RSS

Sastra Membentuk Jati Diri Bangsa

20 Mei

Oleh: Hamam Burhanuddin

Emosi bisa dibangun berdasarkan kesadaran diri semakin terbuka kita pada emosi maka semakin terampil kita membaca perasaan. Kesadaran diri itu sangat diperlukan untuk mengontrol pribadi yang sangat sensitif. Dan pada orang yang sadar diri akan tercipta sebuah daya dari dalam dirinya karena adanya sifa peka, sebab pada kecermalangan akan memberikan solusi dengan tepat. Emosi tak pernah diungkapkan melalui kata-kata, tapi melalui luapan-luapan perbauatan tingkah. Emosi itu sering diluapkan pada isyarat tidak dengan perbuatan, kunci memahami emosi itu adalah mampu membaca pesan non verbal (pesan yang berupa kita ucapkan atau kata-kata) sebaliknya emosi seseorang bisa kita pahami lewat nada bicara, gerak-gerik ekspresi wajah (mimik) dan sebagainya. (Daniel Goelman)

Pendidikan adalah pencerahan (Daniel Goleman) maka boleh dikata pendidikan adalah salah satu kekuatan pandawa lima bangsa. Penerepan sistem pendidikan dari tahun ketahun mengalami perubahan untuk berkembangan mutu pendidikan dan mencetak aset bangsa yang lebih baik.

Mengajarkan pendidikan melalui bahasa merupakan suatu hal yang tidak bisa di tawar-tawar lagi, terutama bahasa persatuan Indonesia yakni bahasa Indonesia. Ada hal yang perlu dikritisi ketika sekolah mengajarkan pendidikan bahasa ini, pelajaran bahasa Indonesia seperti menulis, membaca dan tata bahasa sudah bisa diterapkan namun hanya menggunakan unsur kognitif dan psikomotorik saja. Ada satu bahasa yang kurang di perhatikan yang termasuk dalam bahasa Indonesia yakni sastra. Untuk sebagian sastra ini meliputi tiga unsur di unsur yang ketiga yaitu afektif sering dilupakan sehingga penyampaian dan penerapan kurang sempurna. Dalam sastra butuh kecerdasan penuh, keahlian dan perasaan. Bagaimana pengungkapan akan sampai pada subtansi bila perasaan tidak digunakan.

Tidak banyak kita jumpai di beberapa lembaga pendidikan tentang pentingnya menerapkan sastra dalam arus dominan mata pelajaran, pelajaran sastra kurang sempurna. Walaupun pemerintah berteriak-teriak pentingnya kebudayaan bangsa yang harus dikenalkan pada siswa di sekolah, namun apresiasi akan hal itu belum sampai pada tarap maksimal atau dengan kala lain masih ditangani separo-separo. pelajaran sastra berperan penting untuk kebudayaan bangsa ini. Jangan disalahkan bila kebudayaan luntur, warna dan aromanya tak seharum dulu, ini karena kelalaian kita sebagai fasilitas dan sekaligus pengguna dalam pengenalan kepada bibit-bibit bangsa yang masih hijau dan lugu atau mudah tercampur dengan keadaan lingkungan yang membentuk.

Sastra untuk mencerdaskan bangsa

Bagaimana bangsa ini bisa dewasa? Paling tidak bangsa yang dewasa adalah yang mampu mengatur keadaan bangsanya sendri. Sehingga kemajuan itu didukung dengan kedewasaan sebagai naluri jiwa yang patriot. Sastra kta sampai kapanpun akan membantu dalam mencapai jati diri sendiri, jati diri untuk mencapai kebangsaan. Dengan kata lain bahwa kedewasaan itu tidak bisa dilihat hanya melalui umur saja. Kedewasaan bangsa memerlukan sebuah kesadaran akan asal kesejarahan dan keanekaragaman yang dimiliki.

Pada poin inilah sebenarnya kita dapat membuka sebuah tabir sastra. Sastra selalu mencatat kisah hidup bangsa dari A hingga Z lewat berbagai ornament dan apresiasi sejarah. Hidup di jaman ini adalah hidup di jaman yang penuh ketidakmungkinan, inilah jaman modern. Tentu ini berbeda dengan keadaan pada masa 20-an. Namun kita yang hidup di jaman ini dapat mengapreasiasi keadaan pada tahun 20-an tersebut lewat goresan tinta narator terkemuka.

Itu adalah beberapa hal yang sebenarnya ingin dikatakan oleh sastra kepada orang-orang lain keadaannya dengan pelajaran eksak yang memuat rumus-rumus yang baku. Di sinilah kita temukan perbedadan yang mencolok untuk mencetak kepribadian robot ataukah pribadi yang penuh dengan kreasi untuk mewarnai hidup dan kemerdekaan mereka.

Kedewasaan dalam pembentukan jati diri itu muncul tidak dari produk pendidikan yang melambung tinggi dengan bahasa-bahasa yang penuh dengan keegoisan pribadi. Dengan keadaan yang berbeda sastra bisa menentukan kepribadian seseorang yang tenggelam dalam dunia yang penuh dengan atodidak hidup. Sastra meregangkan keadaan dan menenggelamkan jiwa dalam pembentukan kepribadian yang loyal dalam hidup dengan kreasi yang penuh dengan kedewasaan, dan benar-benar terbentuk dari diri sendiri. Siapapun sepakat untuk mencapai kesempurnaan, itu mencakup semua unsur dalam tubuh kita seperti akal, Yang Maha Kuasa sebagai sang Khalik, perasaan, jiwa, insting untuk menghasilkan satu tindakan yang matang dari kita, contohnya ketika kita mengambil keputusan A itu sudah mengambil suatu dari akal pikiran, perasaan, naluri, hati, bahkan suara dalam jiwa kita. Sehingga A yang kita putuskan adalah sebuah cermin dari kepribadian diri yang paling dalam diri kita. Itulah kedewasaan yang selama ini kita tunggu untuk kemajuan bangsa yang benar-benar mencetak aset bangsa yang bertanggungjawab dalam tindakannya. Dan terciptanya bangsa yang sempurna harus mencakup seluruh unsur untuk kesempurnaan dalam pembentukan pribadi bangsa.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 20, 2012 in sosial budaya

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: