RSS

Satu Tuhan banyak nama [bag. 3 habis] Mempertanyakan Pluralitas Tuhan

29 Jun

Oleh: Hamam Burhanuddin

Dalam masyarakat tradisional Tuhan tidak selesai sebagai sesuatu yang harus disembah, melainkan juga harus menjadi contoh bagi segala aktivitas umat manusia di bumi profan ini. Karenanya, segala perilaku dan apa saja yang dibangun dan diciptakan oleh manusia merupakan tiruan dari alam Tuhan yang sakral. Ini terjadi merupakan kehidupan duniawi manusia selalu mudah terpecah dan selalu dibayangi oleh kematian.

Oleh karena itu, agar setiap orang terbebas dari rasa takut itu, maka segala perilakunya harus diimitasikan kepada perilaku Tuhan-Tuhan agar mereka mendapatkan derajat kekuatan yang tinggi.  Maka atas dasar itu semua, segala perbuatan manusia, terutama dalam membangun kota dan tempat-tempat ibadah merupakan kopi belaka dari alam suci tempat tinggal Tuhan. Dunia suci tempat tinggal Tuhan tersebut sebagaimana direkonstruksi dalam berbagai mitos diyakini tidak hanya sebagai suatu ideal yang diinspirasikan oleh manusia, melainkan juga merupakan preotipe dari eksistensi manusia.

Dengan demikian segala sesuatu di bumi ini diyakini sebagai tiruan dari kesucian dunia Tuhan. Inilah yang kemudian melahirkan persepsi yang membentuk mitos ritual, dan organisasi sosial dari banyak kebudayaan kuno dan terus-menerus memberikan pengaruh yang kuat kepada masyarakat tradisional di masa itu.

Sebagai misal di dunia Iran dahulu, setiap orang atau suatu objek tertentu dalam dunia biasa (getik) menjadi pegangan sebagai rekan yang imbang dalam dunia arketip dari realitas suci (menok) inilah perspektif yang sulit diapresiasi di masa modern ini. Padahal hingga masa kini, imitasi dari perilaku Tuhan-Tuhan tersebut masih merupakan gagasan penting tentang religiosistas. Misalnya istirahat dihari sabtu, mandi di hari jumat. Pekerjaan-pekerjaan tersebut dianggap sebagai cukup bermakna dan suci kerena diyakini sebagai pekerjaan-pekerjaan Tuhan.

Pengalaman spiritualitas yang serupa juga telah membentuk dunia Mesopotamia. Di lembah Tigris-Eufrat yang kini disebut wilayah Iraq, pada tahun 4000 Sebelum Masehi telah hidup suatu komunitas yang dikenal sebagai bangsa Sumeria. Bangsa inilah kemudian disebut sebagai oikumene (dunia peradaban). Karena di kota-kota bangsa tersebut : Ur, Erech, dan Kish, ditemukan naskah tulisan-tulisan kuno yang berbentuk baji (cuneiform) dari kata latin cuneas yang artinya “baji”, yang mendiskripsikan bentuk karakter-karakter, bangunan menara tempat ibadah yang luar biasa megah yang disebut ziggurat dan pengembangan sebuah hukum yang begitu impresif, serta literatur dan mitodologi.

Tidak lama setelah itu sejarah mencatat bahwa wilayah itu diserang oleh bangsa Semitik Akkadia, yang kemudian bangsa tersebut mengadopsi bahasa dan budaya bangsa Sumeria. Ini kira-kira terjadai pda tahun 3000 SM. Di Akkad inilah hidup seorang raja besar bangsa Semitik bernama Sargon I. Dialah yang kemudian mendirikan kerajaan Akkadia-Sumeria. Bangsa di dalam kerajaan ini mempunyai standar hidup yang tinggi dan kebudayaan yang sudah maju. Mereka juga memiliki perangkat yang hebat untuk mentransformasikan peradaban asiatik dari perekonomian agrikultur ke perekonomian perniagaan dan industri.

Berikutnya, sekitar tahun 2000 SM bangsa Amorite menaklukkan peradaban bangsa Sumeria-Akkadia. Bangsa Amorite kemudian menjadikan Babylon sebagai ibukota. Akhirnya 500 tahun kemudian bangsa Assyira yang tinggal di dekat Ashur merebut dan menguasai Babylon. Tradisi bangsa Babylonia inilah yang diakui oleh banyak sejarawan sebagai telah mempengaruhi mitologi dan agama di Kana’an, kota yang dijadikan oleh bangsa Israel sebagai “promised land” (tanah yang dijanjikan).

Bangsa Babylonia memang selalu mentransformasikan upaya-upaya kulturalnya pada Tuhan-Tuhan yang Nampak dalam gaya hidup mereka melalui mitodologi para leluhur mereka. Dengan demikian, bangsa Babylonialah yang diyakini memberikan image mengenai adanya kebenaran yang transcendental, masing-masing dengan tempat-tempat ibadah sebagai tiruan dari istana surga.

Banyak dari Tuhan-Tuhan itu akhirnya mengalami kematian, namun secara keseluruhan dari banyaknya upaya pengakuan dan pencarian tentang Tuhan-Tuhan itu ternyata pada akhirnya menuju ke suatu pengakuan akan adanya satu Tuhan Yang Maha Kuat. Pengakuan semacam ini akan terlihat secara jelas pada Tuhan-Tuhan yang disembahi oleh tiga agama besar: Yahudi, Kristen dan Islam. Tiga agama besar itu dsebutkan dalam berbagai penuturan sejarah sebagai Abrahamic Religions (agama-agama Ibrahim) sebab dari Ibrahimlah lahir banyak nabi yang kemudian melahirkan tiga agama besar itu.

Tentang Ibrahim ini Max I Dimont menuturkan bahwa sekitar tahun 2000 SM ketika satu suku Semitik baru dan selalu gelisah yakni bangsa Assyria yang kurus dan lapar mulai menantang keempukan dan kekayaan hidup bangsa Babylon, seorang yang bernama Terah (bukan Sarah) membawa serta anak laki-lakinya yakni Brahim dan cucu laki-lakinya yakni Luth beremigrasi meninggalkan kota kosmopolitan Ur di Babylonia. Terah dan rombongan kecilnya berangkat kearah Barat daya kota Ur menuju Tanah Haran, bagian selaatan kota Turki sekarang, dengan menyeberangi sungai Eufrat.

Tindakan menyeberangi sungai Eufrat itulah yang menjadikan Terah dan rombongannya disebut orang pertama yang diidentifikasikan di dalam perjanjian lama seabgai “ivriim” yang dalam bahasa Inggrisnya disebut “Hebrew” yang artinya orang-orang yang menyeberang atau orang-orang yang berasal dari seberang sungai.

Di kota inilah Ibrahim mendapatkan pengalaman yang cukup aneh. Ia berjumpa dengan suatu kekuatan yang tiada taranya. Kekuatan itu ia beri nama “Yahweh”, yang dalam bahasa inggrisnya disebut Jehovah. Pada pertemuan antara Ibrahim dan Jehovah, Jehovah berjanji akan menjadikan keturunan-keturunan Ibrahim sebagai bangsa pilihan-Nya dan menempatkan keturunan mereka di bawah perlindungan-Nya dengan syarat Ibrahim mau mengikuti komandemen-komandemen Tuhan.

Selama 400 tahun Ibrahim dan keturunannya mengembara sebagai nomad-nomad di tanah Kanaan. Mereka mengembangkan bentuk kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang bersifat eksklusif. Ritual orang yahudi yang dianggap lucu oleh masyarakat sekelilingnya ketika itu adalah ritus pengkhitanan bagi seorang bayi seteleh berusia delapan hari. Bahkan mereka dianggap gila karena menyembah Tuhan yang tak nampak. Di sinilah kemudian tata cara ritual orang-orang pagan dirubah oleh kaum yahudi.

Diceritakan dalam perjanjian lama, bahwa Ibrahim beristrikan Sarah. Namun sampai usia lanjut, kedua pasangan suami-istri itu belum dikarunia keturunan. Atas dasar itu sarah memberikan lisensi kepada suaminya untuk menikai seorang budaknya bernama Hajar. Dari perkawinan dengan haja inilah Ibrahim dikaruniai seorang putra yang diberinya nama Ismael (dari bahasa ibrani “isma” artinya mendengar, “el” artinya Tuhan) yang kemudian darabkan menjadi Ismail.

Diberinya nama Islamil putranya itu sebagai kesyukuran Ibrahim atas didengarnya doa yang didengungkan setiap saat oleh Ibrahim untuk meminta keturunan. Ketika ismail sekitar berusia 12 tahunan Sarah yang sudah lanjut usia itu pun ternyata hamil. Ketika lahir diberi nama putra keduanya itu Ishaq. Kedua putra Ibrahim yakni Islamil dan Ishaq dipilih Tuhan menjadi Nabi. Dari dua keturuan itulah tiga agama besar yakni Yahudi, Kristen dan Islam lahir.

Keturunan Ishaq melahirkan banyak nabi, terhitung dari Ya’qub, Yusuf, Musa, Harun, Dawud dan Sulaiman yang akhirnya bermuara kepada Isa as. Sedang dari keturunan Ismail hanya ada satu yang menjadi nabi yakni Muhammad saw. Dari tiga agama besar inilah terutama ide monoteisme menguat.

Pada agama-agama lain, yang secara historis sulit dilacak hubungannya dengan Ibrahim, bukan berarti tidak memiliki ide monoteisme. Secara esoteris, ide monoteisme seperti telah banyak disinggung terdapat pada setiap tradisi pemikiran keagamaan. Pada taraf esoteris ini justru dialog yang pada akhirnya mungkin mengakibatkan terjadi pembaruan antara ajaran agama-agama, mudah terjadi. Agama budha misalnya banyak dianut di masayarakat Jepang berbarengan dengan Konfusianisme dengan tanpa mengalai kontradiksi. Alasannya adalah budhisme tidak menyoroti hubungan-hubungan sosial.

Ia lebih memperhatikan latihan-latihran spiritual oleh jiwa. Sedang Konfusianisme tujuan etiknya adalah memantapkan harmoni dalam masyarakat. Dalam pengakuannya Sachiko Murata menjelaskan mengapa masyarakat Jepang menjalankan agama semacam ini, adalah karena mereka meyakini Budhisme sebagai apa yang disebut dalam Islam syariah, sedang Konfusianisme diyakininya sebagai thoriqoh dalam sufisme Islam.

Dalam taoisme, prinsip utama dalam islam yang disebut tauhid, justru menjadi pendasaranya. Konsep tauhid dalam islam yang memberikan orientasi dasar, yang mengajarkan bahwa segala sesuatu yang datang dari Tuhan dan kembali kepada-Nya pun memiliki kesamaan dalam tradisi Taoisme yang meyakini bahwa seluruh alam semesta ini mengarah pada Tao. Taolah yang merupakan asal dan akhir dari segala sesuatu.

Dalam Tao Te Ching, kitab suci Taoisme dikatakan bahwa segala sesuatu berkisar pada konsep Tao itu sendiri, yang secara harfiah berarti “jalan setapak” atau “jalan saja”. Tao yang satu itu, terekpresikan melalui yin/yang yang dua, yang kemudian yang dua itu yin/yang mengekpresikan dirinya melalui enam puluh empat hexagram, yang kemudian mencertakan beribu hal tentang alam semesta ke dalam eksistensi.

Dalam Islam hal yang bersifat dualitas itu memainkan peranan penting seperti terlihat dalam sejarah pemikiran Islam. Memahami persoalan yang awal dan yang akhir yang tampak dan yang ghaib, dan semacamnya, merupakan identitas Tuhan termasuk dalam kategori ini. Tuhan memang merupakan sesuatu yang paradox memiliki sifat ambiguitas yang mengandung pertentangan-pertentangan dalam dirinya tetapi mejadi satu kesatuan utuh yang harmonis. Pertentangan internal dalam diri ini dalam istilah filsafat barat disebut coincidentia oppositorum. Bagi Ibn Al Arabi misalnya tidak saja yang dipandang Tuhan itu nama-nama diri Tuhan yang telah terbentang dalam sejarah yang panjang dengan berbagai macam dan ragam, melainkan juga seluruh alam raya ini adalah Tuhan-Tuhan.

Dalam pandangannya, seperti yang telah diungkap juga dimuka, alam semesta ini merupakan tajalli (penampakan) dari Tuhan yang hakiki. Dengan demikian sebenarnya Tuhan dan alam dan segala visualisasi mengenai nama-nama Tuhan alah satu realitas tapi berbeda wajah yang satu dan yang banyak yang keduanya merupakan satu realitas. Inilah kesulitan yang muncul dalam memahami hubungan ontologism antara Tuhan dan alam tentunya juga segala nama-nama Tuhan yang pernah dikenal umat manusia dalam sejarah.

Dengan demikian, memahami Tuhan yang satu dan yang sekaligus banyak bisa dengan cara memandang yang satu dalam yang banyak atau memandang yang banyak dalam yang satu. Atau dengan lain perkataan yang satu dipandang sebagai yang banyak dan yang banyak dipandang sebagai yang satu. Seyyed Hossein Nasr mengistilahkan pemahaman semacam ini dengan the one in the many. Atau bisa dibalik the many in the one. Secara empiris pengetahuan mengenai persoalan ini memang cukup membingungkan.

Pemahaman akan Tuhan

Untuk memudahkan memahami wujud Tuhan yang paradoks ini Ibn al-Arabi menggunakan beberapa perumpamaan. Pertama, hubungan antara kesatuan seseorang dengan keanekaan anggota tubuhnya, seseorang dikatakan sebagai manusia kalau ia memiliki kriteria yang harus dimiliki manusia. Ia memiliki tangan, kaki, telinga, mulut, hidung dan lain sebagainya. Semua keanekaan bentuk anggota tubuhnya tersebut menjadi satu kesatuan utuh. Satu entitas, yaitu manusia.

Kedua, hubungan antara manusia secara universal dengan person-person sebagai partikular. Entitas manusia secara universal adalah satu, tetapi secara partikular manusia banyak bentuk dan ragam. Ada yang berwarna hitam, putih, coklat. Ada yang pendek, tinggi, kecil, gemuk, dan lain sebagianya. Namun kesemua itu dimasukkan ke dalam sebutan manusia.

Perumpanaan ketiga, bumi yang satu bisa mengeluarkan bermacam ragam tumbuh-tumbuhan. Bumi dari segi zatnya adalah satu entitas sebagai subtansi. Tapi zatnya yang satu itu mengandung banyak bentuk yang bisa dilahirkan. Dari bumi inilah kemudian lahir berbagai macam jenis tumbuh-tumbuhan yang beranekaragam dan bentuk.

Sampai di sini kita mengakui adanya satu kebenaran mutlak yaitu Tuhan. Tapi banyak manusia yang memahaminya secara beragam dan berbeda sesuai tahapannya. Di sinilah lahir banyak pemahaman mengenai yang Satu. Ia bisa berwujud dengan banyak nama. Pemahaman semacam ini sangat lagis terjadi. Sebab, Tuhan yang bersifat metafisis dan karenanya immateri dan tak terbatas itu tidak mungkin bias terjangkau oleh manusia yang fisikal dan terbatas.

Kesenjangan antara yang absolute dan yang terbatas inilah yang melahirkan berbagai pemahaman dan pemikiran serta visualiasidan personifikasi tentang Tuhan. Dengan demikian, Tuhan akhirnya mewujud dalam banyak nama dan wajah. Namun, walaupun demikian, setiap ekspresi sungguh-sungguh mengenai Tuhan tetap akan diakomodir-nya. Ini cermin dalam salah satu sebuah hadis yang banya dianut para sufi dalam islam, yang menjelaskan bahwa “aku pengakuan Tuhan (akan) sesuai dengan persepsi hambaku. Oleh karenya atas dasar ini Ibn Al-Arabi mengatakan bahwa di akhirat nanti Tuhan akan Nampak banyak karena dia (akan) hadir sejumlah persepsi hamba-Nya.

Oleh karena itu, pluralitas Tuhan dalam bentangan sejarah panjang umat manusia harus dipahami hanya sekedar nama. Tidak dalam pengertian esensi. Dengan menggunakan istilah Panikkar dalam bukunya Myth, Faith and Hermeneutics, perjalanan tersebut dinamakan the dialectic of the name of God. Dialektika nama Tuhan yang disebutnya kairologiacal moments itu sedikitnya bagi Panikkar dirumuskan menjadi Sembilan kategori.

Lima diantaranya perlu kami gunakan untuk menjelaskan tema yang sedang kita diskusikan. (1) sebelum adanya kultur dan agama yang agung maksudnya adalah agama yang mengajarkan tentang keesaan Tuhan setiap Tuhan merupakan Tuhan lokal, dengan nama dirinya juga lokal. Dengan demikian, mengetahui Tuhan berarti mengetahui nama-Nya juga sebaliknya.

(2) pluralitas Tuhan itu hanya dalam pengertian nama. Memang setiap nama menunjukkan satu Tuhan, tapi tidak dalam pengertian politeisme. (3) banyaknya nama Tuhan itu harus dipandang hanya dalam pengertian “manifestasi-Nya. Dengan demikian setiap nama Tuhan tidak akan membuat lemah sifat keTuhan-Nya,  karena semua nama Tuhan tersebut merujuk kepada sifat keTuhanan.

(4) Nama-nama Tuhan yang banyak itu sebenarnya bukan nama Tuhan yang sebenarnya. Namun Tuhan yang sebenarnya justru tersembunyi dan rahasia. (5) esensi dari nama rahasia Tuhan itu tidak bisa diketahui tetapi karena manusia menyaksikan sesuatu tanda kekuatan-Nya pada yang Nampak , maka timbul kesadaran untuk mengetahui-Nya.

Namun demikian, Tuhan tetap tidak bisa diketahui. Karenanya Tuhan merupakan pertanyaan yang selalu terbuka. Sebaimana telah saya kuritpkan dimuka, bahwa nama Tuhan adalah berupa pertanyaan tentang-Nya, menemukan-Nya, terletak pada proses mencari-Nya. Ini sama saja dengan mengetahui-Nya berarti tidak mengetahui-Nya (sama juga dengan memakan-Nya berarti melemahkan-Nya). Tuhan dalam konteks ini tidak juga bisa dikatakan sebagai subtansi dan dengan demikian tidak bernama. Ia adalah pertanyaan pronoun yang simple, atau sebuah interogasi “siapa”? wallahu ‘alam bi ash showab.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 29, 2012 in Filsafat

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: