RSS

Formulasi Agama Dalam Bingkai Toleransi

16 Apr

“Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan Buddha, bukan Protestan, bukan Westernis. Aku bukan Komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia.” (catatan Ahmad Wahib 9 oktober 1969).

Agama adalah realitas terdekat dan sekaligus misteri terjauh. Begitu dekatnya sehingga senantiasa hadir dalam kehidupan kita sehari-hari. Di rumah, kantor, sekolah, media, pasar dan dimana saja. Begitu misterius, ia menampakkan wajah-wajah yang sering berlawanan memotivasi kekerasan tanpa batas atau pengabdian tanpa batas. Mengilhami pencarian ilmu tertinggi atau menyuburkan takhayul dan supertisi, mengatakan gerakan masa paling kolosal atau menyingkap misteri rohani paling personal, menebarkan perang paling keji atau menebarkan kedamaian paling hakiki (Jamaluddin Rahmat: 2003).

Sekarang agama macam apakah yang akan dibicarakan pada esai ini, ketika agama menimbulkan makna yang berbeda-beda pada setiap orang, agama dalam bingkai toleransi. Bagi sebagian orang, agama adalah kegiatan ritual, seperti shalat, haji atau kebaktian dan misa  di gereja. Bagi sebagian lainnya agama adalah berkihdmat kepada sesama manusia. Baik bagi kelompok tertentu, agama adalah berlatih dengan masuk kekuburan atau meninggalkan dunia sebelum meninggal dunia.

Agama hadir dalam  penampakan yang bermacam-macam, sejak sekedar ajaran akhlak hingga ideologi gerakan. Sejak perjalanan spiritual yang sangat individual hingga tindakan kekerasan yang misal, sejak ritus-ritus khidmat yang menyejukkan hingga ceramah-ceramah demagog (menghasud) yang menyesatkan. Ini adalah realitas,sebuah gambaran akan sesuatu yang dinamakan “agama”.

Etnosentrisme Agama

Agama selalu diterima dan dialami secara subjektif. Karena itu, orang yang sering mendefinisikan agama sesuai dengan pengalaman dan penghayatannya terhadap agama yang dianut. Mukti Ali, Mantan Manteri Agama RI menulis agama adalah percaya akan adanya Tuhan Yang Maha Esa dan hukum-hukum yang diwahyukan kepada kepercayaan utusan-utusan-Nya, untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akherat. (Muhtar : 2000). Jelas sekali, Mukti tidak berbicara agama dalam arti umum. Dia sedang mendefinisikan agama seperti yang dilihanya dalam agama islam.

Ketika mengambil contoh Negara-negara besar saja, ternyata tidak semua agama meyakini adanya Tuhan. Adapun James Martineau, mendefinisikan agama adalah sebagai berikut : Agama adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak illahi yang mengatur dan alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia (Jalaluddin Rahmat: 2003). Dengan definisi ni Budhisme Hinayana dan Konfusianisme juga harus kita keluarkan dari kelompok agama. Sebab dalam agama-agama ini, kepercayaan kepada Tuhan yang personal tidak berperan sama sekali.

Akhirnya agar semua agama masuk, para ilmuan agama mengganti kata Tuhan dengan “Kuasa yang transenden”. Kuasa-kuasa diatas manusia, sesuatu diluar (a beyond) realitas mutlak. Pembahasan tentang Tuhan dan konsep-konsep yang lain yang sejenis itu lazimnya disebut teologi. Malangnya tidak semua agama membahas atau sekedar punya teologi. Seperti dalam agama Sinto. Pengikutnya tidak mau membicarakan Tuhan atau apa saja namanya. Karena semua bentuk Tuhan tidak dapat digambarkan, tidak dapat diceritakan tidak dapat diuraikan, mereka menolak membahas agama namun mereka hanya inign mengamalkan agama tersebut.

Baiklah, ketika Tuhan atau apa saja namanya tidak dapat dibicarakan banyak ilmuan mencoba agama secara fenomenologis, salah seorang diantara mereka adalah Friedrich Scheirmacher menegaskan bahwa agama tidak dapat dilacak dari pengetahuan rasional (seperti yang dilakukan kaum Deis) juga tidak dari tindakan moral (seperti pandangan Imanuel Kant). Agama berasal dari perasaan kebergantungan mutlak kepada yang tak terhingga (feeling of absolute dependence). Rudolf Otto menyebutkan agama sebagai pengalaman pertemuan dengan The Holy Other yang menimbulkan rasa ngeri dan cinta, sebuah pengalaman mistis yang menakutkan sekaligus mempesona.

Mircea Eliade melanjutkan konsep Otto itu dengan konsep yang sakral (the sacred) menurut Eliade, pada setiap kebudayaan selalu dikenal adanya “sense of the sacred” dalam ritus dan simbol, inilah esensi agama (Encyclopedia of Religion” 1995)/

Walhasil, ide Tuhan sekarang digantikan dengan sakral. Semua agama pasti menetapkan mana yang sakral, mana yang profane. Apakah dengan begitu kita telah merumuskan definisi agama secara objektif? Belum, karena masih menurut The Encyclopedia of Religion pendikotomian yang sakral dari yang profan jelas mewakili pandangan etnosentris Barat dan berdasarkan latar belakang agama-agama samawi.

Pemikiran sarjana Barat sekalipun tidak bisa terlepas dari jebakan bahasa agama, yang juga dikotomis. Kata holy misalnya, berasal dari old English, hal yang berarti keseluruhan, kesempurnaan, kesejahteraan sedangkan unholy berarti terpecah, tidak sempurna atau cacat. Kesakralan (sacredness) berarti kualitas yang terpisah dari yang biasa. Lawan sakral adalah profan berasal dari bahasa latin “profonus”, secara harfiah berarti terlepas dari agama, atau tidak ada hubungan dengan agama (Kamus Ilmiah Populer: 1994).

Atau juga di dalam hal tempat ibadah (Jalaluddin rahmat: 2003). Setiap rumah ibadah masjid, gereja, sinagog adalah tempat yang dipisahkan dari tempat lainnya, karena dikhususkan untuk menjaga yang sakral. Sekuler berarti diluar yang sakral. Pemisahan ini kemudian dilembagakan. Ritus sakral termasuk karamen. Kitab suci, kalimat suci, hari suci, hingga kelompok keagamaan yang sakral seperti ordo dalam Kristen atau tarekat dalam Islam.

Timbul banyak kesulitan secara praktis dan konseptual, ketika kita berusaha menerapkan pola dikotomi ini pada semua kebudayaan. Pada masyarakat primitif misalnya, apa yang dianggap barat sebagai agama adalah bagian integral dari keseluruhan cara hidup yang tidak pernah dialami. Atau dianggap terpisah, atau secara sempit dibedakan dari pola lainnya. Sehingga jika dikotomi tersebut diterapkan pada entitas berwajah banyak seperti Hinduisme nampaknya hampir semua dapat dan memang sedang diberikan makna religius oleh sekte tertentu. Dalam arti sebenarnya, semua hal yang bersifat illahi eksistensi “per se” tampak bersifat sakral. Yang mutlak secara nyata menampakkan dirinya dalam berbagai cara. Dalam hal yang istimewa atau biasa pada Tuhan dan syaitan pada orang suci dan pendosa, yang secara nyata dipahami pada berbagai tingkatan sesuci dengan kapasitas individu.

Kesulitan yang sama muncul dalam bentuk yang lain, ketika kita membahas budaya Tao Konghucu dan Sinto. Budaya-budaya ini ditandai dengan apa yang disebut oleh JJ. M De Groor yang dikutip oleh Jalaluddin Rahmat sebagai “universisme” (kesucian, kebaikan, dan kesempurnaan tata alam) yang telah disalahpahami, diistrosi dan dipalsukan oleh pikiran sempit dan adat budaya yang keliru.

Kehidupan religius disini berhubungan dengan harmonis dengan tatanan alam dan manusia individu ditenggelamkan dalam hubungan organis dan di dalam kesatuan dengan mereka yang dialami secara batiniah. Budhisme dalam segala bentuknya menolak eksistensi khalik yang transeden dan memilih untuk menerima sumber atau dimensi absolute non personal dan tidak terdefinikan yang dapat dialami pada kedalaman pengalaman batiniah manusia. Karena banyak ilmuan berasal dari latar belakang barat (baca: Agama Samawi). Definisi-definisi yang yang dikemukakan tidak bisa lepas dari bias sakral dan profane ini. Atau kita terjebak pada etnosentrime dalam mendefinisikan agama. Kita sulit melepaskan diri dari kerangka acuan agama yang telah kita kenal. Oleh karena itu, kita seharusnya toleran, bersifat profesional dan lebih bijaksana dalam menyikapi hal ini.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 16, 2012 in Kajian Islam

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: