RSS

Mengungkap Tradisi Filsuf Prancis*

23 Mei

Telaah buku Filsafat Barat Kontemporer Prancis yang ditulis oleh K. Bertens Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama tahun 2006. Oleh: Hamam Burhanuddin

Salah satu Negara di Eropa yang kaya akan tradisi filosofinya adalah Negara Prancis, bila dibandingkan dengan Negara-negara barat lain ada hal yang menarik dari negeri ini, yaitu ilmu filsafatnya

Sebelum terjadi pembaruan sIstem pendidikan pada tahun 1970-an, ilmu filsafat di Prancis tidak hanya sebatas dipelajari di dalam perguruan tinggi saja, seperti di Negara kita, Indonesia. Tetapi juga pada taraf sekolah menegah. Dari hal itulah filsafat mendapat porsi lebih banyak di perguruan tinggi karena diharapkan universitas akan mencetak banyak guru yang sanggup mengajar filsafat di tingkat sekolah menengah. Ini semua juga berkat jasa dari Victor Cousia (1792-1867) seorang professor filsafat di universitas Sorbonne yang pernah menjabat sebagai Menteri pendidikan di Paris, Prancis. Darinyalah ilmu filsafat mulai dikenal dan berkembang menjadi sebuah tradisi yang terus berkelanjutkan.

Alasan itulah yang menjadikan professor Doktor K. Bertens menyusun buku diberi judul “Filsafat Barat Kontemporer Prancis”. Judul ini merupakan rangkaian dari judul sebelumnya, yaitu filsafat barat abad XX Inggris dan Jerman, yang terbit tahun 1981 dan dicetak ulang 1985. Doktor filsafat dari Universitas Leuven, Belgia yang sudah mengajar tentang filsafat dI berbagai perguruan tinggi di Indonesia ini mencoba mengupas tentang perkembangan pemikiran para filsuf Prancis pada awal hingga akhir abad ke-20-an. Tulisan ilmiah ini diuraikan secara apik dan sistematik berdasarkan tahun awal kemunculannya. Diantaranya adalah Henri Bergson yang muncul awal abad 20 dengan pemikiran filosofisnya yang terkenal yaitu “Dorre dan Kebebasan”, disusul Maurice Blondel, Pierre Teilhard de Chardin, Gabriel Marcel, Jean Paul Sarte dan “Eksistensialismenya” Maurice Merkau Ponty dan “Fenomenologinya” dan Jean Francois Iyatard dan “Postmodernisme” yang menutup filsuf akhir abad 20.

Pada dasarnya, buku terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama ini, membuat dua garis pokok yaitu Pertama, menceritakan riwayat hidup para filosfis Prancis secara singkat dengan berabagai lika-liku kehidupannyam mulai awal kali mengenal dunia filsafat sampai menjadi orang-orang yang berhasil dan berjasa dalam kefilsafatan, sehingga menorehkan tinta emas tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi bagi Prancis sendiri sebagai negaranya dan juga bagi dunia kefilsafatan pada umumnya. Kedua, memaparkan hasil pemikiran-pemikiran mereka mengenai kefilsafatan, yang tak jarang saling bertentangan antara filsuf yang satu dengan yang lain. Dan sering pula pandangan-pandangan mereka menimbulkan kontroversial yang tiada berkesudahan, dan bahkan pencekalan terhadap karya-karya mereka. Salah satunya adalah Pieerre Teilhard de Chardin. Selama hidupnya, Teilhard sering dicurigai oleh instansi-instansi Gerejawi karena pandangannya dianggap tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katholik yang resmi. Karena itulah karya-karya besarnya tidak mendapat izin untuk diterbitkan dan baru terbit setelah ia meninggal.

Dalam penjabarannya, Bertens tidak menlis secara mendetail tentang hasil pemikiran dari para filsuf Prancis tersebut, tetapi sebatas garis besarnya saja, meskipun demikian, hal itu tidak mneghilangkan maksud dan arti yang sesungguhnya terhadap pemikiran mereka. Disamping itu, gaya bahasa yang di tulis dalam penerjemahan karya mereka masih asli, tidak ada perubahan. Sehinggga kita bisa tahu perbedaan-perbedaan gaya tulisan antara filsuf satu dengan yang lainnya.

Kelebihan yang lain bahwa dalam pengupasan pemikiran filsuf besar Prancis ini, juga diberi penjelasan tentang bahasa yang sulit yang tidak terserap ke dalam bahasa kita. Perlu kita ketahui tidak semua kalimat atau kata-kata yang menjadi pemikiran mereka yang aslinya (berbahasa Prancis) seluruhnya dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sehingga penulis menjabarkan dan mencari arti yang mendekati tanpa harus memudarkan arti yang sebenarnya. Sehingga kesalahpahaman maksud dari buku ini dapat dihindari.

Disinilah pentingnya mengetahui para filsuf zaman dulu, khususnya abad 20 di Prancis mengetahui asal-usul atau latar belakang dari mereka serta hasil pemikirannya yang tiada ternilai harganya itu, sehingga mampu menjadi warisan bagi dunia dan memberi sebuah kepuasan tersendiri yang tentunnya juga tiada bisa digantikan atau dinilai dengan apapun.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 23, 2012 in Resensi

 

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: