RSS

Potret Sekte Keagamaan Yang Menyimpang di Indonesia

01 Jun

Oleh: Hamam Burhanuddin

Pluralis itulah potret keragaman yang mengggambarkan Indonesia. di Indonesia sendiri terdapat beberapa aliran dan paham keagamaan yang dianggap “nyeleneh”. sedangkan secara kuantitas jumlahnya tidak dapat dihitung mereka tersebar di seluruh tanah air Indonesia.

Media cetak maupun elektronik sering menayangkan problem keagamaan yakni munculnya ajaran-ajaran baru yang bermunculan di negeri Indonesia, padahal Negara Indonesia adalah mayoritas beragama Islam. bahkan bisa dikatakan paling banyak di dunia.

contoh beberapa aliran kegamaan seperti aliran inkarussunnah, ahmadiyah, aliran Madi, aliran dextro, Sumardi (Sulawesi Barat) dan sejenisnya. dan yang lebih tragis lagi semua ajaran baru itu akhir-akhirnya bukan berurusan dengan Tuhan, tapi berurusan dengan pihak kepolisian yaitu mendekam di penajara

beberapa aliran tadi ada menawarkan beraneka ragam bentuk yang sudah tidak sesuai dengan koridor ajaran Islam. jika sang penganut mengikuti ajarannya akan masuk surga atau yang lain. seperti aliran Sumardi berasal dari warga Laligo Poliwale Sulawesi Barat mengajarkan shalat sambil bersiul serta berpuasa boleh makan dan yang lebih mengherankan lagi ajaran tersebut tidak mau mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi akhir zaman (SM/17/1/60).

Majlis Ulama Indonesia mengatakan bahwa semua ajaran baru bisa dikatakan aliran sesat, sebab semua ajaran baru sudah keluar dari koridor ajaran Islam. hal senada juga di ungkapkan oleh Menteri Agama RI dan lahirnya beberapa aliran yang ada di Indonesia sudah tidak bisa dibenarkan lagi. karena sudah keluar dari ajaran syariat Islam. kalau aliran tersebut sudah tidak berada pada syariat Islam harus diluruskan kembali ke jalan yang benar.

selama ini penanganan terhadap aliran-aliran yang dianggap sesat tidak ditangani secara serius oleh lembaga yang berwenang meaupun dari lembaga yang berwenang sehingga aliran-aliran sesat tersebut terus berkembang dan meresahkan masyarakat, walaupun sudah dilarang oleh Negara sekalipun.

kejaksaan agung yang memiliki “pakem” serta yang menentukan secara hukum pun tidak mampu sepenuhnya menaggulangi bahaya aliran-aliran yang dianggap membayakan masyarakat dan membahayakan keamanan. tapi di Indonesia ada kecenderungan untuk melihat gerakan tersebut sebagai ancaman terhadap stabilitas dan keamaan dan untuk segera melarangnya. karena itu pemerintah sulit membedakan gerakan sempalan dengan gerakan terlarang atau gerakan oposisi politik.

munculnya beberapa aliran tadi jelas ada latar belakangnya dan aliran ini muncul gara-gara respon atas kondisi sosial yang ada. sedangkan menurut Wilson sudah menggambarkan suatu spektrum aliran agama yang lebih luas dari pada gerakan spektrum gerakan sempalan Indonesia. meski demikian, beberapa gerakan di Indonesia agak sulit diletakkan dalam tipologi itu. kriteria yang dipakai Wilson adalah sikap sekte terhadap dunia sekitar, namun terdapat berbagai gerakan di Indonesia yang tidak mempunyai sikap sosial tertentu dan hanya membedakan diri dari “ortodoksi” dengan ajaran atau amalan yang lain.

Ada beberapa bagi jumlah aliran yang di anggap “menyimpang” baik pemerintah maupun masyarakat, serta yang dapat terindentifikasi

1.  Inkarusunnah

Paham ini pertama kali diajarkan dan disebarkan oleh tokohnya bernama Tarkus Taka, seorang tokoh Indi Jerman. tinggal diperkampungan Kristen di daerah Depok Jakarta. kemudian mempunyai banyak aliran, serta erat dengan orang Belanda. sedangkan ajarannya adalah sebagai berikut : pertama tidak percaya semua hadits nabi Muhammad, menurut aliran ini hadis adalah produk Yahudi. dasar hukum yang benar adalah al Qur’an. kedua, nabi Muhammad tidak pernah menjelaskan al Qur’an. ketiga, Rasul diutus sampai hari kiamat. keempat hari dilakukan tidak hanya bulan dzulhijjah tapi boleh dilakukan pada bulan muharram.

2. Ahamdiyah

Ahmadiyah didirikan di India, tepatnya desa Qodiyyan pada sekitar tahun 1889. aliran di pimpin oleh Murza Ghulam Ahmad dan pada waktu itu bekerja sama dengan penjajah Inggris. namun pada wafatnya Murza Ghulam Ahmad aliran ini pecah menjadi dua. pertama ahmadiyah Qodiyyan dan yang kedua Ahmadiyyah Lahore.

masuk di Indonesia pada tahun 1930-an, hingga saat ini sudah mempunyai kurang lebih 200 cabang yang tersebar di seluruh di beberapa daerah di Indonesia dan sentral kegiatannya ada di kampus  al-Mubarrok Parung Bogor. namun saat ini, ahmadiyah dipimpin oleh Thahir Ahmad. sedangkan ajarannya adalah sebagai berikut : pertama, kita suci di dunia ada lima, yaitu Taurat yang diturunkan kepada nabi Musa, Zabur kepada nabi Daud, Injil kepada nabi Isa, al Qur’an kepada nabi Muhammad dan tadzkiroh kepada Murza Ghulam Ahmad. kedua, jumlah nabi dan rasul yang diyakini umat Islam kurang satu tidak hanya 25 tetapi 26, ketiga, sumber hukum Islam al Qur’an tadzkiroh, hadis nabi Muhammad, hadis nabi Murza Ghulam Ahmad dan petunjuk para khalifah jamaah ahmadiyyah.

3. Aliran Dextro

Pemimpin aliran ini bernama M Raji. ia warga karanganyar gunung Candi Sari Semarang. aliran ini dinamakan dextro oleh masyarakat karena pengikutnya setiap kali akan menjalankan shalat berdzikir terlbih dahulu minum pil dextro. aliran ini mengaku beragama Islam tapi mengajarkan ajaran umat Islam  yang unik. pertama, membaca surat al fatihah saat shalat dhuhur dan ashar dengan suara keras. kedua, untuk penyempurnaan dzikir dan ibadah mereka maka harus minum pil dextro minimal 20 butir. ketiga, sikap mereka terhadap keluarga, orang tua dan masyarakat sangat tidak menghargai, bahkan mereka orang yang tidak sama dengan mereka adalah setan. keempat, pengikutnya selalu mengatakan “saya adalah Allah”.

4. Aliran Madi

Madi adalah nama seorang warga keturunan suku kaili sub etnis Da’a yaitu salah satu sub etnis kaili di Sulawesi tengah. aliran ini dianggap sesat karena dalam konteks pengobatan memiliki ritual tersendiri yang harus di ikuti dan dipatuhi para pengikutnya. kepatuhan itu harus dilakukan sekalipun pasien tak mendapatkan kesembuhan atau bahkan meninggal dunia. oleh MUI dan Departemen Pendidikan Agama aliran ini dilarang untuk mengembangkan ajarannya di Negara Indonesia.

5. Aliran Sumardi

Sumardi adalah nama pendiri dan pemimpin kelompok yang berkembang di Polmas Sulawesi Barat. Sumardi mengajarkan shalat yang aneh karena pada tiap rakaatnya shalat dilakukan sambil bersiul.

Semua aliran, tidak lahir dari rahim kalangan umat Islam sendiri, tetapi juga di “import” dari luar negeri ketika sudah mapan. ketiganya merupakan paham agama yang sudah berdiri lama di negera lain sebelum masuknya ke Indonesia. pada masa awalnya ketiganya memiliki aspek messianis, namun kemudian merubah menjadi  introversionis, tanpa sekali menghilangkan semangat awalnya.

indikator yang menonjol dalam beberapa gerakan sempalan yang radikal adalah latar belakang pendidikan dan pengetahuan agama banyak anggotanya yang relatif rendah, tetapi diimbangi semangat keagamaan yang tinggi. sebagian besar mereka sejauh pengamatan saya sangat idealis dan sangat ingin mengabdi kepada agama dan masyarakat.

karena adanya jurang komunikasi antara tokoh-tokoh agama dan kalangan muda yang frustasi tetapi idealis ini, tokoh-tokoh tadi tidak mampu menyalurkan aspirasi dan idealisme mereka ke dalam saluran yang lebih moderat dan produktif pemuda-pemuda radikal, di pihak lain, justru karena masih dangkalnya pengetahuan agama mereka, menganggap bahwa seharusnya Islam mempunyai jawaban yang sedarhana, jelas dan kongkrit atas semua permasalahan inilah watak khas setiap sekte.

Sejauh yang sempat saya amati, gerakan sempalan Islam di Indonesia biasanya tidak muncul di tengah-tengah kalangan umat, tetapi di pinggirannya. sebagiannya mungkin bisa dilihat sebagai aspek dari proses pengIslaman yang sudah mulai berlangsung selama enam abad atau tujuh abad yang lalu dan masih terus berlangsung, sebagian juga (terutama gerakan yang “radikal” bisa dilihat sebagai “komentar” terhadap ortodoksi yang telah ada). dengan usul koreksi terhadap hal-hal yang dianggapnya kurang memadai. selama dialog antara ortodoksi dan gerakan sempalan masih bisa berlangsung, fenomena ini mempunyai fungsi positif. terputusnya komunikasi dan semakin terasingnya gerakan sempalan tadi mengandung bahaya. kalau ortodoksi tidak respponsif dan komunikasi lagi dan hanya bereaksi dengan melarang-larang (atau dengan diam saja), ortodoksi sendiri merupakan salah satu sebab penyimpangan “ekstrim” ini.

Pencegahan Munculnya Aliran Menyimpang

Pada dasarnya penulis sepakat tentang adanya berbagai aliran yang ada di Indonesia tentunya dalam koridor agama. setidaknya menurut hemat penulis tentu harus ada problem solving (pemecahan) tentang merebaknya aliran-aliran yang dianggap “menyimpang” sebab tingkat menyimpangnya hal yang sudah tidak wajar lagi. serta tidak boleh menganggap remeh, karena kalau ini dianggap persoalan remeh maka akan semakin meresahkan masyarakat banyak. sehingga pada dasarnya persoalan muncul pada diri kita sendiri, mungkin terkontaminasi dari faktor luar apalagi kekuatan iman serta ketaqwaan yang misih tipis. oleh sebab itu, di tingkat grass rot (akar bawah) perlu adanya redefinisi serta pemahaman kembali tentang subtansi agama serta implikasinya, sehingga dengan adanya landasan teori yang kuat masalah term agama, kemungkinan kecil beberapa aliran yang dianggap “nyeleneh” serta untuk meminimalisir bisa muncul kembali ke Indonesia.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 1, 2012 in Opini

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: