RSS

MEREDAM KONFLIK BERWAJAH AGAMA

05 Jun

Oleh : Hamam Burhanuddin

Judul : SOSIOLOGI AGAMA
Pengarang : DADANG KAHMAD
Kota Terbit

Penerbit

Tahun

:

:

:

Bandung

PT. Remaja Rosdakarya

Cet 1, 2000

Dimensi : 16 x 24 cm, HVS 70 gr, vii + 217 halaman

Dalam sosiologi, agama dikaji sebagai suatu fakta sosial. Munculnya sosiologi agama di akhir abad 19 sebagai disiplin baru dari sosiologi adalah untuk melihat agama sebagai situs pengetahuan yang dikaji dari sudut pandang sosiologis. Sosiologi agama tidak hendak melihat bagaimana seseorang beragama, akan tetapi untuk memotret kehidupan beragama secara kolektif yang difokuskan kepada peran agama dalam mengembangkan atau menghambat eksistensi sebuah peradaban suatu masyarakat dan sejarah peradaban kemanusiaan selama berabad-abad memang tidak pernah sepi dari hiruk pikuk aktualisasi agama dan kepercayaan dengan berbagai definisinya yang khas dan diwujudkan dalam perilaku keseharian masyarakat.

Pendahuluan

Seorang sosilog terkemuka asal Perancis, Emile Durkheim, dalam Muhni (1994) mendefinisikan agama sebagai : Religion is an interdependent whole composed of beliefs and rites related to sacred things, unites adherents in a single community known as a Church (satu sistem yang terkait anatar kepercayaan dan praktek ritual yang berkaitan dengan hal-hal yang kudus, yang mampu menyatukan pengukutnya menjadi satu kesatuan masyarakat dalam satu norma keagamaan).

Dari pengertian ini agama bisa dimaknai sebagai pembentuk formasi sosial yang menumbuhkan kolektifisme dalam satu komunitas masyarakat. Kesimpulan umum ini menjadi pijakan bagi para sosiolog agama dalam menjelaskan dimensi sosial agama dimana kekuatan kolektivisme agama dianggap telah mampu menyatukan banyak perbedaan antar individu dan golongan diantara pemeluknya. Di sini agama bisa dianggap mampu berperan dalam transformasi sosial menuju masyarakat yang membangun masyarakat secara kolektif.

Agama, secara historis memiliki citra integrafik dari sumber konflik. Dari khazanah ilmu-ilmu sosiologi modern, agama ternyata tidak dikaitkan dengan konflik, melainkan lebih kepada integrasi.

Emile Durkheim menemukan hakikat agama yang pada fungsinya sebagai sumber dan pembentuk solidaritas mekanis. Ia berpendapat bahwa agama adalah suatu pranata yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk mengikat individu menjadi satu-kesatuan melalui pembentukan sistem kepercayaan dan ritus. Melalui simbol-simbol yang sifatnya suci.

Agama mengikat orang-orang kedalam berbagai kelompok masyarakat yag terikat satu kesamaan. Durkheim membedakan antara solidaritas mekanis dengan solidaritas organis. Dengan konsep ini ia membedakan wujud masyarakat modern dan masyarakat tradisional. Ide tentang masyarakat adalah jiwa dari agama, demikian ungkap Emile Durkheim dalam The Elementary Form of Religious Life (1915).

Durkheim berkesimpulan bahwa bentuk-bentuk dasar agama meliputi :

1. Pemisahan antara `yang suci’ dan `yang profane’

2. Permulaan cerita-cerita tentang dewa-dewa

3. Macam-macam bentuk ritual.

Dasar-dasar ini bisa digeneralisir di semua kebudayaan, dan akan muncul dalam bentuk sosial. Masyarakat baik di Barat maupun di Timur, menunjukkan adanya suatu kebutuhan social yang berupa `kebaikan permanent’.

Menurut teori Durkheim, Agama bukanlah `sesuatu yang di luar’, tetapi `ada di dalam masyarakat’ itu sendiri, agama terbatas hanya pada seruan kelompok untuk tujuan menjaga kelebihan-kelebihan khusus kelompok tersebut. Oleh karena itu, agama dengan syariatnya tidak mungkin berhubungan dengan seluruh manusia.

Kritikan lain yang dikemukakan oleh Emile Durkheim; bahwa Animisme dan Fetishisme yang bersifat individualistik, tidak dapat menjelaskan agama sebagai sebuah fenomena sosial dan kelompok.
Menurut Durkheim, Intelektualisme yang meyakini bahwa jelmaan pertama kali agama dalam bentuk kelompok adalah ritual nenek moyang, yang menyembah para ruh nenek moyang mereka.

Kedudukan agama di sini sama dengan kedudukan kekerabatan, kesukuan, dan komunitas-komunitas lain yang masih diikat dengan nilai-nilai primordial. Masyarakat yang masih sederhana, dengan tingkat pembagiab kerja yang rendah terbentuk oleh solidaritas mekanis.

Ikatan yang terjadi bukan karena paksaan dari luar atau karena intensif ekonomi semata, melainkan kesadaran bersama yang didasarkan pada kepercayaan yang sama dan nilai-nilai yang disepakati sebagai standar moral dan pedoman tingkah laku. Dengan solidaritas mekanis tersebut masyarakat menjadi homogen dengan kesadaran kolektif yang tinggi tetapi menenggelamkan identitas pribadi untuk agar tercipta kebersamaan. Maka dari itu masyarakat yang berdasarkan system kekeluragaan dan kekerabatan serta kegotong-royongan yang dipertahankan oleh asas keharmonisan.

Agama Dalam Kacamata Sosiologi

Agama merupakan hal paling asasi bagi manusia. Ia tidak hanya dipandang sebagai aturan Tuhan untuk manusia, tetapi juga merupakan sistem sosial dalam suatu masyarakat.

Dalam kenyataannya, agama tidak hanya satu. Dalam sebuah masyarakat majemuk seperti Indonesia, misalnya, agama yang dianut seseorang atau sekelompok orang dihadapkan pada klaim kebenaran agama lain, tidak jarang timbul benturan, perselisihan, bahkan peperangan yang bernuansa agama.

Hal itu merupakan konsekuensi logis memahami agama hanya berdasarkan pendekatan teologis. Oleh karena itu, agar fenomena keberagaman manusia itu dapat melahirkan kedamaian dan persaudaraan, seyogyanya setiap penganut agama memahami keyakinan agama yang lain melalui pendekatan sosiologis.

Meskipun Buku ini cetakan lama tahun 2000 namun dalam kajiannya tidak kalah dengan buku-buku sosiologi agama yang lain, dalam buku ini berusaha mengungkap secara konseptual, teori-teori sosiologis tentang agama, tentang kiat melakukan kajian terhadap agama dengan pendekatan sosiologis, juga tentang konsep kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Singkatnya, penulis buku ini mencoba mengungkapkan bagaimana seseorang mengekspresikan keberagamannya di hadapan penganut agama lain, tanpa ada benturan.

Buku ini sangat berguna bagi siapa saja yang berusaha memahami gejala agama-agama secara sosiologis, baik akademisi atau masyarakat pada umumnya untuk direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari dalam wujud kerukunan umat beragama, karena melihat fenomena akhir-akhir ini masih banyak konflik yang bermunculan yang berwajah agama

 Ketahuilah, kini berkembang suatu “kesadaran” bahwa salah satu upaya untuk menumbuhkan kerukunan hidup beragama adalah dengan memahami gejala keberagaman manusia yang beragam, dan itu dapat dihampiri di antaranya melalui pendekatan sosiologi. Inilah pentingnya disiplin ilmu Sosiologi Agama. Membaca buku ini merupakan gerbang menuju tumbuhnya kerukunan umat beragama dan inilah salah satu nilai mengapa buku ini menjadi penting.

Pada bagian lain, Dadang menyorot tentang metodologi penelitian sosiologi agama. Agama memang tidak luput dari penelitian. Para ahli melakukan penelitian terhadap berbagai aspek dari agama, baik aspek ide maupun aspek perwujudan dari kenyataan, dari masalah keyakinan dan ajaran yang dimiliki oleh suatu agama sampai pengaruh agama pada kehidupan masyarakat pemeluknya. Sekurang-kurangnya ada dua pendekatan penting dalam penelitian agama.

Pertama, pendekatan teologis, yaitu pendekatan kewahyuan atau pendekatan keyakinan peneliti. Pendekatan ini biasanya dilakukan untuk kepentingan agama yang diyakini si peneliti atau penelitian terhadap suatu agama oleh pemeluk agama itu sendiri untuk menambah pembenaran keyakinan terhadap agama yang dipeluknya itu.

Kedua, pendekatan keilmuan, yaitu pendekatan yang memakai metodologi ilmiah, penelitian yang memakai aturan-aturan yang lazim dalam penelitian keilmuan. Pendekatan ini memakai metodologi tertentu yang diakui oleh dunia keilmuan, sistematis atau runtut dalam cara kerjanya, empiris, dan objektif.

Dalam beberapa bagian tulisannya, Dadang Kahmad secara naratif mengarahkan buku ini untuk meredam konflik antar agama. Menurut Dadang, agama selalu diliputi konflik. Konflik itu berawal dari sikap yakin terhadap agamanya, dan keyakinannya semakin baik “orang baik” itu justru semakin kuat membenarkan dirinya tidak toleran kepada orang lain, bahkan merasa berhak mengejar-ngejar orang lain yang tidak sepaham dengan dirinya. Ia justru menjadi sumber keonaran.

Agaknya untuk menghindari hal-hal ini, alangkah baiknya bila seluruh komponen masyarakat menyadari kembali kepada penegasan Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa sebaik-baiknya agama di sisi Allah adalah al-hanifiyyat al samhah; semangat kebenaran yang lapang dan terbuka; agama yang bersemangat kebenaran dan lapang serta terbuka untuk menolong manusia. Jika saja semangat yang demikian itu diterapkan pada tataran kehidupan sehari-hari, agama bisa menjadi pendorong semangat bagi setiap tindakan sosial.

”Konflik Agama” Tinjauan Sosiologi

Dengan melihat pada latar belakang industrialisasi, perkembangan kapitalisme dan proses terbentuknya masyarakat modern, maka agama dalam tradisisi pemikiran sosiologi, tidak dipersepsikan sebagai sumber konflik. Agama, sebagai sistem kepribadian, sistem sosial dan sisstem budaya, yang berhadapan denga proses-proses diatas memang mengalaimi disintegrasi.

Dalam proses disintegrasi itu akan timbul konflik. Tetapi sumber konflik itu bukanlah agama melainkan proses terbentuknya masyarakat ekonomi baru yang menimbulkan persaingan, sebagai suatu bentuk konflik yang telah direduksi menjadik konflik yang terkendali, berdasarkan kerangka aturan main yang disepakati.

Dengan perkataan lain bahwa, agama adalah penerima dampak dari proses perubahan. Di sini agama memang bisa berhadapan dengan nilai-nilai baru. Agama bisa dikatakan sebagai hambatan bagi suatu proses yang dikehendaki, dan agama memang menghadapi konflik.

Persoalan yang timbul dari perebutan sumberdaya akan akan menyeret agama kedalam suatu konflik, apabila agama dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Dalam pembicaraan mengenai agama sebagai faktor integratif dan pencipta harmoni, tersembunyi suatu asumsi tertentu mengenai konflik.

Dalam konteks ini konflik dilihat sebagai gejala patologis yang tampak sebagai suatu penyakit dalam masyarakat. Pandangan positif mengenai agama sebagai kekuatan integratif, seperti yang tercermin dalam teori Durkheim,

Konflik berwajah agama perlu dilihat dalam spektrum yang luas, yaitu pada kaitan-kaitan politis, ekonomi, atau sosial budayanya. Apabila benar bahwa konflik itu murni sebagai persoalan agama, maka masalah kerukunan sejati tetap hanya dapat dibangun atas dasar nilai-nilai keadilan, kebebasan, dan hak asasi manusia, yang menyentuh keluhuran martabat manusia. Makin mendalam rasa keagamaan, makin mendalam pula rasa keadilan dan kemanusiaan. Seandainya tidak demikian, agama tidak mengangkat keluhuran martabat manusia.

Hubungan antara manusia dengan agama merupakan hubungan totalitas. Atau dalam pengertian lain, bagaimanapun, manusia tidak bisa dipisahkan dengan agama. Namun karena agama yang dianut oleh manusia tidak satu, maka tentu saja klaim kebenaran masing-masing agama yang dianut oleh setiap orang akan muncul ke permukaan.

Jika klaim tersebut dihadapkan pada penganut agama lain, maka sudah dapat diduga akan terjadi benturan antar penganut agama, yang masing-masing memiliki klaim kebenaran. Buku ini mencoba mengungkapkan bagaimana seseorang mengekspresikan keberagamannya di hadapan penganut agama lain dengan tanpa benturan itu.

Buku ini menampilkan 16 bagian tulisan. Tulisan-tulisan tersebut antara lain mengungkap secara konseptual dari mulai teori-teori sosiologis tentang asal-usul agama hingga bagaimana melakukan kajian terhadap agama dengan pendekatan sosiologi. Kemudian penulis buku ini mengakhiri pembahasannya dengan menurunkan tulisan tentang konsep kerukunan antar umat beragama di Indonesia.

Agaknya, di tangan Guru Besar Sosiologi Agama IAIN Sunan Gunung Djati Bandung ini, uraian tentang sosiologi menjadi menarik, dan boleh dikatakan sebagai salah satu buku “terbaik” yang menguraikan hal serupa.

Kritik Terhadap Buku Sosiologi Agama

Kritik yang peresensi lontarkan dalam buku ini adalah belum adanya pemilahan dari segi masyarakat Di dalam seluruh masyarakat, sebagaimana telah diuraikan, orang yang membedakan antara masalah-masalah yang sakral dan yang sekuler.

Ada tiga tipe masyarakat. Tipe pertama adalah masyarakat dimana nilai-nilai yang sakral kuat sekali. Masyarakat yang kecil, terisolasi dan terbelakang. Tingkat perkembangan teknik mereka rendah dan pembagian kerja atau pembidangan kelas-kelas sosial mereka relatif masih kecil. Keluarga adalah lembaga mereka yang paling penting dan spesialisasi pengorganisasian kehidupan pemerintahan dan ekonomi masih amat sederhana.

Penganut agama yang sama; oleh karena itu keanggotaan mereka dalam masyarakat dan dalam kelompok keagamaan adalah sama. Agama menyusup ke dalam kelompok aktivitas yang lain, baik yang bersifat ekonomis, politik, kekeluargaan maupun rekreatif.

Tipe masyarakat ini cukup kecil jumlah anggotanya karena sebagian besar adat-istiadatnya dikenal. Masyarakat ini berpendapat bahwa pertama, agama memasukkan pengaruhnya yang sakral ke dalam sistem nilai masyarakat secara mutlak; kedua dalam keadaan lembaga lain selain keluarga, relatif belum berkembang, agama jelas menjadi fokus utama bagi pengintegrasian dan persatuan dari masyarakat secara keseluruhan.

Tipe kedua mencerminkan sejenis lingkungan di antara dua tipe lain tersebut. Tipe kedua ini tidak begitu terisolasi, berubah lebih cepat, lebih luas daerahnya dan lebih besar jumlah penduduknya, tingkat perkembangan teknologi yang lebih tinggi daripada masyarakat-masyarakat tipe pertama. Ciri-ciri umumnya adalah pembagian kerja yang luas, kelas-kelas sosial yang beraneka ragam, pertanian dan industri tangan, beberapa pusat perdagangan kota. Batas-batas yang lebih tegas dapat diketahui kapan orang-orang pergi berkerja, bermain, atau pergi bersembahyang daripada, misalnya di kalangan penduduk (pulau) Trobriand.

Agama tentu saja memberikan arti dan ikatan kepada sistem nilai dalam tipe masyarakat ini, akan tetapi pada saat yang sama lingkungan yang sakral dan yang sekuler itu sedikit banyaknya masih dapat dibedakan.

Tipe ketiga adalah masyarakat di mana nilai-nilai sekuler sangat berpengaruh. Deskripsi di bawah ini jelas agak condong kepada masyarakat perkotaan modern di Indonesia sekarang ini. Akan tetapi yang disebut terakhir ini, karena tingginya tingkat materialismenya, bisa dianggap sebagai salah-satu contoh yang apling mirip dengan masyarakat tipe ketiga ini.

Dalam tipe masyarakt ketiga ini karena budaya materialis di bidang ekonomi bisa juga mengambil warna sakral yang semu. Di dalam banyak deskripsi yang populer mengenai tatanan ekonomi pada masyarakat modern tampak bahwa seringkali kata uang dapat diganti dengan moral, tanpa terfikir apakah ini merupakan kesalahan cetak atau kesalahan tulisan.

Tingkah-laku sejumlah orang dalam masyarakat industri yang relatif modern dibentuk semata-mata, atau bahkan terutama, sesuai dengan nilai-nilai keagamaan. Kelemahan nilai keagamaan sebagai suatu fokus pengintegrasian, tentu saja, antara lain di sebabkan oleh keanekaragaman sistem nilai dari berbagai organisasi keagamaan yang seringkali berusaha mendaptkan kesetiaan setiap individu anggotanya.

Eksistensi sub-sub masyarakat yang lebih kecil di dalam masyarakat kita yang lebih luas ini dengan konsepsi mereka yang berbeda-beda tentang peranan agama menimbulkan konflik-konflik dan ketidaksesuaian baik dalam tatanan sosial maupun dalam kepribadian.

Maka dalam buku ini perlu adanya tatanan masyarakat yakni memposisikan masyarakat pada dimensi pedesaan dan perkotaan karena kelompok masyarakat di pedesaan jelas berbeda dengan masyarakat yang tinggal di perkotaan. Wallahu a’lam bi ash-Shawab.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 5, 2012 in Resensi

 

Tag: , , ,

2 responses to “MEREDAM KONFLIK BERWAJAH AGAMA

  1. abdul herlambang

    Juli 18, 2012 at 11:58 pm

    Yang penting adalah tidak menggunakan konflik ini sebagai cara singkat untuk menghakimi dan kemudian menyalahkan klaim kebenaran (yang dalam kacamata agama sama dengan ‘iman’ sebab tak ada iman tanpa adanya klaim kebenaran) atau menjadikan klaim kebenaran sebagai ‘kambing hitam’,sebab bila ingin mempermasalahkan ‘klaim kebenaran’ seharusnya dalam debat ilmiah yang terbuka untuk menguji kekuatan landasan ilmiah dari apa yang diyakini seseorang.
    opini seputar konflik harus berujung kepada tindakan pragmatis untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar serta siapa yang harus dihukum bukan mempermasalahkan hal yang bersifat pribadi seperti klaim kebenaran. sebab tak bisa mengadili perbuatan lahiriah yang salah dari seseorang tapi yang di salahkan adalah klaim kebenaran seseorang itu terhadap adanya Tuhan yang maha esa.
    di zaman Rasul konflik konflik sudah biasa terjadi dan Rasul bisa menyelesaikannya secara bijak tanpa menyuruh seorang muslim untuk melepas klaim kebenaran yang ia pegang agar tidak berkonflik dengan orang lain.
    jadi mari kita belajar bijak untuk bisa melihat-memilah dan memutuskan.

     
  2. abdul herlambang

    Juli 19, 2012 at 7:38 am

    Agama merangkul seluruh yang baik dan benar darimanapun datangnya serta menolak seluruh yang tidak baik dan tidak benar dari manapun datangnya.(itulah pemahaman yang universal terhadap eksistensi agama diseluruh tempat diseluruh penjuru bumi),sehingga ditempat manapun agama eksist ia akan merangkul semua yang baik dan benar yang ada dalam masyarakat serta akan berlawanan dengan semua yang tidak baik dan tidak benar yang ada dalam sebuah komunitas masyarakat. ini adalah salah satu dasar dari ilmu tentang ‘sosiologi agama’ yang jarang dibahas sosiolog dari barat,mereka seringkali hanya melihat eksistensi agama dari permukaan sehingga kala terjadi konflik yang sering disalahkan atau dijadikan kambing hitam terkadang adalah agama atau klaim kebenaran yang dianut pemeluknya.sosiolog barat seringkali tidak melihat kepada adanya ‘yang tidak baik dan tidak benar’ yang ada dalam masyarakat yang membuatnya otomatis berkonflik dengan agama.
    contoh sederhana : Agama turun disebuah komunitas yang gemar berjudi serta meminum minuman keras maka konflik jelas akan terjadi karena hal hal seperti itu bertolak belakang dengan ajaran agama.
    jadi bila terjadi konflik yang harus ‘diperiksa’ bukan hanya agama atau klaim kebenaran penganutnya tapi juga ada apa dimasyarakat yang salah yang tidak baik yang bertentangan dengan agama (?)
    kadangkala memang sering terjadi fenomena yang tidak adil : bila terjadi konflik kaum intelektual pembuat opini seperti ramai ramai menghakimi agama dan menggugat klaim kebenaran yang dianut pemeluknya tapi ada apa yang salah dan tidak baik di masyarakat yang membuatnya menjadi berkonflik dengan agama seringkali tidak menjadi focus bahasan.
    contoh yang mendunia : ketika agama turun di Sodom dan Gomora tempat terjadinya kejahatan seksual maka konflik masyarakat dengan agama memang terjadi dan berujung dengan diluluh lantakkannya Sodom dan gomora oleh hukuman Tuhan.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: