RSS

Mengenal Falsafah M. Iqbal

24 Mei

Oleh Hamam Burhanuddin

Dari tahun 1905 sampai 1908 Iqbal belajar falsafah pada Mc Teggart dan James Ward di Cambridge, selama masa ini juga belajar buah pikiran dan syair-syair dari Jalaluddin Rumi dalam penyusunan tesisnya (proef-schrift).

Iqbal seorang mistikus pantheistis, yang ditunjukkan dalam tesisnya “The Development Of Metaphysics In Persia” awalmya jalaludin Rumi di jadikannya sebagai pembimbing rohaninya, diikutinya pula dengan telaah yang mendalam tentang hasil ciptaan dan keperibadian Nietzsche dan Bergson.

Rumi seperti Nietzsche, percaya kepada evolusi, kemerdekaan, kemungkinan-kemungkinan dan keabadian pribadi, dengan iradahnya hendak beroleh kekuasaan, beserta nilai-nilai ego dan menghapus yang lama mendatangkan yang baru. Seperti Bergson, Iqbal percaya pada gerak sebagai esensi realitas, dan pada  ilham (intuisi) sebagai sumber ilmu.

Pemikiran Iqbal pun diperkuat oleh karangan Mc Dougal yaitu Social Psychology dan Outlines of Psychology. Dalam kedua buku ini, kehidupan disamaratakan dengan elan vital Bergson dan rasa pekat menghargai diri sendiri, sebagai intisari kepribadian.

Selama kurang lebih 8 tahun (dari tahun 1901-1908) Iqbal masih sufi pantheis, yakni berpendapat bahwa Tuhan adalah keindahan segala yang abadi. Yang berdiri sendiri, tetapi menjelmakan diri-Nya di langit dan dibumi, di matahari dan bulan, dalam terbitnya bintang dan jatuhnya embun, di laut dan daratan, di api dan nyata, di batu dan pepohonan, di unggas dan semua margasatwa, di ahrum dan nyanyian.

Bahwa Tuhan sebagai Dzat nan indah mewujudkan segala gerak sesuatu di alam semesta ini. Tenaga dan daya dalam objek-objek fisik, tumbuh dalam tanaman, instink pada hewan dan kemauan pada manusia, itu semuanya ialah bentuk penarikan ilahi sendiri, cinta bagi Tuhan. Maka keindahan nan abadi itu menjadi sumber, esensi dan yang idela dari segala sesuatu. Tuhan universal dan melingkupi segala penaka samudera raja dan orang seorang adalah titik yang ingin menyatu dengan samudera. Atau juga Tuhan adalah matahari dan pribadi manusia sebagai lilin dan lilin berhenti menyala jika ada matahari.

Demikianlah pikiran dan cita-cita Iqbal cita sufi pantheis begitu kentara pada Bang-I-Dara (genta kafilah) di bagian pertama. Iqbal juga mengambil konsep ke-Tuhanan dari Plato, bagi Plato Tuhan juga keindahan nan abadi, sebagai fitrah yang universal dan yang mendahului segala ini dan menjelma dalam segala hal dan bentuk dan melukiskannya sebagai keutaman universal. Sehingga karya Iqbal berupa syair-syairnya yang esensinya cenderung sufi-pantheis banyak ditentang oleh masyarakat.

Namun, setelah telaah Iqbal di London dan Munich, Rumi menjadi Muhim (inspirator) baginya dan beberapa filsuf Timur dan Barat lain membawa dia kembali kepada intisai Qur’an. Konsep Tuhan bagi Iqbal kini bukanlah keindahan nan abadi, tapi iradah yang abadi (internal will) dan keindahan digolongkan menjadi salah satu sifat dari pada-Nya. Sikap yang melingkupi nilai seni dan susila. Bukanlah sifat Hasan – Ihsan (keindahan dan kemurahan) Tuhan yang ditegaskannya, tetapi tauhid Tuhan. Iman kepada tauhid Allah ini dinyatakan oleh Iqbal terdapa nilai pragmatis, sebab oleh cita tauhid ini menjelmalah kesatuan dalam tujuan dan kekuatan kepada orang seorang, bangsa dan umat, bangsa manusia dalam segalanya. Lagipula kian bertambah jaya, kian meluas gairah, cita harap dan kemauan dan hilang sirna segala takut atau segan kepada siapa saja.

Falsafah Iqbal

Dijelasnya bahwa pribadi muslim yakni; khudi berarti “ego” yang hendak menangkap ego yang besar (khuda, berarti Tuhan) oleh kian membulatnya sendiri. Pribadi bukanlah lagi ada dalam waktu, tetapi waktu sendiri sudah menjadi dinamis pribadi. Pribadi atau khundi itu ialah action, amal yang menempuh jalan melintasi segala macam kesulitan, hambatan dan aral melintang. Waktu sebagai action ialah hidup, dan hidup islah pribadi.

Tuhan menjelmakan (derivate) sifat-sifat-Nya bukanlah di dalam benda ini dengan sempurna tetapi pada para pribadi, sehingga mendekati Tuhan berarti : menumbuhkan sifat-sifat-Nya dalam diri. Jadi mencari Tuhan bukanlah dengan jalan merendah-rendahkan diri, atau meminta-minta, tetapi dengan himmah-tenaga yang berkobar-kobar menjelmakan sifat-sifat uluhiyah (ke-Tuhanan) dalam diri kita dan kepada masyarakat ramai. Jadi mendekati Tuhan ialah menyemprunakan diri pribadi memperkuat iradah dan kemauannya.

Falsafah Iqbal selaras dengan keadaan dan kondisi dunia Timur saat itu, keadaan politik dan kebudayaan yang lemah. Apalagi umat islam sudah merosot sekali  kedudukannya. Iqbal yang memang dalam sekali tinjauannya mengenai sejarah agama-agama dan kebudayaan, menyatakan bahwa jatuhnya martabat umat islam disebabkan oleh cita-cita dan  pikiran Plato serta neo-Plato (platonic), yang menganggap dunia ini sebagai khayal semata, yang tak perlu diburu. Cita dan pikiran ini amat selaras pula dengan pikiran Vedanta yang percaya kepada Tuhan seabgai immanent serta menganggap dunia ini sebagai emanasi atau pengluasan dari Tuhan.

Falsafahnya tercermin dalam syair-syair yang ada dalam Asrar-I-Khudi, salah satunya mengkritik pemikiran Plato. Hal ini tidak jauh beda dengan zaman sekarang, pertengkaran, perdebatan karena keesaan Tuhan sebagai simbol setiap agama. Padahal yang diperdebatkan umat beragama sekarang hanyalah sifat-sifat Tuhan. Sehingga memunculkan tindakan-tindakan anarkhis atas nama agama, bahkan terorisme. Di sinilah posisi falsafah tauhid dengan tidak sekedar mengetahui tapi juga mengerti akan agama tersebut. Falsafahnya mengembalikan jiwa manusia kepada tujuan awal mereka beribadah-beragama- yakni menuju insanul kamil.

Hadis nabi Muhammad sebagaimana diketahui tafsir dan falsafah kepribadian Iqbal ialah : 1). Man arafa nafsahu fa qad arafa rabbahu, siapa yang mengenal pribadinya sendiri, dikenalnya Tuhannya. 2). Takhallaq bi akhlaqillah, tumbuhkanlah dalam dirimu sifat-sifat Allah.

Yang pertama membulatkan cita dan pikiran seseorang pada kehendak memperbaiki dan menumbuhkan diirnya, sedangkan hadis yang kedua menyempurnakan pribadi seseorang dengan kewajiban mengenal sifat-sifat Tuhan di alam ini dan bagaimana meniru sifat-sifat Tuhan itu. Siapa yang paling dekat kepada Tuhan, dialah yang paling sempurna, kata Iqbal.

Dan lagi Iqbal melukiskan, bahwa setiap bencara dan bala itu, menurut hadis rasulullah ialah semacam pembersihan bagi roh seseorang. Jadi tidaklah benar kritik sebagian sarjana dan penyair bahwa Iqbal mengambil pengertian terus dari para filsuf barat.

Syair-syair panjang dari maulana Jalaluddin Rumi rupanya amatlah berkesan kepada Iqbal, sehingga ditauladaninya cara Rumi bersajak itu. Matsnawi rumi memang juga buku syair yang amat masyhur di Persia sendiri, dan alim ulama Islam amat menyukainya.

Dalam permulaan kumpulan syair Iqbal asrar-I-khudi ini, Iqbal pun melukiskan bagaimana Rumi datang kepadanya dalam kasyaf dengan ajakan supaya bangkit dan bersinandung.

“Wahai saqi, bangkitlah dan tuangkan aggur dalam piala” (asrar-i-khudi)”

Selanjutnya ada persamaan Iqbal dengan rumi dalam rumusan beberapa hal : pertama manusia utama atau insanul kamil, kedua isyq atau cinta, ketiga berusaha segiat-giatnya untuk memperoleh hidup yang kekal dan keempat hubungan antara pribadi yang mutanah (berakhir) dan pribadi ghairu mutanah (pribadi yang tidak berakhir).

Empat hal ini bagi Iqbal adalah obat atau penyembuh bagi jiwa-jiwa umat Islam yang rapuh, gersang akan manisnya iman. Tegasnya Iqbal dan Rumi kedua-duanya setuju bahwa manusia dapat menjadi “insanul kamil” dan bentuk manusia begini  juga tidaklah dilahirkan oleh golongan aristokrasi atau juga bukan masuk golongan itu.

Kemudian kedua-duanya seia-sekata bahwa keabadian yang sejati hanyalah mungkin dengan kehampiran pada Tuhan illahi rabbi. Yakni menanggalkan kepribadian yang bersyarat atau berbatas. Esensi atau intisari kepribadian terulah hidup meskipun sifat-sifatnya sudah bercorak sifat-sifat uluhiyah.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 24, 2012 in Filsafat

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: