RSS

Satu Tuhan Banyak Nama (bag.2) “The History Of God”

26 Jun

Mengapa dia yang Absolut secara partikular kemudian memiliki banyak nama? Dari perspektif penalaran manusia, seperti kata Ibn al-Arabi, Tuhan dalam kesendirian-Nya sesungguhnya tidak perlua nama. Tetapi karena tuhan ingin dikenal dan ingin berdialog dengan manusia, makhluk ciptaan-Nya yang paling dibanggakan, maka persoalan nama Tuhan lalu muncul. Oleh karenanya, mengingat manusia adalah makhluk historis, maka nama-nama Tuhan juga muncul dan merupakan bagian dari agenda wacana sejarah dan pemikiran agama. Oleh karenanya, mengingat manusia lahir dan berkembang dalam pluralitas etnis budaya dan agama, maka kita jumpai pula pluralitas pemahaman, penghayatan dan penamaan Tuhan.

Dalam sejarah pemikiran manusia, seperti ditegaskan di atas oleh Armstrong, sejak mula pertama umat manusia mampu menangkap tentang adanya satu kekuatan yang mengatasi dan maha kuat, yang diyakininya telah menciptakan dan menguasai kehidupan umat manusia. Ini artinya bahwa pengetahuan tentang adanya satu Tuhan telah secara sadar dimiliki oleh setiap orang. Inilah kemudian yang menjadikan manusia disebut sebagai homo religius. Kesadaran semacam itu merupakan komponen yang esensial dari seluruh masyarakat tradisional dari segala tingkatan. Kita lihat misalnya dikepulauan bagian laut selatan, masyarakatnya sejak awal sudah mengenal adanya satu pengalaman (bersifat psikis) mengenai adanya kekuatan misterius yang disebutnya “mana”.

Pengalaman semacam ini bersifat spiritual, yang diyakininya sebagai suatu kekuatan “inpersonal”. Kekuatan semacam itulah yang diyakini oleh masyarakat ketika itu, menempati para suhu mereka, pohon-pohon besar (yang dianggap keramat) bebatuan (besar), dan binatang-binatang buas. Lain hanya di masyarakat latin, pengalaman (spiritual) seeprti itu disebut numina, yang diyakininya terdapat di hutan-hutan yang dianggap suci, orang-orang arab mengira hutan-hutan tersebut dihuni oleh jin. Ketika mereka mempersonifikasikan kekuatan-kekuatan yang tidak bisa dilihat itu dan menjadikannya sebagai tuhan-tuhan (sesembahan) maka diasosiasikanlah semua itu dengan angin, matahari, laut, binatang-binatang. Bahkan juga dengan karakteristik-karakteristik manusia yang aneh-aneh yang mengekspresikan rasa daya tarik mereka dengan sesuatu yang tak dapat dilihat.

Rudolf Otto, seorang berkebangsaan Jerman yang ahli di bidang sejarah agama yang mempublikasikan pentingnya the idea of the holy pada tahun 1927, meyakini bahwa perasaan-perasaan yang disebutnya “numinous” itu adalah dasar setiap agama. Yang dimaksud dengan “numinous” adalah perasaan dan keyakinan seseorang terhadap adanya Yang Maha Kuasa yang lebih besar dan tinggi yang tidak bisa dijangkau dan dikuasai manusia.

Perasaan inilah yang mendahului segala minat dan hasrat untuk mendapat kejelasan tentang asal-usul dunia sebagai basis bagi etika perilaku (behaviour). Kekuatan “numinous” ini kemudian diyakini oleh umat manusia dengan berbagai macam dan berbeda-beda. Kadang-kadang ia diinspirasikan dengan suatu kebuasan yang menyeramkan dan menakutkan, kadang-kadang dengan suatu ketenangan yang adalam dan menyejukkan, dan kadang-kadang pula dengan suatu kekuatan yang misterius.

Di sinilah kemudian manusia merencanakan mitos-mitosnya dan menyembah tuhan-tuhannya. Akan tetapi upaya tersebut tidak diiringi dengan suatu penjelasan literal terhadap gejala-gejala alamiah. Maka lahirlah cerita-cerita simbolis, lukisan-lukisan dan ukiran-ukiran gua yang mencoba mengekspresikan keajaiban-keajaiban dan menghubungkan misteri yang tak dapat ditembus itu dengan kehidupan yang mereka miliki. Di zaman itu, sudah pasti yang banyak tertarik oleh persoalan-persoalan semacam ini adalah mereka para artis dan musisi serta seniman.

Sebagai misal pada zaman palaeolithic, ketika masa agrikultural (pertanian) sedang maju pesat, kultus dan pemujaan terhadap dewa pertanian (di masyarakat Jawa disebut Dewi Sri) semakin menyeruak. Akhirnya hampir setiap seniman mengukir patung-patungnya dengan berbagai ragam. Ada yang menggambarkannya sebagai seorang perempuan telanjang, atau seorang perempuan yang sedang hamil, semua itu telah ditemukan oleh para arkeolog di sekitar Eropa, Timur Tengah, dan India.

Kesadaran akan adanya satu kekuatan yang telah memberikan kesuburan tanah tersebut menempati proses penting pada abad  itu. Dewa pertaniaan akhirnya dianggap sebagai penguasa yang paling tinggi. Bahkan lebih tinggi daripada Sky God yang dianggap paling tua sekali pun. Dialah yang kemudian disebut inana oleh bangsa Semit, Ishtar oleh bansa Babylon, Anat oleh bangsa Kanaan, isis oleh bangsa Mesir, dan Aphrodite oleh bangsa Yunani. Semua itu dikategorikan sebagia mitos-mitos. Oleh karenanya mitos-mitos tersebut tidak bisa dipahami secara literal, melainkan harus secara metaforis.

Mitos adalah gambaran tentang sesuatu dalam bentuk simbol agar memudahkan orang-orang memahaminya. Dengan demikian, mitos sebenarnya merupakan gambaran suatu realitas yang terlalu kompleks dan sulit dipahami, karena mitos merupakan ekspresi diri dari berbagia makna dan cara. Cerita dramatis tentang pluralnya Tuhan itu ternyata sangat membantu manusia untuk mengartikulasikan kesadarannya mengenai kekuatan yang tak dapat di lihat dan diluar kekuasaan manusia. Begitulah tuhan-tuhan sepanjang sejarah yang dipahami melalui partisipasi manusia sehingga kesan yang ditimbulkan atas tuhan-tuhan itu pun juga menjadi sangat manusiawi. To be continues…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 26, 2012 in Filsafat

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: