama yang paling primordial hanyalah satu. Ia bersifat perennial, tak terbatas karena ia merupakan pancaran dari Yang Mutlak. Ibarat air, subtansinya adalah satu tetapi bisa saja kehadirannya mengambil bentuk berupa lautan, uap mendung, hujan, sungai, kolam, embun dan lain sebagainya.

Ketika subtansi agama hadir dalam bentuk yang terbatas, maka seungguhnya agama pada waktu yang sama bersifat universal dan sekaligus juga partikular. Dalam konteks inilah barangkali Schoun mengutarakan bahwa “setiap agama memiliki satu bentuk dan satu subtansi” bentuk agama adalah relatif, namun di dalamnya terkandung muatan subtansial yang mutlak. Karena agama merupakan gabungan antara “subtansi” dan “bentuk” maka agama kemudian menjadi sesuatu yang absolute tetapi relatif. Inilah yang seperti telah disebut bahwa agama sebagai sesuatu yang “relative-absolute”. Kepicikan dan kesempitan sebuah agama akan terjadi jika kebenarannya diidentikkan hanya dengan bentuknya. “Islam spread through the world like lightning by vurtue of its subtane, and is expansion was brought to a halt by reason of its form, (Schoun)

Walaupun subtansi semua agama itu sama, tapi karena kehadiran subtansi selalu dibatasi oleh dan fungsinya yang berkaitan dengan bentuknya, tapi secara eksoterik dan operasional sekaligus berbeda dari agama yang lain. Oleh karenanya setiap agama  selalu otentik untuk zamanya, meskipun secara subtansial kebenaran-nya bersifat perennial, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Semua agama yang pernah hadir, entah itu Yahudi, Kristen maupun Islam adalah otentik dan benar adanya, yang satu tidak menghapus dan menggantikan yang lain. Jikapun dikatakan bahwa Islam adalah agama mutakhir yang mencakup ataupun meliputi ajaran agama sebelumnya, maka pengertiannya adalah kebenaran Islam pada level subtansinya.

Membicarakan kehadiran agama dalam sekuens waktu, sehingga ada agama klasik dan agama mutakhir, memang sulit dihindari karena baik agama maupun para pemeluknya hidup dalam rentang waktu sejarah. Jadi kalaupun keberadaan Tuhan Yang Absolut berada diluar waktu empiris, begitupun subtansi agama bersifat trans-historis, namun manusia yang meresponi seruan Tuhan berada dalam ruang dan waktu yang empiris. Oleh karena itu dunia manusia mengenal kategori masa lalu, sekarang dan esok, sedangkan bagi Yang Maha Absolut kategori waktu seperti itu tidak berlaku.

Mengenai subtansi agama-agama yang tidak bisa dibatalkan itu, karena sifatnya yang perennial dan otentik, bisa dijelaskan dengan beberapa cara, antara lain ialah, kalau saja Tuhan hanya menyelamatkan orang-orang yang menganut agama Kristen saja, misalnya, maka menurut nalar sehat mustahil beberapa abad kemudian lahir agama Islam yang dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. Sebaliknya, jika kedatangan Islam dengan kebenarannya yang dibawa meniscayakan seluruh manusia memeluk agama ini, maka sulit dijelaskan mengapa Tuhan menutup hati umat pemeluk agama diluar Islam yang jumlahnya lebih besar ketimbang pemeluk Islam, sehingga tidak tertembus oleh pesan yang dibawa oleh Muhammad saw.

Dalam wacana filsafat, persoalan ini lalu menimbulkan pertanyaan, adakah iman yang benar? Iman yang menyelamatkan itu harus ditempuh melalui pemahaman wahyu tertulis (kitab suci) yang berbahasa Arab, Ibrani atau Latin misalnya? Ataukah bisa juga ditempuh dengan mengandalkan akal budi yang sehat tanpa harus membaca kitab suci? Kalau harus melalui kitab suci, bukankah pintu iman itu lalu kelihatan sempit dan eksklusif? Dan bukankah ayat-ayat tuhan itu sesungguhnya juga tertulis dalam diri manusia, dalam jagad raya?

Melihat kenyataan diatas maka kesadaran adanya aspek subtansi dan bentuk, adanya wahyu tertulis, tercipta dan terpateri dalam kalbu akan membuka banyak jalan alternatif  menuju jalan lurus, tanpa kita mengingatkan adanya orang yang memang mengingkari agama ataupun yang menyimpang dari jalan yang benar. Meminjam ungkapan Schuon

“inwardly, or in terms of substance, the claims that a religion makes are absolute, but outwardly, or in terms of form, and so on the level of human contingency, they are necessarily relative”.

Secara teoritis, atau dalam pengertian subtansi, klaim ataupun pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh suatu agama berfikir mutlak. Tetapi, secara eksoterik atau dalam pengertian bentuk atau pada tingkat keberagamaan manusiawi, pernyataan-pernyataan tersebut mau tidak mau menjadi relatif”.

Memahami Subtansi Demi Toleransi Beragama

Dengan demikian, keberagamaan yang hanya mengandalkan bentuk tidak menjadi satu-satunya sarana penyelamat. Ia masih diterima kebenarannya sebatas merupakan deviasi spiritual dari subtansi yang absolute. Setiap bentuk adalah terbatas dan setiap agama pada dimensi eksoteriknya adalah suatu bentuk sedangkan sifat kemutlakan yang dimilikinya hanya dalam esensi hakiki dan supraformalnya saja. Itulah sebabnya bahasa dan pelaku keberagamaan sangat kaya dengan ungkapan simbolik, metaforis, analogi dan semacamnya.

Yang kesemuanya itu menuntut penyingkapan yang dalam akan makna dan pesan hakiki yang ada dibaliknya. Contoh yang amat nyata adalah jika orang ibadah haji untuk menyembah bangunan Ka’bah, maka ia telah terjatuh menjadi musyrik. Namun demikian nyatanya dalam shalat dan tawaf kita dianjurkan menundukkan kepala di hadapan ka’bah. Di sinilah kita jumpai berbagai “kesan paradoksal” dalam bahasa agama ini perlu ditegaskan karena fenomena agama yang muncul ke permukaan biasanya melupakan makna hakikinya. Memang betul bahwa bentuk (eksoterisme) memberikan identitas secara spesifik terhadap sebuah agama dan lebih dari itu ketika subtasi telah terlembagakan ia menuntut penolakan secara tegas dan keras terhadap bentuk yang lain.

Sebagai akibatnya, agama pada tataran ini cenderung menjadi eksklusif dan mengeras serta memandang agama yang lain sebagai salah dan sesat yang karenanya para penganutnya harus ditobatkan dari kesesatannya. Padahal, menurut pandangan perennial, di balik bentuk kegamaan lahiriah yang berbeda itu, sebenarnya terdapat kesamaan subtasnisial sehingga agama yang satu memperkuat yang lain, bukannya malah ingin menghapuskan.

Dalam koteks masyarakat Barat, terdapat tren yang mengesankan bagaimana para teolog Kristen mengambil banyak manfaat dari agama Timur, terutama Budhisme, tanpa harus berpindah agama. Bahkan di antara mereka mengatakan bahwa mereka semakin bisa menghayati Kekristenannya setelah mendalami Zen Budhisme. Yang terjadi kemudian adalah bahwa keberagamaan seseorang bersifat ekslusif. Disinilah terjadi proses individualisasi keberagamaan.

Individualisasi keberagamaan dan dialog konstruktif dan apresiatif antara tokoh-tokoh agama sesungguhnya bukanlah sesuatu yang aneh dalam sejarah. Dalam sejarah diceritakan bawah Ibrahim Ibn Adham, seorang sufi pernah mempunyai guru seorang pertapa Kristen, dan masing-masing berpegang pada agamanya sendiri-sendiri.

Kisah serupa dialami juga oleh Sayyid Ali Hamadani yang telah memainkan menentukan dalam mengubah Kashmir menjadi Islam, ketika mengenal Lalla Yogiswari, seorang Yogi wanita cantik dari kalangan Hindu. Kedua orang suci itu saling menghormati satu sama lain, meskipun berbeda agama, dan pada tingkat tertentu dapat saling berguru dan mempengaruhi satu sama lain.

Semua kisah itu menunjukkan jika seseorang telah mampu melewati dataran bentuk dan kemudian naik ke jenjang subtansi maka jarak, konflik dan ekslusivisme keberagamaan menjadi hilang. Ibarat sekelompok yang memusatkan pandangannya pada satu titik (Yang Maha Benar) maka konflik pandangannya kearah horizontal, terjadilah tukar-menukar obyek ataupun benturan pandangan dengan sesama, di saat itulah kemudian konflik dan sikap-sikap keras merasa benar sendiri segera muncul. Jadi, identitas, perbedaan, konflik dan dinamika yang muncul dari eksoterisme agama adalah keniscayaan, meskipun pada dasarnya semua itu secara ontologism dan epistemologis hanyalah bersifat relatif belaka.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 5, 2012 in Filsafat

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: