RSS

DARI MULTIKULTURAL, STUDY KROSSKULTURAL MENUJU TRANSKULTURAL

17 Mei

Oleh: Hamam Burhanuddin

Kita orang Islam belum mampu menerjemahkan kebenaran ajaran Islam dalam suatu program pencapaian. Antara ultimate values (nilai-nilai pokok –Red.) dalam ajaran Islam dengan kondisi sekarang memerlukan penerjemahan-penerjemahan. Dan ini tidak disadari. Karena seperti itulah kita menjadi orang yang selalu ketinggalan dalam usaha pencapaian dan cenderung ekslusif. (Ahmad Wahib 17 Januari 1969)

Membahas tentang multikulturalisme menjadi hal yang tidak akan habisnya, kalau melihat secara geografis sejak zaman dahulu kita kenal bahwa Nusantara ini memiliki format Asia dan Australia. Dari Samudra Hindia dan Pasifik, nusantara ini tempat bertemunya beragam kebudayaan, jadi tempat lintas kultural.

Jawa sebagai salah satu kepulauan Nusantara memiliki kemampuan untuk akulturasi dan inkulturasi sejak zaman dahulu, sebagai Negara kepulauan jelas Nusantara memiliki pertukaran budaya yang sangat  besar, contoh sederhana seperti bahasa sangsakerta, kemudian sangsakerta dijawakan menjadi jawa kuno, lahir sutawa, prapanca.

Contoh lain dalam hal makanan yang berasal dari Cina yang dijawakan seperti Bakpia Patok Jogja, Lumpia Semarang Bakso Wonogiri itu semua berasal dari Cina, tapi bila kita cari makanan tersebut di Cina mungkin tidak akan menemukan, kalaupun ada mungkin tak sama dengan di Indonesia, ini membuktikan kemampuan kita untuk akulturasi. Kalau kita baca sejarah masuk Islam di Indonesia jelas tergambarkan bagaimana Islam masuk ke tanah jawa, kemudian Jawa diIslamisasikan.

Kebudayaan Dapat Merubah Realitas

Pada zaman Majapahit putri Pasundan mau diperistri oleh Hayamwuruk, pada saat itu orang Sunda sudah berbaik hati.  Putri ini dibawa ke Majapahit tahu-tahu timbul pikiran nakal Gajahmada dengan ucapan “ojo didadekke permaisuri ning selir wae” (jangan dijadikan istri, tapi jadikan simpanan saja) sehingga pada waktu itu para elit Pasundan marah tidak terima sehingga terjadi pembunuhan, itulah contoh kalau Jawa dan  Pasundan tidak mirip. Lalu Jawa dengan Madura pada zaman penguasaan Sultan Agung menguasai Madura secara kultural bisa diterima namun secara politik terjadi pergolakan-pergolakan.

Contoh lain di Barat terjadinya sekuleraasi agama kita kenal Amerika sebenarnya kalau dibaca sejarah agamanya itu orang Protestan yang melarikan diri dari Eropa. Orang Protestan Inggris, Perancis semuanya melarikan diri dari Eropa. Bahkan pada saat itu mereka tidak senang dengan Katolik. Kemudian jadilah sekularisasi sehingga yang terjadi adalah otonomi manusia itu lebih penting daripada Teokrasi. Gambarannya adalah Tuhan memberikan kewenangan pada manusia dan manusia yang bertanggung jawab.

Konsep itu juga diambil oleh Cak Nur (Nurcholis Madjid) yang membicarakan sekularisasi, bukan hanya keterpisahan antara agama dan Negara tetapi lebih dari itu, Manusia diberi otonomi oleh Tuhan seolah-olah sekularisasi itu jalan bersama dengan Rasionalitas. Tapi yang terpenting adalah kebudayaan mendapat posisi yang tinggi.

Sekularisasi pada aslinya adalah “pengambilalihan” atau ketika kita mengambil bahasa Teokrasi adalah penyapihan manusia oleh Tuhan. Pada masa itulah kemudian manusia bisa terperosok, bahkan sering Tuhan itu dikembalikan kealam. Sekarang ini sering terjadi dialog antar umat beragama. Sekarang kita lihat alam karena Tuhan telah sendiko dengan alam.

Orang bisa membaca iqro maka alam menjadi guru. Kalau orang jawa berbicara “Gusti Allah ngendiko melalui alam tadi”. Agama manapun memiliki kearifan yang sama dalam hal itu. Di jawa sudah ada yakni Raden Mas Kartossasono menang tanpo ngasorake, ngluruk tanpa bala. Itu dimulai dari berpikir, diplomasi, Tapi ada satu hal yang penting. Otoritas manusia melalui kebudayaan menjadi muncul.

Menurut Cak Nur Islam hingga saat ini belum mengalami sekularisasi sepenuhnya, bahkan banyak tempat kita ingin kembali ke Teokrasi. Kalau dulu nabi menyebarkan Islam secara damai. Namun kita banyak melihat antara kultur dan agama banyak sekali yang kolagen atau bercampur baur. Dulu pernah terjadi benturan agama dan budaya di Ambon (1952) karena kitab suci Injil disana dipakai untuk cebok. Karena dikapal tidak ada air, yang ada kitab itu kemudian dipakai. Pada sisi nalar itu buku, tapi ketika itu disucikan itu perang. Jadi antara agama dan kebudayaan tampak lagi.  Itu yang jadi masalah.

Oleh sebab itu, sesuatu yang dianggap tak biasa setelah disakralkan atau disucikan dan diagung-agungkan akan memiliki makna dan arti yang luar biasa. Jika terjadi perpecahan, konflik maka harus ada pernyelesaian, jika konflik antara Barat dan Timur disitu harus ada titik temu antara Timur dengan Barat “Peace West-East Center” sudah saatnya orang timur memahami orang Barat atau sebaliknya perlu adanya studi crosscultural, dari multiculturalism menuju crosscultural kemudian transcultural tujuannya adalah akan melahirkan generasi muda indonesia yang berpikiran global (think global at local).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 17, 2012 in sosial budaya

 

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: