RSS

RADIKALISME DAN DOKTRIN AGAMA

15 Mei

Oleh: Hamam Burhanuddin

Masih teringat jelas beberapa kejadian kekerasan yang terjadi di negeri kita, beberapa bulan yang lalu, seperti kasus penyerangan warga masyarakat Solo oleh sekelompok orang tertentu, bahkan yang terakhir adalah pembubaran diskusi ilmiah Irsyad Manji di Jakarta, sungguh tragis bila kita membaca berita-berita tersebut.

Beberapa kejadian tersebut patut kita pertanyakan kembali, kita hidup di Negara pancasila, yang menjunjung tinggi nilai Bhineka Tunggal Ika, memiliki kebudayaan, suku dan agama yang berbeda-beda. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah layakkah kita disebut sebagai Negara pancasila yang mengakui kebebasan setiap warganya?

Kita semua tahu bahwa aksi kekerasan jauh lebih menakutkan, lebih mengerikan lagi adalah ideologi radikal yang diakui oleh sebagian kelompok tertentu terhadap suatu kebenaran yang obsolute bernama agama. Bahkan para pelaku teror tanpa segan-segan menyebut agama melegitimasi  tindakan kekerasan yang mereka lakukan.

Para pelaku memiliki ideologi tertentu yang bagi mereka berhak untuk diperjuangkan. Namun bukan hanya untuk dirinya atau kelompoknya melainkan untuk sesuatu yang diyakininya. Kesalahan atas pemahaman teks-teks agama yang kaku dan konservatif memang bukan hal yang baru lagi. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana gerakan radikalisme (pro kekerasan) berubah menjadi gerakan yang berorientasi pada semangat agama yang membebaskan dan berdasar pada nilai-nilai humanisme ini yang perlu kita perjuangkan.

Agama Islam yang mempunyai pemahaman rahmatan lil’alamin, harus dikembangkan dalam kehidupan bersama. Siapa pun orangnya harus dilihat dari unsur kemanusiaan tanpa peduli latarbelakang agama dan bangsanya. Jadi, pada tataran ini tak perlu diperdebatkan rujukan agama, karena ajaran agama manapun dalam relasi kemanusiaan, pasti memuliakan dan menghormati manusia.

Islam yang berarti damai (peace) dan selamat (salvated) harus mampu diaplikasikan ke dalam kehidupan beragama. Islam tidak mendorong umatnya untuk melakukan kekerasan di muka bumi. Memahami Islam secara legal-formal dan normative serta berada di awang-awang, takkan sesuai jika disandingkan dengan kehidupan dunia yang serba plural.

Pluralitas manusia dan perbedaan adalah nikmat dan bukan sesuatu yang bisa dianggap sebagai sebuah penghalang dan berbahaya. Perbedaan harus dilihat sebagai ujian untuk mempertebal keyakinan diri tanpa harus melanggar batas-batas yang ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Termasuk di dalamnya, baik menghakimi tersesat atau tidaknya seseorang, karena itu semua bukan berada di tangan manusia melainkan di tangan-Nya.

Dimensi kemanusiaan dari agama-agama menjadi terpenting untuk diupayakan dan disebarluaskan oleh umat beragama, agar gairah saling menghormati, toleransi, hidup damai, harmonis dan ramah menjadi bagian yang terpenting dalam kehidupan sosial beragama.

Disinilah tantangan dan tanggung jawab untuk menjadi makhluk yang sempurna diuji. Kita harus mampu hidup damai dan bekerjasama dengan pihak lain guna kepentingan bersama tanpa mengorbankan kebenaran agama.

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 15, 2012 in sosial budaya

 

Tag: , , ,

4 responses to “RADIKALISME DAN DOKTRIN AGAMA

  1. rohmansaputra

    Mei 16, 2012 at 4:43 am

    Reblogged this on ertry.

     
  2. AspirasiKu

    Mei 18, 2012 at 1:52 am

    Banyak sekali konfli yang mengatasnamakan agama sebagai sumber pemacunya. tapi apakah benar karena agama?, apakah agama lah yang kemudian menghimbau umatnya untuk saling membunuh dan bermusuhan?, tentu tidak. idealnya, agama mengajarkan kepada kebaikan. tapi dasar umatnya yang terlalu fanatis terhadap agamanyalah yang selalu menganggap bahwa agamanya yang paling benar. itu sah-sah saja, selama kita tidak mengumbar hal itu di muka umum. “agama saya paling benar”, kemudian akan menjadi konflik karena pemelik agama lain merasa tidak dihormati.

     
    • hamam burhanuddin

      Mei 18, 2012 at 2:51 am

      setiap agama pasti mengajarkan hal yang baik, seperti islam (kerahmatan) kristen (kasih sayang) budha (welas asih). yang menjadi persoalan sekarang adalah cara memahami agama itu yang kadang jadi problem. Para pelaku memiliki ideologi tertentu yang bagi mereka berhak untuk diperjuangkan. Namun bukan hanya untuk dirinya atau kelompoknya melainkan untuk sesuatu yang diyakininya. statemen yang baik berkaitan dengan cara pandang kita terhadap agama lain adalah “mengakui keyakinan yang mereka yakini tapi tidak meyakini keyakinan yang mereka yakini”. yang perlu digaris bawahi disini adalah “pengakuan”. orang bebas untuk meyakini sesuatu yang menjadi keyakinannya tapi kalau sudah ada unsur memaksa keyakinan orang lain maka akan menjadi problem, seperti yang anda katakan tadi merasa tidak dihormati. terima kasih telah mampir. salam hangat penuh toleransi.🙂

       
      • ahmad

        Oktober 6, 2012 at 5:21 am

        hanya orang yg kosong yang dapat diisi, tetapi yang sudah berisi tidak dapat berisi lagi. yang sudah berisi maksud saya,yang sudah kaya akan konsep-konsep agama yang dianutnya. sehingga kebenaran yang mungkin kedengaran asing baginya, tak dapat lagi mengubah pendapatnya/pendiriannya.
        kalau tidak ada kemelekatan ego dan kalau seseorang sudah secara pasti tau apa yg dipercayainya, maka dia tidak akan tersinggung lagi, sebab dia tau orang yg mengkritik atau mencela itu tidak tau apa-apa, malah dia kasihan melihat ketidaktahuan orang tersebut.

         

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: