RSS

Menegekkan Kembali Gerakan Mahasiswa (Refleksi Kebangkitan Pasca-Reformasi)

22 Mei

Oleh : Hamam Burhanuddin

Gerakan mahasiswa 98 beberapa tahun yang lalu satu sisi berhasil menuai pujian dari banyak pihak. Karena bisa memaksa Rezim Orde Baru lengser dari kursi kepresidenan yang dikukuhi selama 32 tahun. Tapi bila dicermati, tidak sedikit kegagalan yang kemudian diciptakan. Gagal dalam arti gerakan mahasiswa yang terakhir ini hanya mampu memotong sebuah batang tua rapu, sedangkan akar-akarnya dibiarkan menancap kokoh.

Akar-akar yang saya maksudkan tak lain barisan teknokrat yang menjadi tulang punggung penompang rezim Orba. Mereka tetap punya kesempatan untuk hidup dan berkembang. Hingga akibatnya dalam waktu singkat mereka beradaptasi dan melakukan metamorfosis menjadi bentuk-tubuh baru dengan jiwa lama. Konyolnya, bentuk baru ini ternyata lebih resisten dan kuat terhadap terjangan aksi gerakan mahasiswa yang masih sering kali muncul, meski dalam skala kecil.

Resistensi dan kekuatan ini berangkat dari perpaduan pengalaman menghadapi gerakan mahasiswa masa lalu serta memanfaatkan jalur procedural demokrasi. Harus diakui kelemahan sistem demokrasi yang dijalankan di negeri ini hanya menitikberatkan pada prosedural belaka. Hingga tak heran peluang tersebut yang kemudian mereka manfaatkan dengan baik untuk mendapat legitimasi rakyat atas kedudukan mereka.

Salah satu contohnya pemilu langsung, yang belum tentu rahasia dilaksanakan. Partai politik boleh beragam dan banyak, rakyat boleh berkampanye keliling kota atau berkumpul dilapangan untuk sejenak mendengarkan bualan para jurkam kemudian bereforia dengan dangdutan.

Tepat pada waktu yang sudah ditentukan rakyat dimobilisir untuk mencontreng dan kemudian dipersilahkan pulang kembali ke rumah sekedar menjadi penononton atraksi dagelan politik tanpa satu kepastian apakah mereka bisa berdaya ketika ternyata janji yang terlontar tidak satupun yang diwujudkan. Karena tidak satupun kandidat presidan yang telah melakukan kontrak sosial dengan rakyatnya.

Sempurnalah restorasi para elit golongan lama ini menjadi wujud baru, berkulit baru dan berbaju demokrasi, tapi sekali lagi, isinya tetap seperti “tempo doeloe”. Keadaan inilah ini mempoisiikan gerakan mahasiswa pada situasi yang dilematis. Ketika dibiarkan mereka mulai merajalela, namun jika dilawan mahasiswa akan mendapat label anti demokrasi. Ujung-ujungnya rakyat sendiri yang harus dihadapi.

Sayangnya sebagian organ gerakan mahasiswa justru hanyut dalam carut-marutnya bias pelaksanaan demokrasi. Perlahan namun pasti, gerakan mahasiswa mulai terbawa harus siklus politik elit serta dukung-mendukung partai atau golongan tertentu.

Mungkin inilah yang disebut syclia atau ulangan sejarah gerakan mahasiswa Indonesia era 66. Pasti mencapai puncak perjuangan untuk meruntuhkan kekuasaan sebuah rezim, gerakan mahasiswa seolah-olah makin jauh dari bais kekuatan rakyat. Ironisnya mereka kemudian hanyut menjadi alat kekuasaan elit politik yang sedang bersaing.

Sepertinya euphoria kemenangan semu gerakan mahasiswa tahun 98 itulah yang mempengaruhi psikologis mahasiswa dalam pemilihan dan penggalian isu mereka lebih tertarik menghadapi isu-isu politik elit dan fenomena-fenomena politik nasional. Hingga tercipta kesan jika gerakan mahasiswa tidak bicara tentang isu politik elit, ngomong tentang masalah nasional yang juga identik dengan politik atau topik-topik yang muncul di Jakarta tidak akan “ngetren”. Padahal disekitar lokalitas mahasiswa sendiri masih banyak setumpuk permasalahan kerakyatan yang perlu disingkapi.

Akhirnya tidak bisa disalahkan jika kemudian rakyat makin menjauh dari gerakan mahasiswa. Aksi turun jalan tidak lagi pupulis dan strategis untuk mengundang simpati dukungan rakyat. Jangankan untuk terlibat menyaksikan saja sudah enggan. Bahkan kini aparat tidak perlu lagi “berteriak” dan mengeluarkan undang-undang anti demonstransi, karena masyarakat sendiri ternyata sudah antipati dan dengan senang hati melontarkan tudingan bahwa gerakan mahasiswa itu mengganggu ketertiban publik. malah kadang menjadi meresahkan karena ulah sebagian mahasiswa yang anarkis.

Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari model gerakan mahasiswa era 80-an sampai awal 90-an dimana gerakan mahasiswa lebih banyak turun ke basis rakyat. Tampak dalam ramainya keterlibatan mahasiswa dalam advoksi maupun pembelaan kasus buruh dan tani serta pengangkatan kasus-kasus lokal kepermukaan yang memang kurang mendapat perhatian.

Memang konsekuensi logis dari model gerakan ini, gerakan mahasiswa tidak akan memiliki citra booming dan hebat seperti gerakan mahasiswa era 66. Namun terbukti dalam realita gerakan mahasiswa era 80-an dan 90-an berhasil mencapai titik dasar dari kerangka penguatan masyarakat. Mahasiswa era tersebut berhasil meruntuhkan menara gading kampus dan mahasiswa itu sendiri.

Satu model gerakan yang penting untuk ditelaah kembali di era pasca reformasi saat ini. Semoga kita bisa merefleksikan beberapa gerakan era 80-an dan 90-an, sudah saatnya Indonesia menuju perubahan kearah yang lebih baik dengan menumbangkan mental-mental bobrok yang masih melanggengkan terhadap korupsi, kolusi dan nepotisme. Mahasiswa adalah agen perubahan sosial (agent of social change) yang suaranya masih patut untuk di dengar oleh para wakil rakyat di senayan. Hidup mahasiswa!!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 22, 2012 in Opini

 

Tag: , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: