RSS

Dialektika Teologis

16 Jun

Oleh: Hamam Burhanuddin

Karen Armstrong, seorang sarjana teologi dan memilih jalur hidupnya sebagai suster, setelah beberapa tahun mengabdi pada gereja akhirnya berubah secara drastik pandangan teologisnya. perubahan yang bernada protes ini amat dirasakan ketika ia berkunjung ke Yerusalem dan didapatinya di sana peninggalan peradaban Islam yang dinilai sangat tinggi namun selama ini tak pernah diceritakan oleh guru-gurunya semasa Armstrong duduk dibangku kuliah maupun mengikuti ceramah-ceramah agama di gereja. rasa kesal, kecewa dan perasaan ditipu oleh guru-guru yang mengajarnya ditebusnya dengan cara sendiri. maka Karen Armstrong melakukan riset kepustakaan mengenai agama-agama besar yang ada, terutama Yahudi, Nasrani, dan Islam. kegelisahan dan pengembaraan intelektualnya yang berlangsung secara intens itu lalu dituangkannya dalam sebuah buku yang ia beri judul “A history of God”, (Karen Armstrong: 1993) sebuah buku yang menyajikan analisa historis-sosiologis mengenai pertumbuhan, karakter dan keterkaitan antara tiga agama besar dunia yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam yang ketiganya memiliki klaim sebagai penerus dan pewaris yang paling sah dari tradisi dan ajaran nabi Ibrahim as.

Pengalaman batin dan pengembaraan teologis intelektual seperti yang dialami oleh Karen Armstrong sesungguhnya juga terjadi pada diri banyak intelektual barat. tidaklah sulit menemukan buku-buku serupa, bahkan lebih dari itu, kasus konversi agama dari Kristen kepada Islam ataupun pada agama lain dan bisa jadi sebaliknya, dari Islam kepada Kristen. namun disini yang ingin digarisbawahi bukanya pada isu dan kasus perpindahan agama, melainkan fenomena runtuhnya tembok pemisah antar komunitas umat beragama sehingga menimbulkan berbagai agenda baru dalam wacana teologi dan filsafat agama.

Hubungan dan kontak langsung antar umat beragama bisa dianalisa dari banyak segi. secara sosiologis-antropologis, agama-agama yang sekarang ini masih bertahan dan bahkan memiliki pengikut jutaan umat apda mulanya lahir dan berkembang dalam sebuah komunitas yang kecil dan homogen. planet bumi yang begitu luas dan hanya dihuni oleh ratusan atau ribuan orang yang hidup berkelompok-kelompok dan terpencar-pencar masih memungkinkan bagi mereka untuk tidak saling kenal dan berkomunikasi langsung. hal ini tentu saja tidak berarti konflik antar mereka tidak muncul. namun begitu kalau pun terdapat friksi dan konflik skopenya relative kecil dan hal itu antara lain disebabkan oleh konflik loyalitas etnis, kelompok dan kepentingan.

Sejak awal memang telah terdapat polaritas antara mereka yang beriman dan yang ingkar terhadap seruan para rasul Tuhan. namun begitu pada wacana teologis dan filsafat nuktah dan isu persoalan yang muncul belum sepluralistik sekarang. dalam konteks Islam sejak rasulullah Muhammad hijrah ke yasrib (yang kemudian diganti dengan madinah) memang telah muncul persoalan pluralism agama, yaitu terdapat kelompok ahl al-kitab (Tafsir Al-Manar Juz VI: 185-189).

Disamping komunitas orang-orang beriman dan kelompok orang-orang yang musyrik atau kafir. tetapi wacana teoritismetafisi tentang pemikiran agama baru berkembang setelah Islam menyebar ke wilayah di luar Jazirah Arabia, terutama ketika umat Islam bertemu dengan pemikiran spekulatif yang datang dari Yunani, Persia dan india. ciri keberagamaan di masa Rasulullah cenderung bersifat etis-pragmatis. karena terdapat figur diri Muhammad, maka jika umatnya menemukan persoalan lalu ditanyakan kepadanya dan langsung memperoleh jawaban baik jawaban itu berupa pendapat Rasulullah maupun kadang kala berupa wahyu Al Qur’an.

Pada era sekarang ini, yang ditandai dengan kemajuan teknologi transformasi dan informatika serta kebebesan berpikir, maka manusia merasa semakin memperoleh otonomi untuk menentukan nasibnya sendiri. proses demitologisasi terhadap simbol-simbol dan realitas di sekitarnya telah menggiring masyarakat modern bersikap lebih kritis dan selektif untuk menyerahkan persoalan hidupnya pada Tuhan maupun pada orang suci. hubungan antar manusia dan juga sikap manusia pada alam sekitarnya berkembang lebih rasional, sehingga kekuatan penalaran dalam banyak hal lebih berhasil menyatukan umat manusia yang begitu heterogen ketimbang peran agama. jika agama cenderung menuntut loyalitas emosional dan melahirkan sikap eksklusif, maka ilmu pengetahuan dan filsafat yang keduanya mempercayakan rasionalitas sebagai sumber justifikasinya cenderung terbuka bagi dialog dan berbagai pengalaman tentang makna dan tujuan hidup. hal ini tidak berarti bahwa semua paham keagamaan membuat pengikutnya bersikap tertutup dan tidak dialogis, melainkan terdapat indikasi bahwa pendekatan agama yang tidak disertai wawasan etis-filosofis akan membuat seseorang tertutup dan menganggap agamanya yang paling benar dan yang lain salah dan harus dimusnahkan. di sisi lain, pemahaman agama yang terlalu sarat dengan analisa filosofis dan ilmiah maka keberagamaannya kadangkala menjadi kering, dan bangunan teologisnya menjadi eklektik, bahkan agama secara epistemologis lalu berubah menjadi bangunan filsafat.

Subjek pluralisme agama yang paling menonjol adalah Yahudi, Nasrani, Islam dan Hindu-Budha. namun dilihat secara fungsional dan filosofis-spiritual sesungguhnya lebih dari itu. paham teosofi yang memadukan aspek spiritual-spikologis dari berbagai unsur agama yang ada dewasa ini berkembang secara sangat mengesankan. di barat saja gerakan sekte kegamaan yang berpusat pada guru kharismatik jumlahnya lebih dari 1000 kelompok. belum lagi dikawasan asia terutama india jumlahnya begitu banyak dan beragam. adapaun agama-agama wahyu yang bersumber dari tradisi Ibrahim salah satu muatan pokok doktrin teologinya yang menjadi topik perdebatan adalah tentang konsep jalan keselamatan di akhirat nanti. konsep keselamatan ini meskipun tawarannya bersifat eskatologis dan metafisis, yaitu kehidupan setelah mati, tetapi ternyata melahirkan dampak riil-empiris, sejak dari konflik poltiik sampai dengan “perang suci” dengan menumpahkan darah. dengan dalih dan keyakinan untuk memperoleh jalan keselamatan, orang tak segan-segan melakukan pembunuhan dan pembantaian terhadap sesama manusia. pembunuhan itu tidak hanya diarahkan terhadap umat agama lain, tetapi secara sosiologis kadangkala diarahkan terhadap umat seagama. contoh klasik bisa kita lihat dalam sejarah eropa di mana sesama umat Kristen saling bunuh-membunuh untuk memperebutkan kapling surga disisi Tuhan Yesus. adapaun dalam Islam, bisa ditelusuri sejak munculnya gerakan Khawarij di masa sahabat rasulullah sampai dengan fenomena terbunuhnya Anwar Sadat dan upaya pembunuhan terhadap Husni Mubarok, yang keduanya menduduki posisi presiden Mesir.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 16, 2012 in Kajian Islam

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: