RSS

MULTIKULTURALISME : Dari Wacana Mengawal Consciousness Massa

16 Mei

Oleh: Hamam Burhanuddin

Budaya adalah sebuah sistem yang mempunyai bentuk-bentuk simbolis beruapa kata benda, laku, mite, sastra, lukisan, nyanyian, musik dan kepercayaan. Semua itu berkaitan erat dengan konsep-konsep epistemologis dari sistem pengetahuan masyarakat. Sistem simbol dari epistemologi juga tidak terpisahkan dari sistem sosial yang berupa stratifikasi, gaya hidup, sosialisasi agama, mobilitas sosial, organisasi kenegaraan dan seluruh perilaku sosial. Sistem budaya sebenarnya penuh dengan kompleksitas yang tidak mudah dipahami secara sekilas.

Ernest Cassirer, ahli antropologi, dalam bukunya “An Essay on Man”, secara jitu memaparkan bahwa dalam pengalaman perjalanan sejarah manusia kita sekali-kali tidak pernah menjumpai adanya harmoni diantara berbagai kegiatan budaya manusiawi. Bahkan sebaliknya, kita saksikan pertarungan terus menerus antara berbagai kekuatan yang saling bertentangan.

Tidak hanya sampai disitu demikian Cassireer, kesatuan dan harmoni budaya hampir dapat dikatakan merupakan pium desidarum keinginan yang kesaleh-salehan dengan sendirinya akan terbantah oleh kenyataan (Kuntowijoyo 1987: vii).

Krisis sosial budaya yang meluas dapat kita saksikan dalam berbagai modus disorientasi dan dislokasi dikalangan masyarakat kita. Misalnya saja, Pertama disintegrasi sosial-politik yang bersumber pada euphoria kekebasan yang nyaris kebablasan, Kedua: lenyapnya kesabaran sosial dalam menghadapi realitas kehidupan yang semakin sulit sehingga mudah mengamuk melakukan berbagai tindakan dan anarki. Ketiga, merosotnya penghargaan dan kepatuhan terhadap hukum, etika, moral dan Keempat, kesantunan sosial, semakin meluasnya penyebaran narkoba serta penyakit-penyakit sosial lainya, berlanjutnya konflik dan kekerasan yang bernuansa politis, etnis dan agama menjadi trend sekarang ini.

Krisis sosial-budaya dikalangan masyarakat kita semakin merebak dengan kian meningkatnya penetrasi dan ekspansi budaya Barat sebagai proses globalisasi yang tidak terbendung. Berbagai ekspresi sosial budaya yang sebenarnya “alien” (asing) tidak memiliki basis, dan preseden kulturalnya semakin menyebar dalam masyarakat kita sehingga memunculkan kecenderungan-kecenderungan “gaya-hidup” baru yang tidak selalu sesuai, positif dan kondusif bagi kehidupan sosial budaya masyarakat dan bangsa kita.

Meminjamg ungkapan Edward Said, gejala itu tidak lain adalah cultural imperialism baru, menggantikan imperialism klasik yang terkandung dalam orientalisme. Oleh sebab itu perlu dikaji secara mendalam tentang perkembangan sosial masyarakat kita sekarang ini yang semakin plural. Dengan memberikan penawaran yang konkrit dalam dunia pendidikan berupa pendidikan multikultural dalam masyarakat plural.

Multikulturalisme Bangsa

Secara etimologis, multikulturalisme dibentuk dari kata multi (banyak), kultur (budaya) dan isme (aliran/paham). Secara hakiki terkandung pengakuan akan martabat manusia yang hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaanya masing-masing yang unik. Dengan demikian, setiap individu merasa dihargai sekaligus merasa bertanggung jawab untuk hidup bersama komunitasnya.

Pendidikan multikultural merupakan sikap “peduli” dan mau mengerti (difference) atau “politics of recognition” pengakuan politik terhadap orang-orang dari kelompok minoritas yakni melihat masyarakat secara lebih luas. Berangkat dari pandangan dasar bahwa sikap “indifference” dan “non-recognition” tidak hanya berakar dari ketimpangan struktur rasial, tetapi paradigm pendidikan multikultural juga mencakup subjek-subjek mengenai ketidakadilan, kemiskinan, penindasan dan keterbelakangan kelompok-kelompok minoritas dalam berbagai bidang: sosial, budaya, ekonomi, pendidikan dan sebagainya.

Dalam konteks Indonesia yang sarat kemajemukan, maka pendidikan multikultural menjadi sangat strategis untuk mengelola kemajemukan secara kreatif. Sehingga konflik yang muncul seabgai dampak dari transformasi dan reformasi sosial dapat dikelola secara cerdas dan menjadi bagian dari pencerahan kehidupan bangsa ke depan.

Jika menengok sejarah Indonesia, maka realitas konflik sosial yang terjadi sering kali mengambil bentuk kekerasan sehingga mengancam persatuan dan eksistensi bangsa. Pengalaman peperangan antar kerajaan-kerajaan sebelum kemerdekaan telah membentuk fanatisme kesukuan yang kuat.

Sedangkan terjadinya konflik sosial setelah kemerdekaan, sering kali bertendensi politik dan ujungnya adalah keinginan suatu komunitas untuk melepaskan diri dari kesatuan wilayah Negara kesatuan.

Tanpa pendidikan multikultural maka konflik sosial yang destruktif akan terus menjadi suatu ancaman yang serius bagi keutuhan dan persatuan bangsa. paradigma seperti ini akan mendorong tumbuhnya kajian-kajian tentang “ethnic studies” untuk kemudian menemukan tempatnya dalam kurikulum pendidikan sejak dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Tujuan inti dari pembahasan tentang subjek ini adalah untuk mencapai pemberdayaan (empowerment) bagi kelompok-kelompok minoritas dan disadvantaged (merugikan).

Istilah “pendidikan multikultural” dapat digunakan baik pada tingkat deskriptif dan normatif, yang menggambarkan isu-isu dan masalah-masalah pendidikan yang berkaitan dengan masyarakat multikultural. Lebih jauh pendidikan multikultural juga mencakup pengertian tentang pertimbangan terhadap kebijakan-kebijakan dan strategi-strategi pendidikan dalam masyarakat multikultural. Maka kurikulum pendidikan multikultural mestilah mencakup subjek-subjek seperti: toleransi, tema-tema tentang perbedaan ethno-kultural dan agama; bahaya diskriminasi; penyelesaian konflik dan mediasi; HAM; demokratis dan pluralitas; kemanusiaan universal dan subjek-subjek lain yang relevan.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 16, 2012 in sosial budaya

 

Tag: , , , , ,

One response to “MULTIKULTURALISME : Dari Wacana Mengawal Consciousness Massa

  1. sufialmakassari

    Mei 19, 2012 at 3:06 pm

    Reblogged this on www. Budaya.com.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: