RSS

HARDIKNAS: Menuju Pendidikan Antisipatoris dan Prepatoris

02 Mei

Hari Pendidikan Nasional selalu diperingati tiap tanggal 2 Mei, ini merupakan momen terpenting untuk melihat kembali sejauh mana perkembangan pendidikan di Indonesia, peringatan yang rutin dilaksanakan tiap tanggal 2 Mei ini seharusnya dijadikan momentum untuk berbenah sekaligus memperbaiki kualitas pendidikan yang jauh dari harapan ideal.

Bila melihat perkembangan pendidikan di Indonesia masih banyak beberapa persoalan yang harus diselesaikan, mulai dari pendidikan karakter, memperbaiki kualitas guru dan menciptakan pendidikan yang murah bagi rakyat.

Banyak cara dapat dilakukan untuk membangun pendidikan yang berkualitas yang memihak pada peningkatan kualitas di Negara ini; namun keseluruhan cara itu umumnya berawal dari komitmen para penentu pendidikan itu sendiri, yang dalam hal ini antara lain ialah menteri pendidikan dan para pengambil kebijakan Negara

Mereka semua harus memiliki komitmen yang memadai sehingga dapat bersikap “sadar didik” (sense of education). Artinya, menyadari pentingnya pendidikan untuk membangun manusia dan bangsanya. Tanpa pendidikan (yang baik) tidaklah mungkin suatu bangsa dapat berkembang secara konstruktif dinamis

sadar akan nasib bangsa sepuluh, dua puluh, dan tiga puluh tahun lagi sangat ditentukan bagaimana kita mengelola pendidikan hari ini. Hal itu berarti, kalau kita membuat kekeliruan dalam mengelola pendidikan di hari ini maka akibatnya akan dirasakan di masa yang akan datang

Persoalan seputar inkonsistensi aturan pemerintah tentang otonomi guru dalam proses pendidikan, perbaikan kurikulum tanpa menyertakan proses praformasi yang menyiapkan secara matang tenaga pendidik, dan sebagainya, harus menjadi kinerja utama

Karena tugas guru ialah mendidik secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan dan pembelajaran yang mandiri

Dengan otonomi guru tidak lagi terkungkung dalam dunianya, melainkan memiliki ruang gerak yang lebih leluasa dan signifikan, karena pendidikan itu bersifat antisipatoris dan prepatoris, yaitu pendidikan yang mempersiapkan generasi terdidik yang berkualitas di masa mendatang

Berhadapan dengan perubahan kurikulum, guru seharusnya dijadikan rekan dialog, mulai dari sisi teknis pelaksanaan, serta visi antropologi-filosofis yang memberi visi fundamental pendidikan nasional kita.

Komitmen dan kesadaran seperti itulah yang harus kita tumbuhkembangkan secara bersama untuk membangun politik pendidikan yang solid dan menjanjikan. Tanpa adanya politik pendidikan yang solid kita tidak akan mampu menjadi bangsa yang besar

Adanya komitmen untuk meningkatkan kualitas guru bisa dijadikan sebagai momentum pembangkit kembali idealisme guru dalam membangun peradaban bangsa Indonesia. Sehingga, masa depan Indonesia bisa lebih maju, berkualitas, berbudaya, cerdas, dan dapat bersaing dalam percaturan dunia.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 2, 2012 in Opini

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: