RSS

Perempuan Dalam Ideologi Postmodernisme

06 Mei

Berbicara perempuan dalam ranah postmodenisme ada semacam efek yang saling menguntungkan (secara ekonomi produksi) ketika kapitalisme sebagai sistem ekonomi yang menjadikan suatu objek termasuk perempuan dengan segala potensi dan komoditasnya di eklporasi secara ekstrim dan besar-besaran demi meraih keuntungan maksimal. Yang mana disandingkan dengan postmodernisme sebagai sebuah pemikiran budaya yang memandang bahwa segala prinsip, konsep, word view (pandangan dunia) makna dan nilai-nilai dikembangkan sampai diluar melampui batas-batas norma, etika, budaya, adat dan agama (Y.A Pilling, 2004). Maka benar ketika tubuh khususnya perempuan dengan segala potensi libidonya dikembangkan menjadi objek komoditas dan titik sentral produksi ekonomi. Disinilah eklpoitasi dan eksplorasi secara ekstrim dan  besar-besaran akan terjadi demi mencapai keuntungan maksimal.

Yasraf Amir Pilliang (2004) memandang bahwa didalam sistem  budaya kapitalisme, tubuh/body, dengan berbagai potensi tanda, citra, simulasi dan artificenya menjadi elemen yang sentral dalam ekonomi politik, disebabkan tubuh perempuan (estetika, gairah, sensualitas, hasra dan erotisisme) merupakan raison d’etre dalam setiap roduksi komoditi. Tubuh itu sendiri menjadi komoditi sekaligus menjadi metakmoditi yakni komoditi yang digunakan untuk menjual (mengkomunikasikan) komoditi-komoditi lainnya, (model, hostest, sales-girl, cheer leader peepshow) lewat potensi fisik tanda dan libidonya.

Tubuh (khususnya perempuan) didalam budaya kapitalisme terdapat tiga kapasitas wilayah yang dapat dijadikan media ekspoltasi dan eksplorasi yakni pertama use value atau nilai guna seperti pekerja, prostitusi, pelayan dll. Kedua tukar (exchange value) yang dapat dicontohkan dalam kapasitas perempuan sebagai gadis model, gadis peraga maupun hostess, ketiga nilai tanda/ sign value (erotic magazine, erotic art, erotic video, erotic photography, erotic film, erotic VCD, majalah dan cyber porn) titik sentral dari kesemuanya adalah terdapatnya sistem ekonomi politik hasrat yang menempatkan dan memanfaatkan potensi libido menjadi sebuah ajang ekploitasi ekonomi, bagaimana ia disalurkan, digairahkan, dikendalikan, atau dijinakkan di dalam berbagai bentuk relasi sosial yang menyertai produksi komoditi. Persoalan ekonomi politik hasarat menjelaskan bagaimana tubuh dan citra tubuh perempuan merupakan sebuah strategi didalam politik eksplorasi dan sekaligus represi hasrat perempuan di dalam sebuah relasi psikis yang dibentuk kapitalisme.

Berangkat dari hal tersebut maka tidak salah apa yang dikatakan Jeans Francois Lyotard dalam postmodernime yang telah mengnalkan istilah libidonomics atau sistem ekonomi libido sebagai sebuah sistem ekonomi yang didadalmnya terdapat ekploitasi dan ekplorasi secara ekstrim segala potensi libido sebagai komoditas dalam rangka memperoleh keuntungan maksimal.

Apa yang dikatakan di awal bahwa postmodernime juga mempunyai peran dalam proses ekploitasi dan ekplorasi terkait dengan eksistensi tubuh (khususnya perempuan) Madam Sarup dalam bukunya yang berjudul “Poststruturalism and postmodernism” mengatakan bahwa  postmodernisme adalah nama gerakan didalam kebudayaan kapitalis lebih lanjut secara khusus dalam seni. Dan yang oleh Jeans-Francois Lyotard dalam karya terkenalnya “The Postmodern Conditio”, mengasosiasikan aspek sentral post-modernisme adalah penghapusan batas antara seni dan kehidupan sehari-hari, ambruknya pembedaan hirarkhies antara kebudayaan popular dan kebudayaan elit dan pencampuran kode. Kaum postmodernime mendukung sesuatu yang tidak mengedepankan kedalaman melainkan permukaan, terdapat parody, ironi, dan semangat bermain-main, tidak menenkankan isi melainkan bentuk dan gaya transformasi realitas menjadi citra, sementara postmodernisme oleh Therry Eagleton (1996) diartikan sebagai gaya kebudayaan yang merefleksikan sesuatu dalam perubahan jaman ke dalam suatu seni yang diwarnai oleh ketakmendalaman, ketakterpusatan, ketaberdasaran seni yang self-reflexive, penuh permainan, ekletik, serta pluralistic, seni semacam ini mangaburkan batas antara budaya tinggi dan budaya pop antara seni dan hidup harian.

Postmodernisme

Perkembangan postmodernisme sebagai sebuah pergerakan sosial budaya yang telah membuka cakrawala dan dimensi baru dalam perbincangan mengenai kebudayaan, khususnya pornografi dan media. Berbagai nilai-nilai yang dibawa olehnya telah membuka ruang yang selebar-lebarnya bagi perkembangan produksi berbagai bentuk hasrat lewat pornografi.

Ada dua kecenderungan pemikiran dalam postmodernisme pertama, posmodernisme rekonstruktif adalah kecendrungan pemikiran yang lebih menekankan pada aspek penghargaan positif atas keanekaragaman, dialog, heterogitas dan pluralitas dalam segala hal. Kedua, postmodernisme dekonstruktif, yang lebih menekankan penentangan akan segala bentuk dan otoritas, pengekangan dan pembatasan baik diwilayah hukum, aturan, norma dan sekalipun agama demi untuk mendapatkan kebebasan dalam berekpresi dan pembebasan hasrat secara total. Dan kecendrungan pemikiran inilah yang berperan secara signifikan dalam menciptakan ruang pembebasan tubuh dan hasrat, yang telah merubah secara mendasar berbagai logika yang membentuk kehidupan sosial budaya.

Para pemikir dan tokoh postmodernimse dekontruktif berusaha menawarkan dan mengembangkan wacana pembebasan tubuh dan hasrat dalam rangka mendobrak berbagai benteng, tapal batas dan tembok yang selama ini membatasi ruang dalam pelepasan hasrat, menghancurkan berbagai bentuk power kekuasaan (baik kekuasaan keluarga, agama dan Negara), mencerai beraikan otoritas dan hegemoni yang selama ini membatasi ekploitasi tubuh dengan berbagai potensi dan peluang eklporasinya (Y.A Pilliang: 2004).

Ketika tubuh telah bebas dari kekangan aturan, represi, pembatasan dari berbagai kode, konvensi atau aturan yang terbentuk melalui kesepakatan budaya, hukum dan agama maka yang tercipta adalah tubuh yang bersifat material, immanent dan sekuler sebagaimana sifat libidonomi kapitalisme yang telah dijelaskan di awal. Tubuh yang tanpa kendali otoritas kekuasaan (keluarga, norma agama dan Negara) dan hanya dikendalikan oleh prinsip kapitalis, maka terbukalah ruang lebar bagi terciptanya budaya ketelanjangan (transparansi) sebuah budaya tubuh tanpa rahasia (obsence) tanap tabir (expose) dan dapat dieksplorasi segala potensi libidonya untuk kepentingan pengembangan kapital. Batas-batas antara ruang publik dan ruang privat yang selama ini membatasi penggunaan tubuh kini telah didekonsturksi, segala sesuatu yang selama ini dianggap sebagai wilayah privasi (aurat, kemaluan, organ tubuh, seks) kini dipertontonkan sebagai wilayah publik dan menjadi milik publik.

Berangkat dari sinilah maka yang terjadi dan tercipta sekarang adalah budaya ketelanjangan (obscene culture) yang memandang bahwa batas mengenai boleh-tidak boleh ditampilkan, dipertontonkan, dipasarkan, dijual kini juga telah didekonstruksi didalam wacana tubuh masyarakat cabul, serta tidak bisa dipungkiri bahwa krisis multidimensi (dinegara kita) telah dilengkapi dengan krisis baru yakni “Krisis Etika Tubuh”, dimana batas moral, batasan sosial dan batasan spiritual (agama) ditanggalkan, tubuh kini tidak lagi memerlukan nilai-nilai subjektifitas, privasi, rasa malu, rahasia, rasa risih atau (sekalipun) rasa salah dan berdosa.

Masih ingat kasus pornografi yang menjerat salah satu anggota DPR yang santer diperbincangkan di media massa maupun elektronik, bisa jadi itu bagian dari wacana krisis etika tubuh dalam budaya postmodernism dimana sesuatu yang seharusnya menjadi konsumsi private menjadi konsumsi publik. dimana perempuan selalu menjadi objek pelampiasan publik dan dianggap perusak norma.

Dimensi-dimensi tersebut (rasa malu/shame, rasa berdosa/ sinfulsecret/rahasia dan spiritualitas) yang seharusnya dijaga kini telah hilang dan didekontruksi serta digantikan dengan dimensi ketelanjangan, ketidakacuhan, sekularitas, materialitas yang kesemuanya berakar dari nilai-nilai yang dibawa oleh wacana postmodernisme yang justru semakin melenggang, berkembang dan tumbuh subur seraya mengiringi agenda-agenda kapitalisme yang semakin licik dan picik.

Apa yang dikatakan oleh CY Marselina Lope (2005) didalam bukunya “Jerat Kapitalisme atas Perempuan” hampir mendekati kebenaran bahwa ternyata kapitalisme mirip pisau bermata dua di satu sisi ia menyerang keberadaan sistem partriarki (yang notabene mengagungkan laki-laki) akan tetapi ia memperkuat dominasi laki-laki. Kapitalisme menyerang patriarkhi baik dalam tataran ekonomi maupun idelogi, namun tidak dengan sendirinya mengangkat derajat kaum perempuan. Kapitalisme justru menjerat kaum perempuan didalam paradox-paradoks, baik sebagai makhluk individu, sosial, ekonomi, budaya maupun politik.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 6, 2012 in sosial budaya

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: