RSS

Mistisisme Agama Vs Neo-Kapitalisme Modern (Upaya Menuju Pendidikan Toleran dan Membebaskan)

15 Mei

Oleh : Hamam Burhanuddin

“Para praktisi pendidikan yang ada, banyak yang tidak menyadari bahwa ia tengah terlibat dalam kancah pertikaian politik dan ideologi melalui “kawah candra dimuka” yang bernama pendidikan. Umumnya orang mengira pendidikan sebagai kegiatan yang mulia, mengandung kebijakan yang senantiasa berwatak netral. Sementara itu, ketika manusia terus belajar dari pengalaman para penyelenggara pendidikan (aliran kritis, konservative atau intelektualisme, aliran eksperimentalisme, behaviorisme dll) mereka mulai merasakan bahwa pendidikan dalam perjalanannya semakin dirasakan tidak terbebas dari pelbagai kepentingan sosial, politik dan ekonomi, dengan kata lain, pendidikan yang tidak bebas nilai. Satu kenyataan riil dan sekarang pun tengah menjerat pendidikan kita yaitu berkenaan dengan pendidikan yang dikomersisialisasikan. Entah dalam bentuk apa, yang pasti sistem ini dianggap kontroversi dengan fitrah pendidikan.”

***

Syekh Muslihuddin Sa’di sastrawan kelahiran Shiraz, Persia (1175 M), yang dikenal sebagai Sa’di dalam Bustan menuliskan: “jika namamu ingin abadi ajarlah anakmu pengetahuan dan kebijaksanaan, jika anakmu tidak memilikinya kau akan mati dengan tak dikenang dan juga tak seorangpun akan mengingat kembali namamu”. Ini berarti, ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan hasil dari pendidikan tentunya sangat berharga. Sehingga menurut Sa’di orang yang mengajarkan hal tersebut masih tetap dikenang meskipun telah tiada.

Ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan dalam Islam erat kaitannya dengan Islamic mysticism, sufistik. Sebab ilmu pengetahuan yang di dapat dari proses belajar harus diaktualisasikan, ditransformasikan dalam masyarakat luas dengan bentuk kebijaksanaan. Bijaksana inilah yang merupakan target dari pendidikan sufistik yang bahasa mudahnya dikenal dengan akhlak al-karimah.

Banyak catatan menulis tentang perkembangan mistisisme dalam Islam. Sejak zaman Rasulullah SAW hingga sederetan nama-nama tokoh terkenal sekaliber Ibnu ‘Arabi, Al-Farabi, Rabi’ah Al-Adawiyyyah hingga Al-Hallaj dengan teori hululnya. Dalam halaqah-halaqah yang kemudian dikenal sebagai tarekat. Muncul nama-nama semacam Syekh Abdul Qadir al Jailani, Syek Baha’uddin An-Naqsabandi, hingga Syekh Abbas Ahmad ibnu Al-Tijani pendiri tarekat Tijaniyah di Maroko.

Sufistik di Indonesia pun ada sejak zaman pra kolonialisme. Di Sumatra ada Hamzah al Fansyuri di jawa terkenal dengan Walisongo.

Penyakit Pemahaman

Pendidikan agama tidak lepas dari proses pemahaman keberagamaan. Dalam Islam ketika pemahaman agama di era modern mengalami pergerseran kearah formalismteologi dan fiqih oriented maka bentuk pengalaman keberagamaan pun bersifat syar’iyyah. Termasuk dalam hal pendidikan agama. Imbasnya terdapat pada penghilangan penghayatan terhadap nilai-nilai kebenaran agama dan ujung-ujungnya muncul yang namanya sekularisasi pendidikan. Di Indonesia hal ini muncul dibawa oleh imperium penjajah dengan kolonialismenya. Sehingga ada istilah-istilah pendidikan umum, pendidikan agama dan institusi-institusi sekolah.

Mestinya, di era post-modernisme ini sudah ada angin segar, ketika di beberapa tempat di seluruh penjuru dunia muncul gejala keberbalikan arah, efek dari titik kejenuhan modernitas, manusia mulai sadar dan mencari eksistensinya kembali sebagai manusia utuh, yang di era modern sempat terenggut oleh sistem the invisible hand dan tentunya mereka tidak bisa menolak.

Namun lagi-lagi khususnya pendidikan Islam dan pendidikan nasional umumnya harus gigit jari. Sebab, meski virus sekuler tersebut belum enyah secara tuntas muncul gejala penyakit baru dengan simbol neo-kapitalisme.

Awal komersialiasi

Kita masih ingat benar munculnya krisis moneter adalah titik awal penyakit komersil, setelah mengalami masa inkubasi yang tidak sebentar. Kemudian di tahun 1999 muncul Undang-Undang Nomor 25 tentang Otonomi Daerah disusul oleh otonomi pendidikan dengan ditetapkannya PP nomor 61 tahun 1999 tentang penetapan PTN sebagai BHMN (Badan Hukum Milik Negara) yang disebut terakhir adalah pintu masuk bagi otonomi kampus. Impliasinya, setiap lembaga pendidikan dibebaskan sebebas-bebasnya untuk menangani berbaagai kesibukan di wilayah kerjanya, termasuk dalam hal administrasi.

Ketika institusi pendidikan berubah fungsi, menjadi ajang bisnis secara legal dengan setumpuk proyek mau tidak mau akan mempermahal biaya pendidikan nasional. Di lain pihak, dengan kondisi ekonomi masyarakat  yang belum mapan, outuput atau hasil dari pendidikan saat inipun, masih jauh dari yang diharapkan bersama. Lebih mengerikan lagi ketika ini berkembang pada pemasungan kebebasan peserta didik.

Tawaran solusi

Ketimpangan semcam ini, tidak mungkin terselesaikan dengan mengubah pemikiran para tokoh pendidikan dari ranah kognitif. Apalagi hanya dengan mengeraskan otot. Sisi afektif dari psikomotor dari pendidikan seharusnya dikaji ulang sejauh mana peran, serta penerapannya. Disinilah mistisisme, kemudian sedikit banyak membantu pengaktualisasian dari sisi afektif dan psikomotornya ketika manusia menemukan eksistensi dirinya dan mampu memahami serta menghayati terhadap realitas sebuah nilai.

Seroang kyai dan pendakwah pernah mengatakan di era globalisasi manusia tidak butuh lagi mauidhah hasanah petuah yang baik melainkan uswatun hasanah contoh yang baik. Berangkat dari sini, maka sudah tidak saatnya lagi menawarkan berbagai model pendidikan dengan teori-teori rumitnya. Sudah saatnya merefleksikan kondisi riil pendidikan yang ada pada saat ini sebagai autokritik terhadap diri, yang kemudian akan membawa kebaikan di masa yang akan datang.

Harapan utama pada pendidikan Islam yang menggeser orientasi ke mistisisme atau sufistik ini, setidaknya turut membendung krisis eksistensi manusia akibat sekulerisasi, neo-kapitalisme yang mengacungkan jarinya berupa komersialisasi pendidikan. Terlebih ketika mampu menggeser pemahaman keberagamaan, sehingga agama hanya sebagai formalitas belaka.

Menilik moral bangsa yang dihantam berbagai krisis ini, maka, pendidkan bagi orang dewasa yang tidak dimaknai hanya sebagai program melek huruf sangat urgen keberadaannya. Pendidikan ini mestilah pendidikan yang mampu mengubah pemahaman manusia, guna mengembalikan jati diri atau eksistensinya yakni upaya menuju pendidikan penyadaran (awareness), toleransi dan pembebasan bagi masyarakat agar kita terbebas dari neo-kapitalisme modern. Semoga

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 15, 2012 in Opini

 

Tag: , , , ,

2 responses to “Mistisisme Agama Vs Neo-Kapitalisme Modern (Upaya Menuju Pendidikan Toleran dan Membebaskan)

  1. jaturampe

    Mei 17, 2012 at 5:20 am

    Wuih, ini dia blog yang kereeen…(menurut Sa’di orang yang mengajarkan hal tersebut masih tetap dikenang meskipun telah tiada) apiik mas….

     
    • hamam burhanuddin

      Mei 18, 2012 at 2:33 pm

      begitulah, seperti kata bijak, “Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meniggalkan nama” salam hangat🙂

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: