RSS

Membuka Dialog Inter-Religius Dalam Ruang Publik

01 Jul

Oleh: Hamam Burhanuddin

Pada era sekrang ini bagi umat beragama untuk melakukan dan mengembangkan dialog mengenai konsep dan pengalaman keagamaan menjadi suatu keharusan. Apalagi kalau kita melihat akhir-akhir ini banyak peristiwa kekerasan yang berwajah agama. tentu saja dialog yang perlu dikembangkan tidak lagi berorientasi pada dakwah yang berkonotasi sebagai upaya penobatan orang lain dari keyakinannya, melainkan lebih pada berbagi pengalaman dan karenanya saling memperkaya dan mendalami pengalaman dan tradisi keagamaan masing-masing.

Dengan meminjam bahasa Swidler (1990: 3) dialog yang dimaksud merupakan perbincangan antara dua orang atau lebih yang masing-masing memiliki pandangan yang berbeda-beda yang tujuan utamanya adalah saling belajar antar peserta dialog sehingga masing-masing peserta tersebut bisa saja merubah pandangannya atau tambah meningkat (pengalamannya).

Dalam dialog setiap peserta harus mendengarkan (pengalaman) peserta yang lain secara terbuka dan penuh simpatik, dengan suatu upaya memahami posisi peserta yang lain secara tepat dilihat dari posisinya masing-masing. Kata dialog disini tidak berarti harus formal, diselenggarakan dalam ruangan, tetapi yang lebih fundamental adalah dialog melalui pergaulan sehari-hari, dialog melalui media televise, surat kabar dan buku-buku yang semakin meningkat frekuensi dan muatanya

Karena pilihan iman sesungguhnya menuntut pertanggungjawaban rasional, maka sikap kritis dan terbuka amat penting di samping, sudah pasti, kesiapan mental dan moral untuk menghargai hak-hak orang lain untuk berbeda.

Dialog kritis

Jika kebebasan berpendapat secara etis dan kritis ini bisa terwujud, maka dialog yang sehat dan konstruktif baru bisa dilaksanakan. Dialog kritis ini tentunya tidak hanya berlaku ketika berhadapan dengan pemeluk agama lain, melainkan juga terlebih ketika berdialog dengan diri dan agama kita sendiri. Dialog kritis terhadap diri sendiri ini penting supaya mampu menerobos lebih jauh kedalam pengalaman particular kita sendiri mengenai realitas trasenden, yang pada gilirannya kita harus mampu juga masuk ke dalam pengalaman realitas transenden yang dialami orang lain.

Tambahan lagi, melalui dialog kritis semacam ini seseorang diharapkan memperoleh pengkayaan rohani dan intelektual sehingga lebih dewasa dan mantap dalam memeluk agamanya. Kecuali itu, sikap empati terhadap keberagamaan orang lain juga perlu dikembangkan walaupun sikap tersebut menuntu penguasaan bahasa religiositas orang lain agar seseorang tidak mudah mengambil kesimpulan yang salah mengenai (pengalaman) agama orang lain yang kemudian kesimpulan salah itu dipaksakan untuk diakui dan dijadikan dasar penilaian.

Dengan demikian apa yang disebut dengan dialog inter-religius ini adalah dialog yang dilakukan secara terbuka dan penuh simpati, sehingga setiap peserta dialog masing-masing berupaya untuk saling memahami posisi peserta dialog yang lain secara tepat, dan berupaya memandanganya dari dalam posisi mereka yang dipahami.

Tujuan utama dialog adalah untuk (saling) belajar dan (saling) mendengarkan pengalaman keagamaan dari masing-masing peserta dialog, bukan membanding-bandingkan dan mencari agama yang paling benar. Sudah pasti penalaran bekerja dengan membuat komparasi, klarifikasi, distingsi dan juga kesimpulan.

Namun hal itu sebaiknya tidak perlu dijadikan target utama, biarkanlah setiap orang merenungkan dan menyelesaikan problem yang muncul untuk dirinya sendiri sesuai dengan kapasitas dan kecendrungan yang ada padanya. Disamping berfungsi meningkatkan rasa toleransi, sebuah dialog bisa jadi melahirkan pengalaman transformatif yang menjadi pandangan hidup dan wawasan teologi bagi pihak-pihak yang terlibat.

Dengan meminjam istilah yang digunakan Hans Kung, maka dialog tidak hanya berhenti pada sikap ko-eksistensi, melainkan juga pro-eksistensi. Artinya dialog tidak hanya menghantarkan pada sikap bahwa setiap agama berhak untuk bereksistensi secara bersama-sama, melainkan juga mengakui dan mendukung bukan menyamakan eksistensi semua agama.

Barangkali inilah yang dimaksudkan oleh Raiundo Panikkar (1994: 22-23) bahwa apa yang disebut dialog inter-religius , ia mengistilahkan dialog intra-relegius adalah dialog yang tidak hanya menuntut suatu sikap inklusif, melainkan juga skiap paralelisme, yaitu suatu sikap yang mengakui bahwa agama merupakan jalan-jalan yang sejajar. Maka secara etis dialog tidak diamksudkan untuk mencapuri urusan dan ajaran agama lain, juga tidak untuk menobatkan orang lian dari keyakinannya yang dianut, melainkan untuk memperdalam tradisi agama sendiri-sendiri secara lebih kritis. Semoga!

Bacaan:

Leonard Swidler, After The Absolute, The Dialogical Future Of Religious Reflection (Minneapolis: Fortress Press, 1990).

Raimundo Panikkar, Dialog Intra-Religius (Yogyakarta: Kanisius, 1994).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 1, 2012 in Opini

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: