RSS

Dialektika Tradisi Budaya Bangsa (Refleksi Kebangkitan Nasional)

21 Mei

Oleh : Hamam Burhanuddin

Ini adalah suatu penglihatan terhadap permasalahan pembentukan bangsa. Disebut juga bina bangsa, baik dalam pengertian nation building maupun nation formation. Khususnya, hal ini dilihat pada kasus bangsa Indonesia. Suatu bentukan bangsa baru atas dasar persatuan sebuah bangsa atau kelompok etnik.

Boleh dikata, Indonesia lahir dari rahim Islam, tradisi budaya di nusantara secara umum terbentuk melalui perkawinan antara budaya  lokal dan Islam. Semisal di Minangkabau, bagaimana konsepsi pendidikan Islam begitu pesat. Sesuai tercatat sejarah, praktisi pendidikan kita sedikit banyak tertelurkan dari tanah Buya Hamka tersebut. Ahmad Dahlan, tokoh pendiri Muhammadiyah dengan rasionalisasinya berhasil merubah tatanan masyarakat klenik di daerah pesisir selatan menjadi berwatak modern. Malahan menciptakan struktur kota Yogyakarta sebagai ikon kota terpelajar tertua di Indonesia. Sampai kini pun teteap kukuh sebagai kota pencetak intelektualitas nomor wahid.

Berikutnya Hasyim Asy’ari, kakek guru bangsa Abdurrahman Wahid, sukses mengemban masyarakat penjaga tradisi di daerah pesisir utara. Nahdatul ulama (NU) sebagai kendaraan politik ke-Islamannya, tak terkalahkan waktu menduduki jawara ormas terbesar di bumi gemah ripah loh jinawi ini. Hampir seabad berdiri, NU mempertahankan corak ke-Islaman yang khas dan kaya akan tradisi leluhur. Kedua sosok tersebut, Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari, merupakan tokoh Islamisasi di negeri ber-Bhineka Tunggal Ika tercinta ini. budaya Minangkabau bersamaan dengan Melayu merupakan peneguh visi ke-Indonesiaan paling utama.

Masih banyak lagi deskripsi persentuhan budaya lokal dan Islam yang turut membangun bangsa Indonesia sampai menjadi Indonesia yang sebenar-benarnya. Nusa Tenggara Barat, membawa misi kebangsaan. Maluku dengan segenap tatanan visi kultural dan politik kebangsaan Islami. Dan pengalaman panjang Aceh yang penuh dinamika dan Islam di Jawa sendiri. Semuanya menyumbangkan nuansa bangsa yang unik dan menarik.

Dan pada gilirannya, khasanah budaya nasional terbangun di atas pondasi yang kokoh, yakni di atas pilar-pilar Islam. Kita tidak menuntut kembali sumbangsih Islam atas Negara melainkan, berusaha mengungkap kesejatian sejarah bangsa Indonesia. Hakikat ini diharapkan menjadi warning bagi pihak yang bermaksud menjelek-jelekkkan Islam di Indonesia. Dan kemudian menampik stigma negatif yang melekat pada nama harum Islam.

Merupakan suatu keharusan bagi setiap individu untuk mengenal jati dirinya. Sebagai warga Negara juga tak luput terkena kewajiban memahami sejarah bangsanya. Nusantara yang meliputi ribuan gugusan pulau terpendam nilai sejarah bervarian versi. Setiap versi punya klaim atas totoritas kesahihan. Saling berebut kebenaran mempertahankan versi masing-masing. Tujuannya mengedepankan kepentingan terselubung pada akhirnya cerita sejarah diotak-atik begitu rupa dan nantinya menggiring opini massa ke dalam perangkap poliitk. Begitu pelik dinamika sejarah. Bejibun sejarah palsu tersebar merambah alam intelektual sekalipun. Wajah-wajah bohong tak kenatara terselimuti koar-kora jargon ilmiah. Sungguh nestapa dibalik raut muka bangsa yang naïf. Meskipun sejarah bukanlah keberanan mutlak, namum sedikit objek dan peristiwa-peristiwa masa lalu dapat digunakan sebagai referensi diri. Maksudnya sebagai tempat sebuah seni mengidentifiasikan dirinya secara dealogis. Dalam hal ini cerita masa lalu sebagai jejak-jejak tanpa akhir dan tidak akan pernah sampai pada sebuah makna atau kebenaran akhir.

Refelsi Kebangkitan Nasional

Konsepsi hubbul wathan dalam Islam amat membantu melebarkan peta kekuasaan Islam. Berbekal ini, Islam diterima oleh banyak umat. Pada dataran politik, ini sekaligus memperjelas perhatikan ajaran Islam dalam kebangsaan dan kenegaraan. Peduli kebangsaan ini adalah sebuah penegasan atas kontribusi Islam dalam mempersatukan visi kebangsaan masyarakat.

Terlepas dari itu semua, jika dicermati lebih jauh perananan Islam sangat penting dalam perspektif kenegaraan. Terutama jika diletakkan pada konteks perkembangan sosial di Indonesia. Kita semua mafhum bahwa masyarakat Indonesia adalah majemuk. Diantara berbagai kelompok sosial, politik, suku bangsa dan agama. Islam hadir membulatkan tekad persatuan melalui konsepsi hubbul wathan, atau cinta dan bela tanah air.

Makna yang lain adalah ternyata stigma negatif Islam di Indonesia selama ini merupakan suatu kenihilan. Mungkin paling tepat jika praktisi politik, aktivis sosial, sejarawan, tokoh masyarakat dan kalangan akademisi sekalipun berkenan memerhatikan masalah historisitas deialektika bangsanya. So, mereka memiliki peta yang benar untuk melanjutkan kegiatannya, tapa lagi menafikan posisi Islam dalam nation building.

Alienasi Islam dalam percaturan global adalah kekeliruan absolut. Dan ini harus segara dibenarkan. Karena sejatinya bukan seperti itu. Tentu ini sebuah kritik. Kita semua tahu kritik yang telah menjadi klasik tersebut. Ironi ini berubah paradox ketika kita membaca buku ini dengan seksama. Tidak sebatas itu, mungkin justru akan menumbuhkan kemarahan tak terhingga. Kita berharap tidak demikian, karena hal ini bukanlah sikap terhormat dan bukan ciri Islam. Dan keliru dua kali jika kita mengingkari asumsi ini. Selama ini yang selalu terjumpai adalah realitas semu. Artinya, jauh dari keadaan aslinya. Masalahnya keluasan wawasan menjadi kunci terpenting menyelesaikan masalah ini. Dengan begitu kematengan bertindak akan lahir dengan sendirinya tanpa harus mumet berfikir lima belas kali. Sehingga ketika ada ide semacam itu, hati legawa menampung setiap gagasan miring.

Kita bersama perlu mengetuk nurani diri. Image tentang Islam selama ini dalam masyarakat adalah dari kecelakaan mengolah informasi. Dan ini merupakan kesengajaan. Bagi mereka yang mengamati Islam, menggulirkan api provokasi dianggap kiat paling mujarab menghadapi kekuatan Islam. Cara seperti ini bukan barang baru dalam segala lini. Menciptakan air keruh disini, agaknya timbul akibat kebuntuan pikir. Seperti kehabisan akal saja.

Di tengah realitas sosial yang dipenuh kenyataan samar, menulis sejarah mnejadi tantangan yang penuh dilema hebat. Di satu sisi pencatat sejarah terpanggil untuk menyuarakan jiwa yang tertekan akibat realitas sosial. Disisi yang lain, benturan arus kepentingan yang serba tak berbelaskasihan. Pada sisi lainnya lagi, kajian sejarah terasa telah usang. Artinya dianggap gak layak jual karena sudah basi untuk dikaji.

Sebagai merefleksi sejarah kebangkitan nasional ini seharusnya kita bisa menata kembali jati diri bangsa yang telah carut marut dan kompleks, mulai dari persoalan politik, korupsi, sosial budaya disintegrasi bangsa dan hal-hal yang masih perlu pembenahan dan perbaikan untuk mewujudkan nilai kebudayaan dan bangsa yang luhur adil dan makmur sesuai dengan cita-cita bangsa di masa dimasa depan. Semoga.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 21, 2012 in sosial budaya

 

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: