RSS

Menimbang Kiprah Kartini Masa Kini

21 Apr

Kartini itulah salah salah satu pejuang perempuan masa lalu, kalau kita membaca buku biografinya, sosok wanita pejuang di era masanya ini menjadi pahlawan bagi para kaumnya.

Kartini merupakan bagian dari lembaran sejarah yang patut untuk di kenang dan dikagumi, menjadi sosok yang sangat inspiratif bagi wanita modern sekarang ini.

Perjuangan Kartini pada zaman lalu tidak boleh dipandang enteng (ringan), perjuangan untuk mendapatkan hak yang sama di mata lelaki serta menggulingkan budaya patriarkhi pada masanya menjadi hal yang sulit dilakukan pada masa itu,

kalau kita melihat pada zaman kartini, ketika mendenger kata “perempuan” pasti yang akan muncul dalam benak pikiran kita adalah persoalan ketidakadilan gender, ketimpangan baik sektor pendidikan, sosial-kultural, patriarkhimisoginis dan sebagainya, maka pantaslah perempuan zaman dahulu sering mendapat julukan secondary human after man yakni manusia yang menduduki posisi kedua setelah laki-laki.

Dan inilah yang membuat Kartini sangat geram tidak terima kalau kaumnya dikategorikan terbelakang, sehingga pantas kalau dia berusaha memperjuangkan perempuan supaya mendapat hak yang sama dengan laki-laki.

Kultur perempuan masa lalu

Peran perempuan pada masa lalu, konon diyakini hanya sebatas lingkup dapur (memasak), sumur (mencuci), dan kasur (melayani suami).

Bahkan, ada ungkapan yang menyatakan peran kaum perempuan seperti adagium: yen awan dadi theklek, yen bengi dadi lemek (kalau siang jadi sandal, kalau malam jadi selimut).

Artinya, jika siang hari berperan sebagai pembantu, sedangkan pada malam hari sebagai “penghangat” tubuh suami. (adagium ini untuk menggambarkan betapa “suram”-nya dunia kaum perempuan masa lalu).

Dengan kata lain, peran kaum perempuan tak lebih sekadar kanca wingking yang harus manut, taat, sendika dhawuh, dan rela diperlakukan sesuai kehendak suami; tanpa argumentasi.

Dalam serat centhini (Suluk Tambangraras yang ditulis pada tahun 1809 atas kehendak Susuhunan Paku Buwana V), digambarkan tentang hal-hal yang kontroversial, seperti ajaran Islam sebagaimana yang dipahami oleh kaum santri, ajaran mistis kejawen, puisi tentang kebijakan moral.

Dalam Serat Centhini juga digambarkan bahwa sosok perempuan (istri) ideal ibarat lima jari tangan. Ibarat jempol, istri harus pol mengabdi kepada suami. Ibarat telunjuk, istri harus menuruti segala perintah suami.

Ibarat panunggul (jari tengah), istri harus mengunggulkan suami bagaimanapun keadaannya. Ibarat jari manis, istri harus selalu bersikap manis. Ibarat jejenthik, istri harus selalu hati-hati, teliti, rajin, dan terampil melayani suami.

Itulah beberapa gambaran perempuan dimasa lalu yang terlihat suram dan menyedihkan. Maka, tidak salah bila kita menamakan kondisi perempuan pada masa lalu sebagai era buram, karena perempuan dijadikan objek, sasaran dan bahkan pelampiasan sahwat para lelaki.

Perempuan Masa Kini

Mirisnya nasib perempuan pada masa lalu seharusnya bisa dijadikan pelajaran penting bagi perempuan era modern sekarang ini, sudah seharusnya lah perempuan pada masa sekarang ini tidak lupa pada sejarah perjuangan Kartini

Meskipun sudah bebas dari belenggu patriarkhi dan sudah mulai mendapat haknya baik dalam pendidikan, sosial dan budaya tapi tidak menutup kemungkinan masih ada sebagian perempuan yang belum mendapatkan haknya

Persoalan kekerasan, trafficking, pelecehan seksual dominasi laki-laki atas perempuan masih akan kita temui pada era masa kini, pada sektor kehidupan perempuan kadang masih harus menanggung beban kerja ganda (double burden)

Satu sisi mereka harus berperan aktif di sektor domestik disisi lain sektor publik juga menjadi tuntutan mereka, pemerataan terhadap pendidikan, akses yang sama pada sektor publik masih menjadi tuntutan yang belum maksimal terpenuhi bagi perempuan pada era masa kini.

Hasilnya bisa kita lihat bahwa perjuangan perempuan untuk hidup equal (sama) dengan laki-laki masih jauh dari harapan yang di idam-idamkan.

Maka pantaslah posisi perempuan dalam kajian era modern sekarang ini menjadi sorotan dari berbagai kalangan, baik akademisi maupun masyarakat dalam berbagai persepsi  dan respon yang berbeda.

Khususnya perempuan modern, perempuan itu sosok universal yang selalu menarik diperbincangkan kapan dan di mana pun. Lebih-lebih setelah banyak kaum perempuan yang terjun ke sektor publik.

Muncul opini, perempuan sekarang ini berupaya melakukan pembebasan “mitos” kaum hawa yang bertahun-tahun lamanya merasa terpenjara akibat kultur patriarkhi yang demikian kuat mengakar di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Dalam buku “Door Duisternis tot Licht” tersirat bhwa R.A Kartini menjadi inspirasi bagi gerakan emansipasi perempuan dari segala penindasan terutama hegemoni budaya yang cenderung patriarkhi.

Seiring dengan perkembangan peradaban yang terus bergerak pada ranah global dan mondial, peran kaum perempuan semacam itu agaknya sudah jauh mengalami pergeseran.

Asumsi ini diperkuat dengan gencarnya perjuangan kaum perempuan dalam upaya melakukan pembebasan “mitos” lama yang selama ini dinilai telah amat merugikan jagat kaum perempuan.

Bahkan, perempuan modern saat ini sudah banyak yang mulai mendidik anak-anaknya dengan norma androgini, yakni norma lelaki dan perempuan yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan hal-hal lain pada dirinya, tanpa dibatasi stereotipe peran yang berlaku.

Melalui norma ini, anak laki-laki bisa mengekspresikan kelembutan dan anak perempuan bisa mengekspresikan keberanian.

Agaknya, pandangan feodalistik yang cenderung memosisikan kaum perempuan di bawah subordinasi kaum lelaki semakin terkikis. Sudah bukan zamannya lagi seorang istri hanya hanya menunggu kepulangan sang suami sekadar ingin melolos sepatu atau dasi yang diyakini sebagai simbol kesetiaan.

Memang harus diakui, pandangan feodalistik semacam itu tidak selamanya negatif. Setidaknya, nilai etika, kesetiaan, kelembutan, dan keharmonisan merupakan nilai positif yang terpancar dari sosok perempuan sebagaimana tergambar dalam Serat Centhini.

Dalam konteks demikian, perempuan modern, seringkali dihadapkan pada situasi dilematis, antara mengikuti arus modernisasi dengan segenap dinamikanya; atau tetap menjadi sosok perempuan yang sarat sentuhan nilai tradisi; lembut, serba mengalah, sendika dhawuh, dan pasrah.

Meminjam istilah Emile Durkheim, kaum perempuan, sedang berada dalam kondisi anomie; masih menaruh rasa hormat yang tinggi terhadap budaya, tetapi gaya hidupnya sudah universal dan modern.

Tampaknya, kaum perempuan memang harus mencermati secara serius terhadap kondisi anomie yang mau atau tidak, mesti dilaluinya.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana mewujudkan sosok perempuan yang tidak kehilangan identitasnya atau jatidiri di tengah-tengah kuatnya arus transformasi budaya di era modern?

Pertanyaan semacam itulah yang butuh jawaban serius. Artinya, di tengah fenomena pergeseran peran dari mono-peran ke dwi-peran, kaum perempuan modern tidak mengalami “keterkejutan” budaya yang justru akan makin menjauhkan figur perempuan modern dari sentuhan nilai ideal secara normatif sebagai kunci sukses hidup berumah tangga.

Mitos kanca wingking memang harus dibebaskan. Kaum perempuan dituntut untuk bisa tampil mandiri, dinamis, kreatif, penuh inisiatif, dan profesional dalam mengambil perannya di sektor publik.

Meski demikian, bukan berarti harus meninggalkan “naluri” keibuan yang penuh sentuhan perhatian dan kasih sayang terhadap anak dan suami, lembut, hormat, etis, dan bermartabat tinggi.

Tetapi lebih menunjukkan kiprah perempuan yang bisa memberikan partisipasi dan ikut andil dalam pembangunan di sektor publik, maka tidak zamannya lagi sekarang perempuan selalu berada dibawah subordinasi laki-laki, tapi bagaimana perannya dalam peningkatan kompetensi SDM serta kompetisi yang sehat bersama laki-laki sebagai wujud dari kontribusinya di ranah publik.

Ikut berpartisipasinya perempuan untuk berperan dikalangan publik harus dihargai, karena mereka juga memiliki hak yang sama untuk memperoleh kedudukan akses dan pemerataan yang sama dimata publik, yang masih perlu dipikirkan ialah kapabilitas dan kemampuan yang mereka miliki

semua perempuan bisa berpartisipasi di ranah publik, dalam kacamata sosial tidak ada pembatasan yang membelenggu, era modern sekarang ini harus dijadikan lahan pembebasan sepenuhnya atau menjadi lahan yang sebebas-bebasnya bagi pergerakan perempuan tetapi jangan lupa adanya keterikatan aturan serta norma sosial serta hak dan kewajibannya sebagai seorang perempuan

kebebasan yang diharapkan dari adanya perjuangan perempuan era sekarang ini adalah pengakuan yang sama dimata laki-laki bahwa mereka mampu, mereka bisa dan mereka tidak bisa dipandang sebelah mata.

Kartini masa kini adalah sosok kartini yang bisa memberikan inspirasi bagi lingkungan sekitarnya, bertanggung jawab, berdikari tinggi untuk selalu berusaha mewujudkan persamaan hak perempuan baik di sektor publik maupun sektor domestik.

Kartini sekarang ini sudah sangat jauh berbeda dengan kartini pada masa lalu, yang menjadikannya selalu eksis hingga saat ini adalah perjuangan yang selalu ada untuk bisa meraih cita dan asa dalam kehidupan yang lebih egaliter.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 21, 2012 in sosial budaya

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: