RSS

Tuhan Adalah Temuan Manusia

18 Mei

Tuhan adalah penemuan manusia sebuah alat spiritual untuk membantu kita berurusan dengan ketakutan dan keinginan kita. Ini adalah berita buruk karena hidup manusia mempoyeksikan semua kualitas-kualitas baik mereka kepada Tuhan dan melihatnya sebagai yang pemurah, bijak, penyayang dan sebagainya sementara mereka melihat diri mereka sendiri sebagai sesuatu yang sangat rendah jadi kemanusiaan mengasingkan (alienasi) dirinya dari kebenaran manusia. (Ludwig Feuerbach)

Manusia modern tidak lagi puas dengan satu interpretasi tentang dunia. Karena manusia telah sampai pada perpsektif yang berbeda dalam dunia ide-ide dan pandangan dunia maupun praktik kehidupan. Sebagai akibatnya dunia kontemporer menjaga pola-pola lama hanya dalam pengertian yang sangat dangkal. Ia lebih menjadi subjek yang aktif daripada objek yang pasif. Sehingga mereka menolak kemandegan dan yakin akan menggunakan semua kemampuannya untuk merubah dunia. Karena dinilai segala sesuatu itu tidaklah final, bisa ditaklukkan, dan bisa diubah.

Sedangkan manusia yang tradisional menganggap segala sesuatu telah ditetapkan dan dikodratkan serta menganggap manusia tidak mungkin dan tidak berhasrat mengubah dunia. Dan ia sudah puas dengan sedikit penyesuaian dalam perilaku dan dalam berhubungan. Juga yakin bahwa tatanan “alamiah dunia (baik dalam masyarakat maupun alam) tidak boleh diganggu.

Monusia modern telah mengambil peran agen dunia yang agresif dan aktif, sedangkan manusia tradisional memahami dirinya sebagai tamu di rumah yang sudah jadi, yang penghuninya tidak mempunyai kesempatan atau hak untuk berkeberatan atau mengubah sesuatu. Manusia puas dengan jatah kehidupan mereka dan menyukai pepatah ini : “kita hanya dibagi beberapa jatah dari meja takdir ini”. Seperti konsep yang ditujukan oleh Syaikh Syabistari dalam puisinya : dunia ini laksana wajah-wajah nan jelita masing-masing wajah tampak jelita di tempatnya yang tepat.

Itulah beberapa pandangan mereka terhadap agama, sebenarnya kalau kita mengkaji secara mendalam pendekatan deterministik pada kehidupan memerlukan pemahaman khusus. Pada masa lampau, agama jarang mendorong transformasi dunia dengan penuh semangat, radikal dan ambisius. Kaum moralis dan ulama masa lampau tidak mungkin mendorong pemanfaatan sumber-sumber dunia secara serius dan dinamis. Moralitas dan watak keagamaan tradisional mengharuskan sikap penghambatan dihadapan sang pencipta. Misalkan, menerima dengan syukur tanpa protes atas nasib seseorang dalam hidup ini, dengan kata lain, orang baik harus bisa menerima nasibnya, menggunakan dan membaginya secara adil dan biasanya menjalani kehidupan yang tentram. Seperti yang didiskripsikan Rumi “karena kita diciptakan, bukan sebagai pencipta, kita ditakdirkan penurut dan tenang”.

Dimensi ilahiyah dan perubahan

Gagasan tentang perubahan bisa dirujukan dengan sifat agama sebagai pembawa kebenaran abadi dan parenial. Ketertundukan tanpa reserve kepada arus perubahan bisa dipastikan tak akan meninggalkan cukup ruang bagi tradisi dan agama. Kengototan buta terhadap tradisi yang kaku dan penentangan terhadap transformasi-transformasi radikal yang pada kenyataannya terjadi dalam kehidupan manusia akan memustahilkan seseorang untuk menjalani kehidupan agama di dunia yang terus berubah pada masa sekarang ini.

Sehingga sekarang ini terjadi dikotomisasi terhadap pemikiran antara upaya mengubah dan mentradisikan syariat, sebenarnya ini hanya persoalan epistimologis yakni dalam hal pengidentifikasian syariat itu sendiri dengan pengetahuan dan pemahaman kolektif kita sebagaimana dirumuskan oleh para ahli teologi, fuqaha dan filosof, penafsir dan ulama yang lain di sepanjang sejarah.

Meminjam ungkapan Ahmad Wahib (17 April 1970) yang menyatakan: Nah, koreksi ini menghindarkan kita dari formulis-formulis, karena tugas kita yang utama pindah pada persoalan bagaimana kita membawakan (mentransfer) ide yang sebenarnya dari Muhammad (berasal dari Allah) dalam kondisi yang berlain-lain. yang harus kita lakukan dalam mentransfer ini, sesudah dilakukan ideation (proses pembentukan gagasan –red.) adalah proses transformasi. Bagaimana proses transformasi ini dilakukan? Ini memerlukan banyak ilmu seperti sosiologi dan lain-lain. makin kompleks suatu masyarakat, makin sukar pelaksanaan proses transformasi ini, dan kerenanya makin terasa perlunya bantuan ilmu-ilmu di atas, untuk menemukan “adequate reinterpretation of the normative image” (penafsiran ulang yang adekuat atas gambaran normatif – Red.). Saya kira, dengan meletakkan sejarahMuhammad dan perjuangannya sebagai sumber ajaran Islam, maka terlihatlah manusia Muslim dalam tugas historical direction (mengarahkan sejarah – Red.) untuk mengisap dari sejarah Muhammad sebagai sumber terangbagi masa kini. Dalam tugas historical direction ini, aktivis spiritual dan intelektual manusia Muslim ikut berbicara. Hanya dengan melaksanakan tugas ini dengan sebaik-baiknyadan memahami tugas historical direction sebagai panggilan dan sekaligus kedatangan Tuhan pada diri kita (direct communication with god [komunikasi langsung dengan Tuhan – Red.]) bisa memahami wahyu Allah yang komplit yaitu bahwasanya: Wahyu Allah telah turun juga pada diri kita, di samping wahyu terbesar berupa al-Qur‟an pada Muhammad.

Esensi kewahyuan syariat diakui, penafsiran tentangnya harus didefinisikan sebagai sesuatu yang tidak lain dan tidak bukan adalah makna dan kandungan yang dipahami dari firman Tuhan oleh berbagai komentator dan penafsir. Agama adalah wahyu Tuhan dan sebagai demikian, ia bersifat murni dan absolut. Agar agama bisa dipahami harus melewati saluran daya komunikatif manusia yang bekerja di dalam suatu kompleks susunan hubungan-hubungan sosial manusia.

Agama yang bersifat keilahian itupun menjadi tercerai berai, menjadi tidak lengkap dan kehilangan kemurnian serta keabsolutannya sehingga dari watak perennial dan abadi agama sebagaimana adanya seseorang tidak bisa menyimpulkan sifat-sifat yang sama bagi pemahaman kita tentang agama yang selalu tidak lengkap. Suatu kesalahan besar untuk melekatkan kesakralan kepada penafsiran apapun atas agama karena alasan kesakralan agama itu sendiri.

Yurispundensi agama betatapun sumbernya adalah Tuhan, dan bukan sejarah tak pelak menjadi historis dan memangku aplikasi duniawi. Jika kita tempatkan humum agama di atas prinsip kebenaran dan keadilan (dan bukan hanya secara praktis melainkan secara epistemologis juga) jika kita gagal menetapkan standar moral yang independen (seperti kepentingan umum dan keadilan) dalam menginterpretasikan hukum agama jika kita melepaskannya dari akar teologisnya dan menolak memandang memandang yurispundensi untuk hal-hal yang kecil maka kita akan sampai pada yurispundensi agama yang anti kemapanan dan tidak efektif. Oleh sebab itu, mengembalikan posisi Tuhan dengan agama harus secara sumber ilahiyah karena Tuhan adalah temuan manusia.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 18, 2012 in Filsafat

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: