RSS

Kembali Ke Bumi Multikultural

18 Mei

Oleh Hamam Burhanuddin

Globalisasi, modernisasi dan industrialisasi bila dihubungkan dengan masyarakat dunia sebenarnya mereka berada dalam jaring-jaring sosial, secara tidak sadar kita telah menghilangkan kanekaragaman budaya dan masyarakat Indonesia. sebenarnya modernitas menggiring kita kepada kesatuan yang semu.
Mega trend dunia, sebagaimana yang dinyatakan oleh John Naisbitt, menunjukkan bahwa modernitas dan globalisasi sebagai akibat langsung dari industrialisasi dunia mengarahkan kepada kita kepada keseragaman budaya hiburan, pakaian dan makanan.
Prakteknya bisa kita lihat masyarakat kita sudah banyak yang memakai produk buatan Amerika, makan dan minuman made in Cina, bergaya dan tren ala kebudayaan Eropa. Bagi yang tidak update akan dikatakan ketinggalan, tak modern, bahkan bisa dibilang kolot dan kemsupay. Inilah yang terjadi pada masyarakt kita. Akibatnya timbul krisis nilai di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat dunia ketiga yang mengalami transisi dari sistem sosial yang tradisional menuju kepada sistem sosial yang modern.
Agama selama berabad-abad menjadi bagian tidak terpisahkan dari pranata sosial masyarakat Islam, dihadapkan pada sebuah tantangan besar. Agama yang menurut Bassam Tibi lahir dari budaya praindustri, memerlukan penyegaran karena elan vital dan semangat perubahan yang lekat dalam pertumbuhannya terbekukan oleh proses sejarah sehingga menjadi doktrin-doktrin prakarsa yang antiperubahan.
Diskursus tentang dialektika antara turats dan tajdid antara warisan budaya Islam dan perubahan yang terjadi antara normativitas dan historisitas, antara tradisi dan globalisasi membentuk oposisi biner yang menuntut setiap orang memposisikan diri dalam salah satu cara pandang terhadap hubungan oposisional tersebut. Seorang muslim kemudian harus bersikap mengikuti cara pandang modernis, neomodernis, tradisionalis, post-tradisionalis, neo-tradisionalis, revivalis atau fundamentalis sebagai bentuk cara pandang dalam menyikapi modernitas yang sarat muatan kolonial.
Persoalannya adalah dunia sudah tidak lagi bisa dipisahkan dengan cara oposisi biner karena nilai-nilai tidak lagi mudah dipilah menjadi hitam atau putih, melainkan banyak wilayah abu-abunya. Kritik post-modern dan poststrukturalis terhadpa modernitas dan cara pandang strukturalis menyadarkan banyak pihak bahwa keanekaragaman budaya manusia telah terkorbankan dan terpinggirkan oleh narasi besar globalisasi dan modernitas.
Globalisasi dan modernitas menjadikan budaya pasar dan budaya kapital sebagai wacana dominan yang mengatasi segala bentuk keanekaragaman hasil cipta, karsa dan kerja ras manusia.
Imperialism kebudayaan ala kolonialisme telah melahirkan respon-respon yang kontraproduktif terhadap keeksistensi manusia di muka bumi ini. Dua anak kandung imperalisme yaitu komunisme dan fundamentalisme sampai saat ini masih bekerja untuk menantang narasi tunggal peradaban yang ingin diciptakan budaya kapitalistik yang cenderung westernis dan Euro-Amerika sentris.
Gerakan-gerakan fundamentalistik di Timur Tengah, Afrika Utara, Asia Selatan dan Asia Tenggara dan gerakan Marxis di Amerika Latin atau Asia Utara saat ini dinarasikan sebagai bad boy yang mengancam stabilias dunia.
Ditengah-tengah tersebut agama tampil sebagai basis kultural, simbol dan spirit dengan sebuah utopia untuk mewujudkan keadailan dan perdamian sejati untuk melakukan penentangan terhadap wacana dominan peradaban yang menindas, bias, dan tidak adil.
Agama telah bergerak dari spirit spiritualisme menjadi layar simbol yang memberikan alternatif bagi pentas dunia yang tidak ramah perbedaan tersebut. Posisi layar simbol itulah yang menimbulkan “perbenturan peradaban”. Simbol-simbol agama telah menjadi simbol-simbol kultural bagi alienasi kekuatan dunia yang dapat menggoncangkan peta penguasa dunia saat ini.
Agama kemudian menjadi kencah untuk memperebutkan penguasaan atas pemaknaan dan wacana. Dimensi ruhani agama terpinggirkan oleh dimensi ijtimai yang sarat dengan kepentingan duniawi dan kekuasaan. Arus literalisme dan liberalism berebut memenangkan dimensi ijtimai agama. Tidak heran apabila tasawuf menjadi pilihan sebagian umat Islam untuk berlindung dari carut-marut pertikaian perebutan penguasaan wacana agama.

Bumi Multikultural

Multikulturalisme sebagamana yang dikatakan Zakiyuddin Baidhamy menjadi sebuah “imperatif peradaban” dalam kondisi tersebut. Multikulturalime tidak harus dipahami secara sempit dalam konteks praktek-praktek ritual tradisional, struktur soisial tradisional, benda-benda antik peninggalan masa lalu, atau folklore sebagaimana menjadi perhatian para antropolog. Multikulturalisme bisa dipahami secara luas dalam konteks keanekaragaman simbol-simbol eksoteris agama, budaya dan ras. Multikulturalisme adalah cara hidup di bumi yang berkoeksistensi dalam menjaga keberlangsungan ras manusia dengan menghormati dan siap hidup bersama dengan keanekaragaman simbol-simbol eksoteris tersebut.
Pendidikan (sosialisasi dalam term sosiologi) adalah pintu utama menanamkan dan mentransformasikan gagasan dan mental multikulturalisme. Pendidikan multikulturalisme menjadi alternatif untuk melakukan perubahan wajah dunia dimasa mendatang. Pendidikan multikulturalisme seyogyanya berangkat dari semangat revolusi Perancis yang berlandas kepada liberte, fraternite dan egalite. Kesetaraan lahir karena persaudaraan dan persaudaraan lahir dari kebebasan. Kesetaraan tertinggi adalah pencapaian tertinggi peradaban manusia karena dalam kesetaraan itulah bentuk-bentuk penguasaan dan penindasan sesama manusia ditiadakan. Jadilah bumi sebagai mana diungkapkan oleh Pramoedya Ananta Toer sebagai “bumi manusia” bukan hanya bumi penguasa.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 18, 2012 in Opini

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: