RSS

Analisa Fazlur Rahman Tentang Pendidikan

14 Jun

Oleh : Hamam Burhanuddin

Fazlur Rahman (selanjutnya ditulis “Rahman”), dapat dikategori sebagai salah seorang pemikir neo-modernis yang paling serius dan produktif dan juga sebagai seorang tokoh intelektual Muslim yang memiliki latar belakang yang menarik. Rahman memiliki latar belakang tradisi keilmuan yang bertentangan : keilmuan madrasah India Pakistan yang tradisional dan keilmuan Barat yang liberal, keduanya berpengaruh dalam membentuk intelektualismenya. Agaknya, demikianlah yang dimaksud oleh Syafi’i Ma’arif – seorang yang pernah berguru kepadanya yang menyatakan bahwa dalam diri gurunya, Rahman terkumpul ilmu seorang ‘alim yang ‘alim dan ilmu seorang orientalis yang beken (Syafi’i Ma’arif, 1984 : p. vi).

Kesadaran Rahman terhadap pendidikan sebagai sarana utama penunjang pembaharuan, inilah yang mendorongnya terjun dalam kritisme sistem pendidikan Islam yang berkembang pada periode kemunduran dan pada awal pembaharuan (modern) (Ghufron A.Mas’adi,1997:23). Rahman menyusun sebuah karya umum yang secara historis mengemukan sistem pendidikan Islam pada abad pertengahan berikut kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan utamanya, dan mengenai upaya-upaya modernisasi yang dilakukan sekitar abad yang lalu. Kemudian Rahman, membangun suatu pemikiran pendidikan tinggi Islam yang disebut sebagai “intelektualisme Islam”.

Konsep pendidikan tinggi Islam yang dikemukakan oleh Rahman merupakan masalah yang menarik dan urgen untuk bahas. Karena penyelenggaran pendidikan tinggi Islam sekarang ini mengalami proses dikotomi yang menerapkan metode dan muatan pendidikan Barat dengan menambah beberapa mata pelajaran agama Islam, dengan metode dan muatan yang Islami yang berasal dari zaman klasik yang belum dimodernisasi secara mendasar. Karena penyelenggaran pendidikan Islam belum mengacu dan mengantisipasi zaman yang sedang berubah, tetapi hanya menjaga dan melestarikan segala warisan yang bersifat klasik.

Pendidikan Era Klasik

Dalam tradisi intelektual Islam, pendidikan telah lama dikenal, yaitu sejak awal Islam. Pada masa awal pendidikan identik dengan upaya da’wah Islamiyah, karena itu pendidikan berkembang sejalan dengan perkembangan agama itu sendiri. Menurut Rahman, kedatangan Islam membawa untuk pertama kalinya suatu instrumen pendidikan tertentu yang berbudayakan agama, yaitu al-Qur’an dan ajaran-ajaran Nabi.

Menurut “Rahman”, sejak dari awal masa Islam, ada dua jenis pendidikan di samping pendidikan dasar dan pendidikan tinggi. Jenis pertama, pendidikan sekolah istana. Jenis pendidikan ini diadakan untuk pangeran-pangeran dengan tujuan untuk mencetak mereka menjadi pemim[pin-pemimpin pemerintah kelak. Pendidikan ini mencakup pendidikan agama, tetapi lebih menekankan pada bidang pidato, kesusastraan, dan lain-lain. Sedangkan pendidikan “nilai-nilai kekesatria” di atas segalanya.

Jenis kedua, pendidikan orang dewasa karena diberikan kepada orang banyak, yang tujuannya terutama mengajar mereka mengenai al-Qur’an dan agama, dan bukan keterampilan membaca dan menulis. Menurut “Rahman”, dari jenis pendidikan inilah tumbuh sekolah-sekolah tingkat tinggi yang tumbuh melalui halaqah-halaqah atau kelompok-kelompok para murid berkumpul mengelilingi seorang guru tertentu.

Rahman, awal mula dan tersebarnya ilmu pengetahuan Islam pada masa-masa  awal Islam berpusat pada individu-individu dan bukannya sekolah-sekolah. Kandungan pemikiran Islam juga bercirikan usaha-usaha individual. Tokoh-tokoh istimewa tertentu, yang telah mempelajari hadits dan membangun sistem-sistem teologi dan hukum mereka sendiri di seputarnya, menarik murid-murid dari daerah lain, yang mau menimba ilmu pengetahuan dari mereka.

Karena itu, ciri utama pertama dari ilmu pengetahuan tersebut adalah pentingnya individu guru. Sang, guru, setelah memberikan pelajaran seluruhnya, secara pribadi memberikan suatu sertifikat (ijazah) kepada muridnya yang dengan demikian diizinkan untuk mengajar. Ijazah tersebut kadang-kadang diberikan untuk suatu mata pelajaran tertentu (Fihq atau Hadits), Kadang-kadang ijazah tersebut meliputi beberapa mata pelajaran dan kadang-kadang berlaku untuk kitab-kitab khusus yang telah dibaca muridnya. Tetapi ketika madrasah-madarasah mulai munculan, sistem ujian sering diadakan. Tetapi peranan dan prestise guru secara individual adalah sedemikian besarnya sehingga, bahkan sesudah perngorganisasian madrasah-madrasah.

Pendidikan Era Pertengahan

Pada akhir abad pertengahan, mayoritas ilmuwan-ilmuwan yang termasyhur bukanlah produk madrasah-madrasah, tetapi adalah bekas-bekas murid informal guru-guru individu. Berkaitan erat dengan pentingnya guru secara senteral ini adalah fenomena yang dikenal sebagai mencari ilmu (thalabul ilm). Mahasiswa-mahasiswa pengembara melakukan perjalanan-perjalanan yang jauh, kadang-kadang dari ujung ke ujung dunia Islam. Inilah merupakan fenomena studi atau mencari ilmu pengetahuan pada abad pertengahan.

Sistem madrasah ; yang secara luas didasarkan pada sponsor dan kontrol negara, umumnya telah dipandang sebagai sebab kemunduran dan kemacetan ilmu pengetahuan dan kesarjanaan Islam. Tetapi madrasah dengan kurikulumnya yang terbatas, hanyalah gejala, bukan sebab sebenarnya dari kemunduran ini, walaupun mempercepat dan melestarikan kemacetan tersebut. Menurut Rahman, sebab sebenarnya dari penurunan kualitas ilmu pengetahuan Islam adalah kekeringan yang gradual dari ilmu-ilmu keagamaan karena pengucilannya dari kehidupan intelek-tualisme awam yang juga kemudian mati. Para ulama menentang kaum Mu’tazilah dan Syi’ah, para ‘Ulama telah memperoleh pengalaman dalam mengembangkan ilmu-ilmu mereka sendiri dan mengajarkannya dengan cara sedemikian rupa yang bisa mengokohkan pertahanan ilmu-ilmu tersebut. Sistem sekolah secara fisik jadi terisolir dari oposisi.

Lebih penting lagi adalah cara di mana isi dari ilmu-ilmu ortodoks tersebut dikembangkan, hingga dapat diisolir dari kemungkinan tantangan dan oposisi. Susunan dalam ilmu-ilmu keagamaan dibuat sedemikian rupa hingga mem-buatnya tampak mutlak swa-sembada (self-sufficient); ilmu-ilmu keagamaan tersebut menurut Rahman mengisi dan menempati semua bidang ilmu pengetahuan, sehingga semua ilmu pengetahuan yang lain adalah tambahan-tambahan yang tak diperhitungkan, atau sama sekali dikutuk. Pernyataan yang dikutip dari ahli hukum al-Syathibi, menyatakan bahwa mencari ilmu apapun juga yang tidak langsung berhubungan dengan amal adalah terlarang, pandangan ini merupakan ciri khas pandangan ulama zaman pertengahan. Rahman, mengatakan bahwa pernyataan ulama-ulama Islam zaman pertengahan, mengesampingkan filsafat, tetapi sebenarnya juga matematika, kecuali ilmu berhitung dasar. Sikap ini diambil untuk memberikan kedudukan yang mutlak kepada ilmu hukum-fiqh. Sedangkan mengenai teologi dogmatis bersaing dengan ilmu hukum untuk merebutkan kedudukan puncak dalam skema ilmu pengetahuan Islam, ia menegakkan dirinya sebagai pengganti filsafat-rasional.

Lebih lanjut Rahman mengatakan sejak abad ke-6 H/12 M, Fakhruddin al-Razi, memperluas ruang lingkup dengan mencakup logikadari sistem-sistem filosofis, dengan cara menambah teorinya tentang fisika dan filsafat kealaman, dan juga mengganti metafisika filosofisnya dengan thesis-thesis theologi dogmatisnya. Maka, seorang mahasiswa tidak perlu mempelajari semua karya-karya filosofis, karena theologi telah menghasilkan suatu ilmu yang komprehensif. Skema filosofis-theologis itu tidak perlu dicemohkan, karena pemikiran semacam ini merupakan tanda kesuburan dalam pemikiran Islam. Rahman, mengatakan bahwa Thomas Aquinas pun telah melakukan hal yang sama untuk agama Kristen pada zaman pertengahan Eropa. Tetapi bila kandungan skema tersebut dipandang mutlak secara eksklusif, maka ia akan kehilangan semua kemungkinan tantangan kreatif yang mungkin timbul. Maka, menurut “Rahman” apabila secara organis menghubungkan semua bentuk ilmu pengetahuan dan menjadikannya sebagai alat theologi dogmatis, maka sumber-sumber kesuburan intelektual jadi kering dan pemikiran orisinal mati.

Melalui proses ini, menurut “Rahman”, dengan sendirinya kurikulum madrasah diredusir secara sangat merugikan yang mengakibatkan timbulnya pandangan yang sempit dan juga menyebabkan pendidikan keagamaan yang tinggi menjadi lesu. Katib Chelebi (w.10-67 H/1657 M) meretapi kelayuan sain-sain rasional dan juga theologi tinggi sebagai berikut: “Tetapi banyak orang tidak cerdas…. yang pasti laksana batu-batu, membeku dalam peniruan kepada nenek moyangnya. Tanpa berpikir lagi, mereka menolak dan mengingkari ilmu-ilmu yang baru.

Pendidikan Era Modern

Sebenarnya menurut “Rahman” ada dua pendekatan dasar kepada pengetahuan modern telah dipakai oleh teori-teori Muslim modern (1) memperoleh pengetahuan modern hanya dibatasi pada bidang teknologi praktis karena pada bidang pemikiran murni kaum Muslimin tidaklah memerlukan produk intelektual Barat. (2) Karena kaum Muslimin tanpa takut bisa dan harus memperoleh tidak hanya teknologi Barat saja, tetapi juga intelektualismenya, karena tidak ada jenis pengetahuan yang merugikan, bagaimanapun juga sain dan pemikiran murni telah giat dibudidayakan oleh kaum Muslimin pada awal abad pertengahan, yang kemudian diambil alih oleh orang Barat.

Menurut “Rahman” , pandangan yang pertama mendorong atau melahirkan sikap dualistis pemikiran yang “sekularis”, suatu dualitas loyalitas ; kepada agama dan “urusan dunia”. Disisi lain Rahman,mengatakan bahwa : (1) berkembangnnya ilmu dan semangat ilmiah dari abad ke-9 sampai abad ke-13 di kalangan umat Islam berasal dari terlaksananya perintah al-Qur’an untuk mempelajari alam semesta – karya Allah yang memang diciptakan untuk kepentingan manusia, (2) pada abad-abad pertengahan akhir semangat penyelidikan di dunia Islam macet dan merosot, (3) Barat telah melaksanakan kajian-kajian ilmiah yang sebagian besar dipinjamny dari kaum Muslimin dan karena itu mereka memperoleh kemakmuran, bahkan menjajah negeri-negeri Muslim, (4) karena itu umat Islam, dalam mempelajari ilmu baru dari Barat yang maju, berarti meraih kembali masa lampau mereka dan sekaligus untuk memenuhi sekali lagi perintah-perintah al-Qur’an yang terlupakan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 14, 2012 in Pendidikan

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: